Jumat,21 Okt 2016 10:06 WIB

Penulis: Risson Ramadhani

CAR - test drive

Suzuki Sx4 S-Cross: Era Baru Pelopor Crossover

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

  • Foto: Artha/CTG

    Suzuki SX-4 S-Cross

Reborn. Bisa jadi itu kata yang tepat untuk menggambarkan kehadiran kembali Suzuki SX4. Flashback, untuk pertama kalinya crossover ini diperkenalkan di Geneva Motor Show 2006. Diproduksi pertama kali di Magyar Suzuki Esztergom Hungaria, Jepang, dan Manesar India. SX4 menggunakan basis mesin yang sama dengan Swift 1.500 cc. 

Merasa desain dan fungsinya terlihat cocok untuk kondisi jalan di Indonesia, Suzuki Indonesia yang saat itu masih bernama PT Indomobil Niaga International (IMNI), mulai mengenalkan desain ‘uniknya’ ke publik pada 2007. 

Saat itu, hatchback yang (bisa dikatakan) menjadi pionir segmen crossover di Indonesia, didatangkan secara utuh dari Jepang alias Completely Built Up (CBU). Oh ya, selain untuk mengisi segmen baru (crossover), SX4 juga dipersiapkan untuk menggantikan Suzuki Aerio (hatchback) dan Neo Baleno I (sedan). 

Selang satu tahun kemudian, PT IMNI makin percaya diri dengan performa penjualannya, ia mulai dirakit di Indonesia atau Completely Knock Down (CKD). Walaupun berformat CKD, tapi bukan berarti spesifikasi mengalami penurunan. 

Justru versi rakitan Indonesia ini punya fitur yang lebih baik ketimbang versi CBU-nya. Seperti rem cakram yang sudah terlihat ada di balik keempat roda. Head unit yang sudah terintegrasi dengan dasbor, dan banyak fitur kenyamanan lainnya. 

Bersamaan dengan itu, dirakit dan diperkenalkan juga SX4 versi sedan yang dinamakan Neo Baleno II, dengan desain dan fitur yang serupa dengan versi crossover. Namun pada perkembangannya, Suzuki Indonesia menghentikan produksi versi sedan ini karena modelnya kurang bisa diterima oleh pasar Indonesia.  

Sempat juga muncul varian dengan spesifikasi yang lebih rendah ketimbang SX4, yang diberi nama Crossroad untuk memperluas pasar. Tapi varian ini juga harus ‘menyerah’ oleh karakter konsumen Indonesia, yang kurang tertarik dengan varian-varian spec down. Hingga 2012, SX4 sendiri sudah mengalami dua kali facelift, tanpa melakukan model change. 

Selang empat tahun kemudian, akhirnya PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menghadirkan kembali SX4. Bukan facelift, tapi totally model change. Nama lengkap di ‘akte kelahiran’nya adalah SX4 S-Cross Walaupun masih terlihat ada nuansa ala SX4 generasi sebelumnya (hatchback dengan bonnet panjang), penampilannya kini lebih dewasa dan modern. 

Sekadar mengingatkan, S-Cross tampak tak ada bedanya dari versi yang diluncurkan di India. Karakter crossover-nya ditunjukkan melalui balutan bahan plastik bercorak kulit jeruk di sekujur bodi bagian bawah. Mulai dari bumper depan, fender, pintu samping, hingga ke buritan. 

Menguatkan aura sporty, model baru ini dimensinya lebih panjang 185 mm, dan wheelbase-nya bertambah 100 mm, sementara lebarnya juga bertambah 35 mm. Crossover yang menjadi rival Nissan Juke, Chevrolet Trax, dan Honda HR-V ini diberi tambahan aksen silver di beberapa bagian. Hal serupa juga coba dituangkan pada roof rail yang kini rata dengan atap. 

Sedikit mengejutkan ketika melihat interiornya, kabinnya terlihat lebih modern. Walaupun agak janggal melihat sistem pengoperasian AC-nya yang menggunakan dua macam tombol. Tombol model tekan, dan model putar. Head unit-nya juga sudah model 2DIN dibalut cover beraksen piano black. 

Cukup mengejutkan melihat desain lingkar kemudinya. Karena sepintas desainnya mirip dengan Nissan GT-R R35. Pada bagian ini banyak disematkan tombol pengontrol dan fungsi. Seperti kontrol sistem audio, cruise control, dan tombol untuk menerima panggilan telepon. Selain itu, di balik lingkar kemudinya terdapat paddleshift. 

Posisi duduk mengemudinya tinggi, padahal tuas pengatur ketinggian jok berada di posisi paling rendah. Mungkin memang didesain seperti itu, agar visibilitas leluasa dan kesan ‘commanding-nya’ makin terasa. Posisi pilar A yang yang terasa cukup mengganggu pada model sebelumnya, kini kesan tersebut sudah tidak dirasakan. 

Saat menekan tombol engine Start/Stop sambil menginjak pedal rem, suara mesinnya terdengar halus. Saat menggeser tuas transmisi dari posisi P ke D, sering kali tuas malah tergeser ke posisi M (semi-manual). Jadi, pastikan Anda tidak terlalu bersemangat saat menggeser tuas persneling. Sayangnya saat tuas digeser ke posisi R, dari display head unit tidak terpapar kondisi di belakang mobil. Seharusnya, mobil sepertinya sudah dilengkapi dengan rear view camera. 

Tenaga awalnya cukup halus, percepatannya makin responsif seiring dengan semakin dalamnya injakan pada pedal akselerasi. Wheelbase-nya yang lebih panjang ketimbang generasi sebelumnya, membuatnya terasa lebih stabil. Putaran lingkar kemudinya pun cukup sensitif dan akurat. 

Saat melakukan akselerasi ala drag race dari kondisi diam hingga kecepatan 100 km/jam, ia mampu membukukan waktu 13,2 detik. Hanya selisih 0,2 detik dari klaim pabrikan yang 13 detik untuk 0-100 km/jam. Itu karena terjadi sedikit gejala roda depan kehilangan traksi, karena permukaan jalan agak basah dan berpasir. Akselerasi pertengahannya pun cukup impresif. Cocok untuk penggunaan stop and go dalam kota. 

Konsumsi bahan bakarnya pun bisa dikatakan moderat, sesuai dengan kapasitas mesinnya. Untuk penggunaan normal dalam kota, ia mampu mencatatkan angka 9,8 km/liter. Dengan catatan, itu bukan dalam kondisi macet parah, tapi macet ala Ibukota Jakarta. Bukan macet saat hari Jumat sore, kondisi hujan, dan long weekend. Karena bisa dipastikan konsumsi bahan bakarnya akan lebih dari itu. 

Ia cukup nyaman dikemudikan cruising di jalan bebas hambatan. Sekali lagi terima kasih kepada melarnya wheelbase. Karena ia akan tetap berada pada lajurnya, tanpa pengemudi terlalu sering mengoreksi arah lingkar kemudi. Pada kondisi ini, ia sanggup membukukan angka konsumsi bahan bakar sebesar 13,7 km/liter. 

Desainnya memang lebih dewasa. Lebih cocok buat komuter dalam kota ketimbang, ‘bermain-main’ di kebun atau pedesaan. Sorry to say, fitur yang diterapkan padanya, sepertinya kurang sesuai dengan harga Rp 259,9 juta. Walau begitu, ia cukup bisa diandalkan untuk digunakan sebagai daily use commuter, atau berlibur di daerah pegunungan. 


SPESIFIKASI 

APM PT Suzuki Indomobil Sales 
MODEL SX4 S-Cross A/T 
HARGA Rp 259,9 juta
MESIN:  
Tipe M15A 4-inline DOHC VVT
Kapasitas 1.491 cc
Jumlah katup 16
Tenaga (PS/RPM) 109/6.000  
Torsi (Nm/RPM) 138/4.400 
DIMENSI (MM):  
PxLxT 4.300 x 1.765 x 1.590 
Wheelbase  2.600 
TRANSMISI:   
Tipe  Otomatis 6-speed, FWD 
REM:   
Depan   Ventilated disc
Belakang Disc 
SUSPENSI:   
Depan  MacPherson strut with coil spring 
Belakang Torsion beam with coil spring
BAN:  
Ukuran   Alloy wheel, 205/60R16

     
DATA TES 
SX4 S-Cross

0-60 km/jam 5,5 detik
0-100 km/jam 13,2 detik
20-40 km/jam 2 detik
40-80 km/jam  5 detik
80-100 km/jam 4,2 detik
Konsumsi BBM Tol 13,7 km/liter
Konsumsi BBM Dalam Kota 9,8 km/liter

 

 

EDITOR

andy

TERPOPULER

Top