Rabu,10 Feb 2016 13:00 WIB

Penulis: Bagja

Tematis Dibalik "Krisis" Otomotif Nasional

Jepang vs China, Indonesia Kemana?

Foto: FIN Komodo

Jepang vs China, Indonesia Kemana?

Jakarta - Ketika kita sibuk membicarakan perang raksasa otomotif di tanah Indonesia, antara produsen Jepang dan China, pasti langsung muncul pertanyaan besar. Kemana sang tuan rumah? Apakah hanya akan menjadi penonton saja?

Produsen Jepang yang begitu kokoh berdiri diatas tanah Indonesia, sudah berulangkali diganggu dominasinya dari berbagai produsen dunia. Paling terbaru, Amerika yang pada akhirnya juga dianggap gagal untuk bersaing dengan Jepang.

Mulai tahun ini muncul lagi produsen China, yang sepertinya kali ini tak lagi main-main. Pabrik didirikan, aftersales service disiapkan. Memang tidak akan langsung bersaing dengan Jepang, namun dalam lima tahun kedepan, bukan tidak mungkin keduanya akan punya pasar yang setara. Dua raksasa otomotif ini pun bakal bertarung di medan perang yang disiapkan Indonesia.

Industri mobil nasional di Tanah Air sendiri bisa dibilang kurang tersentuh. Baik ekspos dari media, apalagi pemerintah. Padahal, melalui payung Asosiasi Industri Automotive Nusantara (ASIANUSA), mobil nasional terus melakukan pergerakan.

Diungkapkan Dewa Yuniardi, sebagai Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi ASIANUSA, sejauh ini meski belum sebesar pabrikan asing namun mobil-mobil nasional terus bergerak ke arah yang lebih maju.

"Kita sejauh ini lumayan kok. Terus bergerak dan semakin maju. Saat ini mulai prepare terus ke arah industri yang bersaing, Tawon udah mulai mengarah pada citycar. Sudah dapat distributor," kata Dewa.

Permasalahan yang terjadi saat ini sudah bukan lagi hal-hal teknis dan kebijakan dari pemerintah. Tapi seperti para pebisnis lainnya yang terjun ke dunia industri, mobil nasional belum menemukan pasar yang ideal dimana perputaran uang yang terjadi bisa untuk membuatnya lebih besar lagi.

"Kita kalau ditanya sudah sejauh mana kesiapan industrinya? Sudah siap 100 persen. Hanya kan ujungnya tergantung dari seberapa banyak pasar menyerap produk kita, untuk kemudian uangnya diputar agar industri berjalan, itu yang belum terjadi," tambah Dewa.

Dirinya mencontohkan, Tawon misalnya, secara sertifikasi dan pengujian semua sudah dilaksanakan. Produksi pabriknya pun siap menghasilkan 600 unit perbulan. "Tapi ya itu tadi, tergantung pasarnya. Kalau belum ada, ya itu kenapa selama ini kita fokus untuk memperkuat brand image dulu, kalau kami juga punya kualitas yang setara," tambah Dewa lagi.

Semua produsen yang tergabung dalam ASIANUSA, boleh dibilang sudah cukup layak untuk kita sebut sebagai embrio industri mobil nasional. Dibawah payungnya, sudah banyak merek-merek mulai dari FIN Komodo, Tawon, GEA, Kancil, sampai Wakaba. 

Uniknya, ASIANUSA tidak mau menyamakan dirinya dengan mobil ESEMKA yang publisitasnya jauh melebihi ASIANUSA karena digunakan sebagai komoditas politik. Sementara ASIANUSA murni untuk membentuk sebuah industri.

"Jadi biar saja Jepang, China atau manapun pada berkelahi, kita tidak masalah. Karena memang segmentasi pasar kita berbeda dengan mereka. Kita tidak khawatir, termasuk kemungkinan ekspansi besar-besaran karena adanya TPP atau MEA sekalipun. Pokoknya jalan terus!," tutup Dewa.

EDITOR

Bagja

Top