Minggu,23 Okt 2016 14:22 WIB

Penulis: otomotifnet

Modifikasi All New Honda Jazz RS M/T 2015

  • Foto: TYO/otomotifnet

    “Pelek itu ibaratnya pondasi, jadi harus ditentukan terlebih dahulu apa yang dipasang,” terang Ping.

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Bagian dalam fender belakang harus dicoak lebih kurang 10 cm

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Pemasangan intercooler, sudah membuat orang yang paham modifikasi tahu bahwa di balik engine bonnet carbon ada turbonya

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Jok racing-nya dari depan sampai belakang

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Semua indikator adanya di bawah bagasi

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Semua carbon garapan R.v.S

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Tangki NOS dipasang juga di kabin belakang

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Engine bonnet motorized ke depan

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Hasil modifikasi dari R.v.S yang dinilai Ping berkualitas

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Body kit garapan R.v.S dijamin rapi

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Pemasangan audio sistem cukup di bagasi saja

Total waktu hampir setahun dipakai untuk mempersiapkan modifikasi dengan target King

Surabaya - Niat arek Suroboyo ini untuk melakukan modifikasi pol-polan cuman 1. “Ingin jadi King di ajang Honda Jazz Brio Tunning Contest 2016,” tegas Denny ‘Ping’ Kristanto, pemilik Honda Jazz RS keluaran 2015. Baginya, buat apa mengeluarkan biaya yang besar dan enggak buat mengejar gelar tertinggi. Apa yang jadi niat, memang kesampaian. Dari hari pertama kontes mulai digelar, sudah banyak yang memperkirakan gelar tertinggi di kelas Jazz akan digenggam Ping.

Dari 12 kelas penjurian, hampir semua piala dibawa pulang ke Surabaya. Hanya Best Pain & Airbrush Design dan Cutting Sticker Design yang enggak dimenangkan. “Padahal awal mulanya yang dimodifikasi kecil-kecilan saja,” kenang Ping. oct/otomotifnet.com

Pelek

Bagian ini yang harus dipenuhi terlebih dahulu, sebelum melakukan ubahan sesuai dengan konsep street racing yang dimau oleh si empunya. “Pelek itu ibaratnya pondasi, jadi harus ditentukan terlebih dahulu apa yang dipasang,” terang Ping. Enggak mau nanggung, pelek diimpor langsung dari Jepang dan barang yang dipesan merupakan special edition. Lebih kurang 1 bulan lamanya menunggu pelek tersebut sampai Surabaya. Aplikasi pelek yang memiliki lebar 9,5 inci di depan dan belakang 10,5 inci, dikombinasikan big brake kit. Spesifikasi yang dipakai 8 piston dengan cakram berdiamter 380 mm (depan) dan 6 piston dengan cakram 330 mm (belakang).

 Kaki-Kaki

Dipakai untuk kontes dan juga harian, maka Ping memilih menggunakan sistem suspensi udara. Penggunaan pelek lebar, membuat penggunaan air sus butuh pengorbanan. Bagian dalam fender belakang harus dicoak lebih kurang 10 cm. Sementara untuk sisi depannya, dibuatkan dalaman fender dari bahan fiberglass. “Penyesuaian ini, bodi Jazz bisa turun maksimal dengan tekanan udara 0 psi,” ujar Ronny dari workshop R.v.S di Surabaya.
 
Body Kit & Wide Body

Hasil modifikasi dari R.v.S yang dinilai Ping berkualitas, mengantarkan perkenalanannya dengan Ronny. “Liat saja hasilnya, detail dan rapi,” bangga Ping. Aura street racing yang ditampilkan Ronny, dengan membuat fender bergaya Rocket Bunny. Setelah terpasang dan finishing, sepertinya mudah mengaplikasi model ini.

“Jadi yang terlihat saat ini, melalui beberapa kali proses bongkar pasang,” jelas pria berbadan tinggi langsing itu. Sebab, desain awalnya dinilai kurang proporsional. Dulu, bagian belakang terlihat terlalu semok. Akhirnya dilakukan desain ulang, dari yang bergaris lurus jadi sedikit lebih melengkung.  
 

Interior

Sepertinya Ping ingin memamerkan apa yang dipasang pada kabin Jazz miliknya. Itu terlihat dari pemasangan roll-bar custom yang disiram dengan kelir candy green.
Tak ketinggalan, aksen carbon dipakai untuk menguatkan kosep ubahan yang ingin ditampilkan.  
 
Jok

Sudah biasa, ubahan konsep street racing pakainya jok depan bergaya balap plus safey belt 4 titik. Sedangkan di belakang, bisa dibiarkan kosong atau diisi dengan seabrek perangkat pendukung audio system. Tapi Jazz yang dinobatkan jadi King ini, jok racing-nya dari depan sampai belakang. “Bagaimana, ciamik kan (keren)?,” canda Ping.

Ada alasan tersendiri perihal penggunaan 4 jok racing tersebut. Oleh karena tetap digunakan sebagai kendaraan harian, maka harus juga bisa dipakai untuk mengangkut 4 orang penumpang.
“Kasihan kalau ada teman yang enggak bawa kendaraan dan mau nebeng,” kilah pria berkacamata ini.
 
Audio

Meski ingin mengejar gelar tertinggi, namun pemasangan audio sistem cukup di bagasi saja. R.v.S yang juga kebagian urusan audio, mendesain boksnya agar bisa dipasang perangkat yang terdiri dari 2 perangkat speaker 2-way, subwoofer 12 inci 2 unit. Selain itu juga harus ditempatkan Power 4 channel dan 2 channel yang masing-masing 2 pieces, itu semua di belakang. Depannya hanya sepasang speaker 3-way.
 
Mesin

Pemasangan intercooler, sudah membuat orang yang paham modifikasi tahu bahwa di balik engine bonnet carbon ada turbonya. Tanpa basa-basi, ini jadi pemikat juri untuk memberikan nilai maksimal. Proses buka tutupnya sudah menggunakan sistem motorized. Dengan alasan biar keren, bukanya dibuat mengarah ke depan.
 
Data Modifikasi:

Eksterior: Repaint Sikkens, Sunroof webasto, Motorized engine hood, wide body by R.v.S, body kit by R.v.S, carbon by R.v.S, gullwing
Interior: Bride Cuga Carbon (front & rear), roll-bar, indikator Defi, tachometer Defi, tabung NOS, seatbelt Takata 4 point, retrim plafon, repaint black pillar (a, b, c)
Audio: Speaker 2-way & 3-way Cubig, power Cubig 4 & 2 channel, subwoofer Cubig 12 inci, monitor 7 inci
Mesin: Custom Turbo kit by Tune-R, open filter HKS, oil catch tank D1-spec, Pivot Raizin volt stabilizer, custom strutbar by R.v.S (4 point), blow Off HKS, carbon Engine Cover, Dastek Q4
Kaki-kaki: D2 Air suspension 2 point, pelek Work Meister MGM colour (9,5-10,5 inci), Altech big brake kits 8 pot 380 mm (depan), Altech big brake kits 6 pot 330 mm (belakang), Ultra racing (front lower, middle lower, rear lower, rear anti-roll, custom full exhaust by Tune-R

Plus: Pelek dan custom wide body bikin tampilan Jazz lebih garang
Minus: Lug nut kurang sesuai dengan konsep yang dibangun

EDITOR

Bagja

Top