Sabtu,27 Agust 2016 12:10 WIB

Penulis: otomotifnet

Modifikasi All New Yaris M/T 2015, Riset Dulu Setelah 8 Tahun Vakum

  • Foto: tyo

    Spoiler karbon adjustable menciptakan efek aerodinamis

  • Foto: tyo

    Mesin terpaksa pakai yang standar, setelah terjadi masalah saat latihan

  • Foto: tyo

    Sokbreker Reiger kestabilannya yang sangat bisa diandalkan dibanding merek lain, hanya karena tabungnya terpisah, jadi bikin dudukan sendiri

  • Foto: tyo

    ECU dicangkok piggyback Dastek Unichip, putaran atas enggak lagi ngedrop

  • Foto: tyo

    Ini instrumen di dasbor yang diperbolehkan dipasang dan sesuai aturan

  • Foto: tyo

    Tim TTI siap bikin berita balap ITCC lebih berwarna

  • Foto: tyo

    Target minimal 180 dk

Di kelas 1.600 Max, All New Yaris menemukan wadah untuk unjuk performa

Jakarta - Belum maksimal, itu kata yang tepat untuk menggambarkan All New Toyota Yaris besutan pembalap Haridarma Manoppo. Meski demikian, pembalap Toyota Team Indonesia (TTI) itu dari kualifikasi sampai balapan mampu menunjukan performa terbaik. “Saat kualifikasi bisa ada di urutan ke-3,” kata pembalap yang pada race day bisa jadi runner up di bawah Alvin Bahar, pengguna Honda Jazz.

Catatan waktu saat race day di kelas Indonesian Touring Car Champhionship (ITCC) 1.600 Max antara ke-2 pembalap itu hanya beda 1,6 detik. Hal tersebut bisa dibilang cukup baik, mengingat ini kali pertama TTI dengan All New Yaris turun di balap turing. Sejarahnya, team yang dimotori oleh Memet Djumhana itu terakhir menyentuh aspal Sirkuit Sentul di balap turing pada 8 tahun silam. Selama itu pula, kiprah TTI adanya di balap slalom.

“Tahun pertama terjun lagi di balap turing, enggak ada target. TTI hanya melakukan development, untuk persiapan balapan di tahun-tahun berikutnya,” ucap Memet. Lebih lanjut pria ramah ini bilang, semuanya butuh proses dan dari yang sekarang baru 60% pda seri 4 Indonesian Sentul Series of Motorsport, diharapkan pada seri ke-6 sudah mendekati 100%. * oct
 
Mesin

Di aturan balap kelas 1.600 Max, mesin yang digunakan mesti asli bawaan kendaraan yang dipasarkan di Tanah Air. Namun dengan modal kapasitas yang hanya 1.500 cc, All New Yaris diperbolehkan upgrade, asal tidak melebihi 1.600 cc. Juga dijelaskan bahwa komponen di dalam kepala silinder boleh diganti. Tapi tidak boleh menggunakan spare part berbahan titanium.

Mengacu pada aturan di kelas tersebut, maka Anton Hudijana memasukan part racing di bagian kepala silinder. “Noken as pakai spesifikasi street racing dengan profil tinggi, piston kompresi tinggi, final gear dan LS. Saat latihan, mesin malah ada masalah,” ucap tuner dari Asco Motorsport di Jl. Pegangsaan Dua, Jakut.

Dari rencana awal yang sudah serba siap untuk balapan, berubah karena ada kendala tersebut. Oleh karena esok harinya sudah mulai sesi kualifikasi, maka diambil jalan pintas. Caranya dengan memasukkan mesin standar Yaris, menggantikan yang terkendala bagian metal setelah penggunaan part racing. “Mesin standar tersebut akhirnya hanya dipasang noken as street racing yang profilnya enggak terlalu tinggi, final gear dan LS saja,” aku Anton.

Penggantian yang dadakan tersebut, enggak bikin Haridarma ciut nyali. Dengan gaya bercandanya, bapak satu anak itu merasa beruntung besutannya bisa menyelesaikan babak kualifikasi.

Kaki-Kaki

Selain bagian mesin, bagian kaki-kaki juga hasil setingan Anton. Data dari setingan tersebut, jadi bahan masukan buat tim Toyota Racing Development (TRD) untuk meracik suspensi yang sesuai. “Saat ini masih pakai sokbreker balap dari Reiger. Ke depannya, hasil development dari TRD yang akan kita pakai,” jelas Anton.

Sebagai pembalap master, Haridarma memang sangat mampu untuk menyeting suspensi. Digabungkan dengan performa dari Reiger, membuat All New Yaris bisa stabil digeber hingga 12 lap. Soal pemasangan, sudah barang tentu mengikuti dudukan yang sudah ada dan memang itu masuk di dalam aturan teknis kelas tersebut.
   
ECU

Bawaan pabrik dicangkok dengan Dastek Unichip Q4. Setingannya sudah barang tentu enggak langsung ketemu. Haridarma merasakan masih kurang maksimal saat mesin meraung di putaran atas. “Rasanya seperti ada limiter-nya. Tapi itu pada saat awal latihan saja. Selanjutnya di sesi kualifikasi, hal tersebut sudah mulai bisa teratasi,” jelasnya

Setingan yang akhirnya sudh bisa didapat itu, sudah barang tentu ujung dari pengumpulan data selama latihan. Soal bagaimana setingannya, dengan santai Anton bilang rahasia dapur.
 
TRD

TTI memiliki komitmen tinggi untuk turun kembali di Sirkuit Sentul. Itu terlihat dengan adanya tim dari TRD yang memang spesialisnya di balap. Namun penggunaan mesin kendaraan harian untuk balap, mau tidak mau bikin TRD harus putar otak. “Kalau membangun mesin khusus untuk balap, TRD enggak usah diragukan lagi.

Tapi dari mesin standar jadi racing, mereka butuh banyak mengumpulkan data,” papar Dimitri Fitra Ditama, Manajer Operasional TTI. Jadi semua setingan mesin, susupensi dan lainnya datanya dikumpulkan dan kemudian dari situ TRD melakukan pengembangan. Hasil dari pengembangan tersebut dikembalikan ke TTI untuk dipakai balap tahun-tahun berikutnya. Enggak menutup kemungkinan, dengan cara ini maka akan makin banyak part racing untuk balap turing. Jadi ramai deh kelas 1.600 max.  
 
Target minimal 180 dk

Mau tahu berapa tenaga maksimum All New Yaris tunggangan Haridarma? Menurut Anton, saat ini performa kendaraan tersebut baru mencapai 150-an dk. Dengan angka tersebut, enggak mengherankan kalau Haridarma masih di belakang Alvin. “Performa maksimal All New Yaris TTI harus berada di angka lebih dari 180 dk. Kalau hanya sampai 180 dk saja, itu baru hanya bisa menguntit Alvin,” jelas Anton. Angka performa tertinggi yang jadi pekerjaan rumah pria bertubuh langsing itu bukan angka mistis atau mengada-ada. Kabarnya angka tersebut merupakan performa puncak yang bisa dihasilkan oleh Jazz tunggangan Alvin.

Data Modifikasi
Ban: GT Radial Champiro 195/50R15
Pelek: Enkei 15 inci
Sokbreker: Reiger
Knalpot: Custom
Noken As: Street Racing
Piggyback: Dastek Unichip Q4
Rollbar: Custom
Jok: TRD
Kemudi: OMP
Strutbar: TRD
Safety Belt: Sparco
Spoiler: Karbon

Plus: suspensi Reiger tetap stabil diajak kerja keras di balapan
Minus: Setingan mesin masih belum optimal

EDITOR

Bagja

Top