Senin,14 Sept 2015 12:04 WIB

Penulis: pewete pewete

Mesin Favorit untuk Balap, Katanya Mudah Diupgrade

Foto: oct, Hardy

Mesin Favorit untuk Balap, Katanya Mudah Diupgrade

Jakarta - Dunia balap Tanah Air mulai bergairah nih. Selain ramai peserta, juga didukung event yang semakin banyak. Nah dari ajang pemacu adrenalin seperti drag race, drifting dan speed off-road, ada beberapa mesin yang saat ini sedang jadi incaran. Beberapa alasan pemilihan mesin-mesin tersebut, dikemukankan oleh penggunanya.

Tapi mesti diperhatikan regulasi untuk masing-masing balap yang bakal diikuti. Misalkan saja mengganti mesin pada kejuaraan speed off-road, efeknya enggak bisa turun di sembarang kelas. Kalau memang melakukan engine swap, biasanya dipersiapkan turun di kelas free for all.

Urusan membeli mesin yang lagi trending topic, bisa dengan beberapa cara. Dari mulai yang half cut, long block plus ECU dan benar-benar utuh. Enggak hanya mesin berlabel limbah saja yang jadi incaran, tapi juga ada yang statusnya barang baru. Ini beberapa mesin yang lagi unyu-unyunya di drag race, drifting dan speed off-road. • (otomotifnet.com)



DRAG RACE


Di drag race banyak pelakon kelas free for all (FFA) mengandalkan mesin Mitsubishi 4G63T. Paling banyak dilirik yang generasi awal (tipe Evolition 1-3) dan alasannya, soal harga yang lebih murah dibanding beli mesin Lancer CK4.

“Dengan konfigurasi inline 4 silinder jelas banyak mekanik lokal sudah paham luar dalam dengan mesin ini. Bandingkan dengan inline 6 silinder, V8, rotary dan boxer pasti lebih rumit dan mahal untuk bisa menggapai 10 atau bahkan 9 detik 402 meter,” ucap Indra Wijaya tuner Sigma Speed yang bermarkas di Pancoran, Jaksel.

Ada juga yang pakai mesin Honda B series keluaran 1989 untuk masuk di kelas All Motor. “Malah bisa dibilang di Tanah Air, mesin B Series masih mendominasi kelas tersebut,” terang Luckas Dwinanda punggawa Engine+ Motorsport di daerah Sunter, Jakut.

Tipe B20 Frankenstein sekarang yang banyak diburu, salah satunya karena bisa distroke up sampai 2.200 cc. Soal part racing juga enggak perlu kuatir, mau part Jepang atau Amrik banyak yang menyediakan.

Pemain 14 detik, memilih Honda L15A i-VTEC dan kalau ditambah turbo bisa tembus 13 detik. “Itu di trek 402,” tukas Memed Firdaus kepala bengkel TS Kustom Garage Meruya, Jakbar. Mesin 1.500 cc ini jadi pilihan karena PT Honda Prospect Motor merilis mesin untuk Brio, Mobilio, Freed, Jazz, City, dan HR-V.

Khusus untuk Brio yang hadir dengan 1.200 dan 1.300 cc, cukup mudah kalau mau dijadikan 1.500 cc. Di Asia, Thailand jadi kiblat drag race dengan mengandalkan mesin 1KD-FTV (Toyota Hilux) dan 2KD-FTV (Toyota Kijang Fortuner). “Cukup upgrade turbo, intercooler, piggy back atau stand alone, nitrous dan WMI (Water Methanol Injection) jika mau bermain di kelas 13 detik,” sebut Theodorus Suryajaya punggawa Rev Engineering di Jl. Panjang, Jakbar •



DRIFTING


Mesin bawaan Toyota Supra (2JZ-GTE) ini cukup banyak diburu penggemar drift di Tanah Air. Bukan hanya di kalangan pengguna Toyota saja, tapi juga pembesut Nissan Cefiro dan BMW E36.
Banyaknya drifter Jepang yang pakai mesin ini di D1GP, membuatnya jadi tren di Tanah Air.

“Kecanggihan mesin ini antara lain berkapasitas 3000 cc, twin turbo, ETCS-i dan VVT-i,” sebut Rolando pemilik Banana Auto yang bertempat di Karet Pedurenan, Jaksel. Sanggup menghasilkan tenaga 276 dk/5.600 rpm dan torsi 435 Nm/4.000 rpm untuk versi Jepang.



Pasar Eropa dan Amerika, performanya dinaikkan jadi 321 dk di putaran mesin yang sama. Upgrade-nya gampang, tinggal kontak TRD, Tomei, Greddy, HKS Tak hanya Toyota, karena tuner beken di Jepang, banyak yang menjual kit upgrade performa mesin Nissan RB Series (RB26DETT), itu jadi salah satu alasan kenapa generasi ini jadi favorit. Selain itu, juga ada ada RB25DET.

“Mesin bawaan Nissan Skyline R32 hingga R34 ini juga tidak kalah dengan 2JZ-GTE Toyota. Meskipun kapasitas mesin lebih kecil, namun output tenaga menyamai 2JZ-GTE,” sebut Purbayaka Sutanta, owner Bening Motor di kawasan Jatibening, Bekasi.



SPEED OFF-ROAD


Ada 2 mesin yang saat sekarang jadi primadona di speed off-road, terutama di kelas free for all. Ada yang high class yang butuh dana besar dan ada juga untuk yang hendak coba-coba masuk di kelas tersebut.

Untuk yang spesifikasi tinggi, biasanya dipilih mesin yang biasanya terpasang pada Chevrolet Corvette yakni LS3 V8. “Mau upgrade gampang, soalnya banyak builder mesin di Amerika yang menyediakan part-nya. Salah satu contohnya stroke up dari mesin yang 6.200 cc, pilihannya bisa 6.600, 6.800 dan 7.000 cc,” ujar TB Adhi, salah satu off-roader kawakan Tanah Air.

Oleh karena sistem pesan, maka mesin 8 silinder ini sampai ke Tanah Air dalam bentuk utuh dan langsung bisa dinyalakan. Untuk yang spesifikasi paling tinggi (7.000 cc), bisa menghasilkan power maksimum sampai 615 dk.

Dari harga mesin copotan yang lebih bersahabat dan juga dalam urusan spare part, copotan Toyota Lexus V8 (1UZ) juga banyak diburu pecinta speed off-road. Meski secara kapasitas mesin lebih kecil (4.000 cc) dari LS3 yang mencapai 7.000 cc.

“Putaran mesinnya bisa mencapai 7.000 rpm dan tentunya itu angka yang tinggi. Enggak tahu angka pastinya, namun torsi yang bisa didapat juga tinggi,” ungkap TB Adhi. Dengan kemampuan yang seperti itu meski kapasitas mesinnya kecil, di trek mesin V8 dari 1UZ bisa fight dengan LS3. Apalagi kalau menambahkan ECU stand alone seharga Rp 18 juta, bisa bikin 1UZ lebih kompetitif. •



HARGA


Bicara soal harga untuk mesin-mesin limbah sangat tergantung pada kondisi, tahun pembuatan, tipe dan kelengkapan. Tergantung tipe maksudnya, walaupun kode mesin mirip namun harga bisa sangat berbeda.

Ambil contoh Honda B18C ada banyak versi. Dari yang C saja dan C1, C2, hingga C5. B18C tanpa embel-embel angka menunjukan mesin JDM (Type R Jepang) sedangkan B18C5 USDM (Type R Amerika). Beda harga bisa sampai Rp 5 juta lebih mahal JDM. Pentingnya knowledge tentang versi mesin sebelum membeli. •



TELITI SEBELUM MEMBELI


Jangan sampai beli kucing dalam karung, jadi sebelum jajan mesin lebih baik periksa dulu barangnya. Dari mulai fisik mesinnya dan jangan sampai ada bekas atau rembesan oli di sekeliling bak penampung oli atau kepala silinder.

Kemudian periksa apakah ada yang retak di bagian blok, kepala silinder ataupun tutup klep. Kondisi sensor dan soket juga sangat penting, retak atau minus salah satu sensor tentu harga harus dikorting. Takutnya ketika dipasang, ada salah satu sensor yang bikin mesin enggak mau hidup.

Bagi mesin berturbo, jangan sungkan untuk mengecek turbonya. Paling mudah bisa digoyangkan batang turbine wheel dan kompresor wheel, tidak boleh oblak. Terakhir cek hidupkan mesin, atau paling minim usahakan bisa mengecek tekanan komperesi.

“Jika penjual tidak menyangupi itu, harus minta garansi jika mesin tidak normal ketika dibawa ke bengkel atau ke rumah,” ujar Ferry, pemilik AHM Motor yang menjajakan mesin limbah di daerah Taman Palem, Jakbar.

Bila memang pesan langsung sama builder di luar negeri, kenali terlebih dahulu dengan searching di dunia maya. Pastikan juga pengerjaan yang mereka lakukan in house, termasuk saat melakukan pengetesan di atas mesin dyno meter. “Butuh waktu kurang lebih 1 tahun, sebelum yakin hendak beli mesin LS8 V8 dari builder di Amerika,” kata TB Adhi. • Hardy,

EDITOR

Otomotifnet

Top