Kamis,4 Agust 2016 11:00 WIB

Penulis: Bagja

Kenapa Toyota-Daihatsu Tinggalkan Penggerak Roda Belakang Pada Calya-Sigra?

Foto: F Yosi/otomotifnet

Sigra varian R Deluxe

Jakarta - Kalau masih ingat saat Avanza dan Xenia mulai mendapat lawan-lawan tangguh semisal Suzuki Ertiga dan Honda Mobilio? Saat itu cukup ramai saling adu komentar soal lebih bagus mana penggerak roda untuk sebuah MPV. Depan atau belakang?

Hampir semua pesaing Avanza-Xenia satu suara kalau penggerak roda depan lah yang lebih baik, karena mesin bekerja lebih efisien, minim gesekan karena komponen yang digunakan lebih sedikit. 

Kombinasi mesin depan penggerak depan semakin efisien dengan peletakan mesin melintang. Tapi kelemahan konfigurasi ini ada pada kekuatan as penggerak karena fungsi ganda yang harus ditanggung oleh roda depan.

Jadi karakter handling pun berbeda, yakni gejala understeer jadi ciri khas mobil penggerak roda depan.

Namun Toyota dan Daihatsu bersikukuh kalau justru MPV penggerak belakang lah yang unggul dan dianggap paling cocok untuk medan di Indonesia. Tak heran kalau pilihan mereka tersebut sudah dibuktikan dengan daya tahan Avanza Xenia.

Punya daya dorong lebih baik sehingga cocok untuk tanjakan dan banyak digunakan kendaraan niaga jadi keunggulan ketika sistem ini diterapkan pada mobil keluarga yang butuh durabilitas lebih.

Kelebihan lain dari konfigurasi ini adalah karakter yang dihasilkan cenderung lebih halus dibanding penggerak depan. Itu sebabnya pilihan ini masih digunakan mobil-mobil mewah yang mengutamakan kenyamanan dan kehalusan. 

Tapi kelemahannya, efisiensi mesin sulit didapat. Apalagi kalau tenaga mesin pas-pasan, gesekan berlebih makin membuat performa mobil melemah.

"Masing-masing punya kelebihan, dan kami memilih penggerak roda belakang (Toyota Avanza), karena kami anggap lebih tangguh dan sesuai untuk medan di Indonesia," ujar Dadi Hendriadi, Division Head, Technical Service Division PT Toyota Astra Motor.

Nah, setelah ngotot kalau penggerak roda belakang lebih baik untuk mobil keluarga di Indonesia semisal Avanza-Xenia, maka secara tiba-tiba Toyota menyodorkan sistem penggerak depan pada duet maut terbarunya.

Nah, belum ada alasan diungkapkan kenapa pada akhirnya Toyota-Daihatsu meninggalkan penggerak roda belakang pada mobil andalan terbarunya, Toyota Calya dan daihatsu Sigra. 

Mungkin dua mobil ini diperuntukkan hanya untuk perkotaan? Atau penggerak depan dipilih guna 'mengakali' performa mesin yang pas-pasan? Menghemat ongkos produksi? Apa lagi? Masih banyak faktor lain yang akhirnya membuat pabrikan berubah halauan.

Tapi yang jelas, secara karakter pengemudian dan handling Avanza-Xenia pada akhirnya harus berbeda dengan Calya-Sigra. Meski kedua jenis mobil ini sama-sama MPV, mobil keluarga, dan untuk masyarakat Indonesia.

Jadi kalau memang sebelumnya Toyota-Daihatsu mengunguggulkan MPV penggerak belakang, karena bisa jadi mobil keluarga 'bandel' yang oke diajak kemana saja dengan durabilitasnya yang tinggi, mungkin tidak untuk Calya-Sigra, karena mengusung penggerak roda depan. 

Sehingga jangan punya ekspektasi yang sama untjuk Calya-Sigra. Meskipun sama-sama berjenis MPV, soal keunggulan dan durabilitas, seperti menurut Toyota-Daihatsu sendiri, untuk Indonesia lebih baik MPV berpenggerak roda belakang.

EDITOR

Bagja

Top