Kamis,12 Mei 2016 12:00 WIB

Penulis: Otomotifnet

Pabrik Perakitan PT Gaya Motor Lakukan Efisiensi Agar Tidak Merugi

Foto: Ferdi

Warehouse PT Gaya Motor Sunter

PT Gaya Motor menyatakan siap menampung semua permintaan konsumen. Apalagi didukung peraturan pemerintah saat ini yang pro dengan asembling lokal.

Menurut Presiden Direktur PT Gaya Motor, Ary Mariano, justru peraturan pemerintah tersebut merupakan peluang untuk Gaya Motor.

"Itu menurut saya. Peluang untuk Gaya Motor menangkap hal itu, karena Gaya Motor siap dengan kualitas yang less sampai (yang top). Kedua, kita siap dari volume yang kecil sampai yang gede" ujar Ary di PT Gaya Motor, Sunter, Jakarta (11/5).

Seperti yang sudah dijelaskan dalam Peraturan Menteri (Permen) Perindustrian Republik Indonesia tentang industri kendaraan roda empat atau lebih dan industri sepeda motor, bahwa perusahaan industri kendaraan bermotor wajib menjalankan proses manufaktur, pengujian, serta pengendalian mutu di Indonesia.

Sayangnya, Permen yang pro lokalisasi itu tidak dibarengi dengan keadaan industri otomotif yang baik.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa industri otomotif Indonesia sedang menurun. Keadaan ini berdampak pada kapasitas produksi Gaya Motor yang ikut menurun karena permintaan konsumen juga menurun.

"Kapasitas produksi kita setahun bisa sampai 40 ribu. Sebenarnya dari dulu seperti itu. Tetapi, karena volume penjualan turun jadi kita kena dampak," ungkap Ary.

Jadi, mau tidak mau perusahaan yang berdiri pada tahun 1969 ini harus mengatur kapasitas dan biaya produksi mereka demi efisiensi dan sesuai dengan keadaan industri sekarang.

"Seperti BMW, sebenarnya kita bisa (produksi) di atas 12 (per shift), tapi sekarang kita tetapkan 12. Lalu Isuzu, sekarang kita tetapkan 2000 sebulan. Kalau dulu dengan tempat yang sama bisa lebih dari 2000," lanjutannya.

Setelah itu, strategi lainnya adalah meminimalisirkan sistem kerja lembur dan shift. "Biasanya 2 shift. Itu salah satu contoh kita melakukan efisiensi. Kalau enggak rugi kita. Kita rugi customer juga rugi," beber Ary.

Pengurangan sistem kerja lembur dan shift yang dilakukan Gaya Motor otomatis mengakibatkan pengurangan karyawan. Tetapi, Ary mengklaim jumlah pengurangannya tidak mencapai seratus orang. Sebagai informasi, saat ini Gaya Motor memiliki 650 karyawan.

"Dampaknya adalah, jika kita masih berpikir seperti pola pikir yang lama, kita pasti ditinggal dong sama customer kita. Misalnya dulu produksi tinggi kita pakai orang 1000, sekarang dengan volume kecil kita pakai 1000, ya gak mau," kata Ary. (otomotifnet.com/Ferdi)

EDITOR

Haryadi Hidayat

Top