Jumat,19 Feb 2016 16:00 WIB

Penulis: Bagja

Seksinya Pasar SUV Bisa Memakan Korban

Foto: Sano

Hyundai pun membuka tahun ini dengan SUV

Jakarta - SUV yang makin kesini makin gterlihat seksi, tak hanya dari tampang maupun spesifikasinya ya, tapi juga dari segi pasarnya, banyak pihak mengatakan betapa seksi pasar SUV saat ini.

Tak heran jadinya kalau di awal tahun begitu banyak pabrikan melepas mobil berjenis SUV ke pasaran, mulai dari duo paling hot, All New Fotuner dan All New Pajero, kemudian gebrakan Honda BR-V, dilanjut Hyundai Santa Fe, sampai paling terbaru Daihatsu Terios Custom.

Hingga tahun ini ada 17 merek yang menyodorkan model SUV ke masyarakat. Dari yang bermesin 1.500 cc hingga yang bermesin di atas 4.000-an cc, baik berspesifikasi mesin bensin maupun diesel.

Tak heran kalau Henry Tanoto, Vice President PT Toyota-Astra Motor pernah menyebut,“Pertumbuhannya (pasar SUV) cukup baik. Dibanding 2014, pasar SUV 2015 tumbuh sekitar 15-18 persen.” 

Serupa dengan komentar Astra Daihatsu Motor, melalui Direktur Marketingnya, Amelia Tjandra. "SUV memang menjadi satu segmen yang mengalami pertumbuhan, dan kami melihat ini masih akan terus tumbuh," kata dia.

Penjualan SUV di Tanah Air
Penjualan SUV di Tanah Air

Akan tetapi, fenomena naik daunnya SUV di pasar mobil Tanah Air tidak juga serta merta ikut membesarkan total volume penjualan mobil nasional, karena menurut Amelia, banyak yang memprediksi pasar mobil tahun ini tidak bergerak alias stagnan.

Pasar mobil nasional tahun ini akan relatif sama dengan tahun lalu di kisaran 1 juta unit. Sehingga menurut Amelia, ketika terjadi pergerakan, maka yang terjadi adalah semacam saling memakan satu sama lain, karena secara umum kondisi pasar tidak bergerak.

"Saat hampir semua segmen turun, kami melihat SUV akan naik, karena ada pemain baru, tapi (pemain baru) ini tidak akan menaikkan pasar, namun akan membuat segmen yang lain akan mengalami penurunan," katanya. 

Artinya, keseksian pasar SUV bisa saja memakan korban dari segmen lain. Semisal segmen MPV. Meskipun porsinya masih terbesar, namun terjadi penurunan pada segmen MPV. Bisa karena jarangnya hadir mobil-mobil baru, sementara harga jualnya terus naik, membuat masyarakat jenuh dan coba berpaling.

EDITOR

Bagja

Top