Selasa,26 Jan 2016 09:30 WIB

Penulis: Bagja

Bukan Pasar Penting, Ini Gaya Baru Jualan Ford di Indonesia

Foto: Ilustrasi

Sejauh ini diindikasikan hanya APM FMI yang bubar, merek Ford sendiri akan terus berkiprah di Tanah Air

Jakarta - Penutupan Ford Motor Indonesia (FMI) oleh Ford Motor Co bisa jadi bukan karena FMI merugi--hanya tidak menguntungkan. Lebih tepatnya, dengan skema bisnis FMI saat ini, tidak efisien untuk pasar Indonesia yang dianggap tidak terlalu penting oleh Ford Motor Co.

Jadi, penutupan operasi Ford di Indonesia dan Jepang misalnya, terjadi bukan karena Ford merugi. Tidak dapat bersaing? Iya, karena secara kerja organisasinya juga dianggap terlalu memberatkan, yang berefek pada revenue perusahaan yang cenderung tidak tumbuh.

FMI tidak merugi, sekali lagi hanya tidak efisien yang dianggap haram oleh Amerika yang punya model bisnis sangat ketat. Secara matematis ekonomis pun, mana mungkin FMI merugi. Bisa kita ambil gambaran kondisi FMI sejauh ini.

Dengan total karyawan seperti disebutkan Reuters hanya berjumlah 35 orang, tentu ini sebuah organisasi yang ramping untuk model pengelolaan Agen Pemegang Merek (APM). Namun, masih juga dianggap terlalu boros oleh Amerika.

FMI juga tanpa investasi apapun dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia. Jaringan dealer-dealernya yang tersebar di seluruh Indonesia pun, bermitra dengan pengusaha lokal. 

Satu lagi, selama ini FMI memasarkan mobil-mobil di Indonesia dengan cara mengimpor dari Thailand. Langkah ini memanfaatkan program ASEAN Free Trade Area (AFTA), sehingga dalam proses impor mobil tidak dikenakan Bea Masuk alias nol persen. 

Lalu dimana ruginya? Ya memang tidak rugi, hanya tidak efisien. Dan mengingat Indonesia bukan pasar penting bagi Ford Motor Co, penutupan FMI menjadi logis menurut cara berfikir bisnis Amerika yang selalu mengedepankan profit berlebih. Sebab, kalau cuma tidak merugi namun tidak untung, untuk apa jualan?

Kalaupun masih mau jualan, tentu harus ada perombakan besar-besaran, mulai dari organisasi sampai model bisnisnya. Karena itulah, kemungkinan faktor terbesar FMI harus ditutup, agar Ford Motor Co bisa lebih 'enteng' berlari dalam memasarkan mobil-mobilnya di Indonesia, tanpa harus dibebani pengelolaan model APM yang memberatkan.

Lalu bagaimana caranya? Prediksi ini juga menunjukkan bagaimana Ford Motor Co cukup cerdas membaca masa depan pasar otomotif di Tanah Air. Apalagi mulai tahun 2016 ini Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai diberlakukan.

Ada celah potensial bagi Ford Motor Co untuk terus menjalankan bisnisnya di Indonesia, namun dengan pengelolaan yang jauh lebih ringan. Sehingga, meskipun tanpa investasi pabrik lokal, Ford bakal punya daya saing lebih (terutama harga jual) berkat pemanfaatan skema MEA.

Kedepannya, Ford Motor Co cukup menaruh perwakilan khusus di Indonesia--hanya sebagai eksekutor bisnis, dalam arti mereka tidak akan diberikan akses apapun terkait kebijakan jualan, selain menjual produk dan memberikan layanan service saja.

Semua kebijakan dan strategi yang akan dilakukan Ford di Indonesia, akan dilakukan secara 'remote' dari Thailand. Sehingga, besar kemungkinan kedepannya Thailand bakal menjadi bassis Ford di kawasan ASEAN. 

Pengelolaan model remote ini tentu jauh lebih efisien dengan kondisi terakhir FMI beroperasi di Indonesia. Penjualan setahun masih diatas 5.000 unit--alasan Ford tidak mungkin pergi dari pasar Indonesia--terbilang cukup efisien dan masuk skala ekonomis Ford dalam menjalankan bisnis di Indonesia.

Setidaknya, beban berat pengelolaan APM sudah bisa dihapuskan, sehingga 'lari' Ford di Indonesia bisa lebih enteng. Imbasnya, produk diharapkan bisa semakin bersaing, karena Ford lebih leluasa memainkan harga jual tanpa adanya beban harus 'menghidupi' APM FMI seperti selama ini.

EDITOR

Bagja

Top