Rabu,10 Feb 2016 14:00 WIB

Penulis: Bagja

Tematis Dibalik "Krisis" Otomotif Nasional

Geliat Produsen Mobil Nasional Masih Sebatas Gerilya

Foto: ASIANUSA

Geliat Produsen Mobil Nasional Masih Sebatas Gerilya

Jakarta - Dalam sejarahnya kehadiran Mobnas memang belum berhasil tampil di pasar mobil secara nasional. Pergerakan dengan sistem gerilya pun sah-sah saja untuk dikatakan. Namun, seberapa kecilnya sampai tak terlihat pun, mobil nasional tetap ada.

"Kita tidak perlu pesimistis dengan keadaan Mobnas yang selalu gagal di pasaran selama ini," ujar Ketua Asosiasi Industri Automotive Nusantara (ASIANUSA), Ibnu Susilo yang juga CEO mobil nasional FIN Komodo yang tetap eksis sampai saat ini.

Ibnu selama ini menjual mobil Komodonya berdasarkan pemesanan, setiap tahun sekitar 100 unit mobil Komodo berhasil terjual. "Mobil ini adalah hasil karya para teknisi dan modal dari anak Indonesia," ungkapnya.

Selain Komodo, ada juga Mobnas bernama Tawon. Mobil berkapasitas mesin 650 cc ini diproduksi oleh PT Super Gasindo Jaya (Auto-gas) dengan pusat produksi di Rangkasbitung, Kabupaten Tangerang, Banten. 

Pasar yang akan dituju mobil Tawon ini adalah segmen masyarakat pedesaan, khususnya bagi unit koperasi. Untuk layanan after sales, bekerja sama dengan berbagai koperasi dalam penyediaan suku cadang dan layanan service. 

Saat ini sedang memasuki tahap akhir analisis pasar dan penjualannya. Kita tidak menjual secara ritel, tapi kepada koperasi," ujar Dewa Yuniardi, sebagai Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi ASIANUSA, yang juga Direktur Penjualan PT Auto-gas.

Diungkapkan Dewa lagi, beberapa koperasi di tiga provinsi pulau Jawa telah siap memasarkan mobil tawon. "Dari komunikasi kami dengan pihak koperasi, kami optimis 40 hingga 50 unit akan terjual setiap bulan," ungkapnya.

Ya, mobil nasional tetap ada, tetap eksis, meski tak terlihat dan terekspos. Pergerakan mereka masih sebatas bergerilya, karena tidak mau begitu saja mengemis pada pemerintah.

Meski memang pekerjaan rumahnya sangat banyak sekali bagi ASIANUSA untuk bisa mengajak para produsen mobil nasional muncul ke permukaan. Pertama, akselarasi penyerapan dan penerapan teknologi harus terus dikejar untuk terus menyempurnakan produk.

Selain itu, fokus pada segmentasi pasar yang sudah diciptakan juga merupakan jalan menuju kebesaran sebuah industri. Dan terakhir, setidaknya membuat ekosistem terkait dengan layanan service dan ketersediaan spare part.

"Kita sudah memikirkan setiap langkah tersebut. Namun tetap butuh proses dan dana yang tidak sedikit untuk melakukan riset, itu bisa diperoleh dari perputaran uang hasil penjualan. Yang jelas kita akan tetap bertahan, meski tanpa bantuan pemerintah," tutup Dewa.

EDITOR

Bagja

Top