Rabu,30 Nov 2016 20:00 WIB

Penulis: Rahmat Hirnomo

TUNING - guide

Serat Karbon Untuk Fashion

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

  • Foto: Rahmat Hirnomo

    All About Carbon Fiber

Penggunaan motif karbon telah menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk melakukan dress up pada kendaraan. Sejatinya kemunculan serat karbon di dunia awalnya adalah untuk kepentingan industri. Seiring perkembangan zaman, dunia otomotif pun mulai mengaplikasikannya.

Dunia balap menjadi referensi untuk memanfaatkan kelebihan serat karbon. Tujuannya adalah reduksi bobot yang signifikan untuk menghasilkan performa maksimal. Sifat carbon fiber yang kokoh dan kuat namun ringan adalah poin penting yang menjadi nilai jualnya.

Kini penggunaan serat karbon tak lagi terbatas pada kompetisi saja, sebab motifnya yang berbentuk anyaman memiliki keindahan sehingga fungsinya kemudian digiring ke arah fashion. Selain itu, harga jualnya yang masih tergolong tinggi mengangkat nilainya sebagai salah satu material aksesori berkelas.
Jika diperhatikan pemasangan panel karbon pada tuning atau dress up mobil umumnya ada yang memang mempertimbangkan fungsinya untuk mengurangi bobot, namun ada juga yang hanya mengedepankan sisi fashion saja.

Untuk keperluan balap, kap mesin, fender, dan tutup bagasi adalah panel bodi yang paling sering diganti dengan carbon fiber. Penggantian ini berefek pada pengurangan bobot yang signifikan – bisa mencapai 50 persen dari berat komponen aslinya. Tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap performa.
Sementara dari sisi fashion dapat dilihat penggunaan panel serat karbon pada panel-panel kecil sebagai aksesori. Misalnya panel pada lubang ventilasi AC, head unit di dasbor, door trim, hendel pintu, dan lain-lain.

“Di dunia industri serat karbon termasuk dalam golongan fiber, hanya saja memiliki kelebihan terutama dari sisi kekuatan dan bobot yang lebih ringan jika diaplikasikan. Karakternya kuat jika mendapat tekanan tegak lurus, nyaris menyamai kekuatan baja. Namun kelemahannya, tidak dapat menerima twist atau puntiran, tidak seperti plastik yang lentur dan fleksibel jika diputar,” jelas Steven Piponk, jebolan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang kini membuka workshop spesialis serat karbon, Aeromotive Industry di Bandung.

Aplikasinya bisa tunggal artinya murni serat karbon saja atau dikombinasi dengan material serat lainnya, seperti fiberglass. Karena peruntukannya yang mulai bergeser ke sisi fashion, motif serat karbon yang beredar pun menjadi lebih bervariasi. Jenis anyaman model baru tampak lebih renggang sehingga masih jelas terlihat motifnya jika dilihat dari jauh.

Berbeda dari motif lama yang umumnya memiliki anyaman lebih rapat, sehingga tidak terlalu kontras jika dilihat dari jarak agak jauh. Untuk warna produk berbahan serat karbon sendiri kini banyak pilihannya, tidak lagi monoton di warna hitam saja karena sudah dikombinasikan dengan material serat lainnya.

 
PEMBUATAN

Serat karbon sendiri tidak lain hanya berbentuk lembaran-lembaran ‘kain’ dengan rongga yang agak jarang. Untuk membuatnya menjadi kokoh hanya dengan melekatkannya menggunakan bahan kimia resin. Terdapat dua metode untuk mengolahnya, ada yang disebut wet carbon dan ada juga yang dikenal dengan istilah dry carbon.

Wet carbon adalah cara konvensional yang umumnya dilakukan manual dengan kuas. Di mana lembaran karbon diolesi resin menggunakan kuas hingga terserap merata dan menutup lembaran karbon.

Sementara dry carbon diproses dengan menggunakan mesin vakum khusus yang berfungsi menyedot udara dan kelebihan bahan resin yang digunakan. Metode dry carbon ini merupakan yang paling baik karena hasil akhirnya lebih merata, baik dari segi ukuran, ketebalan, detail. Mengingat proses produksinya yang lebih rumit, tentu saja metode ini memiliki harga yang lebih tinggi.

Seperti yang diutarakan di atas, aplikasinya bisa murni hanya dari serat karbon saja atau dicampur dengan material serat lainnya. Pada umumnya jika hanya menggunakan serat karbon untuk panel-panel kecil, dibuat minimal tiga lapis serat karbon hingga jumlah yang tidak dibatasi, tergantung kebutuhannya.

Kelebihan jika seluruhnya menggunakan serat karbon adalah ketebalannya yang lebih tipis dan detail lebih baik. Namun ini harus ditebus dengan harga lebih tinggi. Misalnya untuk panel tuas transmisi VW Scirocco berukuran 15 cm x 10 cm Anda perlu siapkan dana Rp 600 ribu. Agar tidak terlalu menyedot dana biasanya pembuatan panel diakali dengan memanfaatkan fiberglass yang nantinya dibungkus dengan carbon fiber.

Detail lekukan dan tingkat kerumitan desain sangat berbengaruh pada harga pembuatannya. Untuk desain biasa dan tidak banyak lekukan seperti kap mesin Honda Brio, angka Rp 3 juta menjadi patokan standar yang umum. “Tentu saja harganya berbeda jika konsumen ingin dibuat custom. Misalnya ada lekukan dan detail lain,” tambah Piponk. “Yang pasti hasilnya sangat dipengaruhi cetakan. Kalau cetakannya baik maka pasti hasilnya juga akan detail.”

Untuk finishing bisa dipilih sesuai selera, apakah dengan lapisan vernis, dipoles atau dibuat dof alias matte. Masing-masing finishing memiliki karakter sendiri.

Jika diperhatikan antara hasil polesan dan dilapis vernis terdapat kemiripan karena sama-sama mengilap. Bedanya adalah pada saat awal dan jangka panjang, panel karbon yang ditutup vernish jauh lebih bening seperti berada di dalam kaca saat baru jadi, namun akan cenderung lebih cepat kusam dan berubah warna menjadi kuning jika kurang dirawat.


PERAWATAN

Perawatan untuk panel serat karbon nyaris sama seperti cat pada bodi mobil. Obat poles bodi, penghilang jamur, dan sampo untuk perawatan cat juga bisa dimanfaatkan untuk panel carbon fiber. “Musuh serat karbon cuma satu, yaitu panas. Kalau terlalu sering kena panas, warnanya akan kusam dan menguning,” ungkap Alvin dari workshop Hybrid Autoconcept, Bandung.  

Panel karbon memang lebih peka dan sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama jika panas. Jamur pun mudah menempel jika air hujan tidak segera dibersihkan. Bahan baku serat karbon memang berpengaruh juga terhadap ketahanannya, namun rata-rata umur panel karbon bisa mencapai 3 tahun hingga terlihat kusam.

Penggunaan kompon juga perlu dipertimbangkan dengan cermat, terutama pada finishing yang dilapisi vernis. Sebab penggunaan kompon yang terlalu sering justru akan membuat lapisan vernis terpapas. Parahnya lapisan karbon malah bisa jadi belang dan tidak lagi cantik.


PERBAIKAN

Untuk panel karbon yang kusam dan berubah warna menjadi kuning karena sering tertimpa panas bisa kembali menjadi mulus. Workshop yang menggarap panel-panel karbon biasanya menyediakan jasa servis untuk memoles ulang atau melapisi ulang.

Untuk cacat pada panel karbon bisa juga dilakukan dengan kondisi tertentu, “selama bukan seratnya yang rusak masih bisa diperbaiki. Jadi bagian yang cacat akan ditutup ulang dengan resin, lalu di-finishing ulang agar kembali mulus,” terang Piponk.

Workshop
Aeromotive Industry
Jl. Kopo No.100
Bandung
Telp. 081910400305

Hybrid Autoconcept
Jl. Peta No.97
Bandung
Telp. 081321451377

 

EDITOR

andy

Top