Selasa,8 Des 2015 12:15 WIB

Penulis: erie

Penjualan Mobil Baru

Diskon, Kunci Penjualan Mobil Baru Tahun 2015

Foto: Salim

KIA Sportage bermesin diesel, salah satu produk andalan PT KMI

Jakarta- Kondisi ekonomi Tanah Air saat ini memang sedang tidak bersahabat bagi industri dalam negeri, tidak terkecuali bisnis otomotif.

Target penjualan dari gabungan industri kendaraan bermotor (Gaikindo) yang setelah direvisi menjadi 950 ribu sampai 1 juta pun akan sulit terealisasikan jika daya beli masyarakat belum menunjukan tren positif.

Berbekal sisa waktu satu bulan hingga 2015 berakhir, penjualan mobil nasional hingga Oktober secara wholesales (pabrik ke dealer) hanya menyentuh angka 853.292 unit, jauh di bawah pencapaian periode yang sama pada tahun lalu sebesar 1.037.890 unit.

Meskipun diprediksi tidak akan ada penumpukan stok di pipa, namun melihat masih tingginya produksi dari beberapa produsen besar otomotif Tanah Air.

Tidak menutup kemungkinan, para tenaga penjual atau dealer akan berusaha untuk menghabiskan stok dengan cara cuci gudang jelang tutup tahun.

Hal itu diakui oleh Presiden Direktur PT KIA Mobil Indonesia, Hartanto Sukmono, dengan kondisi pasar yang bergerak lamban dan tidak adanya kompromi dari 'juara-juara volume maker' dengan produksi yang tinggi karena kapasitas yang juga besar maka sesuatu hal yang tidak masuk akal bisa terjadi.

"Sekarang jualan mobil diskonnya bisa sampai, katakan puluhan persen. Seumur-umur tidak ada jualan mobil sampai puluhan persen dan sekarang benar-benar terjadi. Akibatnya tentu kompetisi semakin gila-gilaan," jelas Hartanto Sukmono.

Jika dilihat dari diskon besar yang ditawarkan beberapa produsen, wajar rasanya jika tahun ini hanya menyisahkan satu bulan.

Pasalnya, dengan berganti tahun maka stok mobil tahun ini harus habis. Jika tidak, tahun depan pemberian diskon yang lebih besar akan lebih dimungkinkan. Tentu saja itu  akan berdampak pada resale value akibat terteranya VIN (Vehicle Identification Number) yang dianggap calon pembeli sudah mundur setahun.

Kondisi yang dilematis itu akhirnya memang dihadapi dengan pemberian diskon. Meskipun hal ini merupakan kebijakan yang diserahkan ke pihak dealer.

Hartanto kembali menyebutkan bahwa pihak APM juga menyadari soal ini. "Kita melihat bahwa karakter masyarakat sudah berubah. Dulu, saat orang ingin membeli mobil pilih produk yang baik dan berkualitas. Namun, melihat sekarang orang berpikir diskon berapa?," urai pria ramah ini.

Namun, ia yakin kalau kondisi seperti tahun ini tidak diharapkan oleh para pemain otomotif nasional.

Jika tahun depan kondisi industri otomotif dalam negeri masih belum stabil, maka hal tersebut akan mempengaruhi peta jalan industri otomotif yang menargetkan penjualan domestik sebesar 1,9 juta unit, dan produksi lokal hingga 2,5 juta unit pada 2020.

Arief (Otomotifnet.com)

EDITOR

erie

Top