Senin,23 Nov 2015 14:30 WIB

Penulis: otomotifnet.com

BMW X5 xDrive 25d

BMW X5 xDrive 25d

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Testimoni Arif Maulana, pengguna BMW X5 1st Gen

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Di jalan, X5 tidak salah lagi terasa sangat bongsor. Untung kabin familiar khas BMW membuat pengemudi sedikit lebih pede.

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Bukaan pintu bagasi dibagi dua, membuat jauh lebih mudah dibuka di tempat sempit

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Paket Adaptive Suspension dan pelek ‘hanya' 19 inci membuat perjalanan ekstra nyaman, namun sedikit memantul-mantul pada kecepatan tinggi

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    BMW X5 xDrive 25d

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Tidak ada passive keyless entry di mobil selevel ini? Ayolah BMW...

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Penumpang belakang dimanjakan knee room dan head room besar, ditambah suasana lega dari panoramic sunroof

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Tidak seperti off-roader lainnya, sistem xDrive tidak dapat dikontrol secara manual

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Ambient lighting bisa dipilih dari 3 warna dan kombinasi-nya di dasbor, ruang kaki dan cup holder pada door trim

  • Foto: RIAN/otomotifnet.com

    Kombinasi mesin diesel bertenaga 218 dk dan torsi 450 Nm, teknologi auto start/stop, transmisi 8-percepatan dan mode Eco Pro membuat X5 Advanced Diesel menjadi mesin hemat yang mematikan

 

Fuel saving. Done Right

Awalnya, OTOMOTIF tidak begitu antusias saat ditawarkan untuk mengetes BMW X5 karena berpikir "Ah, hanya bentuk lain dari X Series." Namun setelah mengetahui unitnya bermesin diesel, kami berubah pikiran. Mengapa?

Satu, SUV diesel sudah jadi salah satu mobil favorit OTOMOTIF karena ketangguhan yang ditawarkan dan torsi besar. Dua, BMW terkenal dengan transmisi ZF 8-percepatan dan mode Eco Pro yang selalu mendukung efisiensi bahan bakar. Bila dikombinasikan?

Yes, a killer diesel SUV! Meski hasil konsumsi dalam kota 11,1 km/l sebagai rata-rata, namun tidak jarang kami me-reset data fuel consumption dan mencapai angka hingga 16,4 km/l saat jalanan cenderung sepi.

Angka terboros yang pernah dicapai? 8 km/l, itu pun saat kondisi macet-macetan kemudian digunakan mode Sport saat mulai lancar.

Terdengar biasa saja? Ingat, ini SUV bongsor dengan berat lebih dari 2 ton dan lebar melebihi Toyota Alphard!

Lalu kenapa bisa hemat? Katakan saja mesin, transmisi, mode EfficientDynamics hingga fitur Auto Start/Stop bekerja dengan harmonis.

Bila dimasukkan ke mode Eco Pro, transmisi selalu menaikkan gigi saat putaran mesin mencapai sekitar 1.600 rpm untuk menjaga konsumsi seminim mungkin. Ketika berhenti yang biasanya cukup memakan banyak bahan bakar, fitur Auto Start/Stop mengambil alih dan mematikan mesin sementara.

Saat cruising di jalan tol, fitur coasting Eco Pro juga membantu mempertahankan kecepatan saat pedal gas dilepas. Rasanya seperti mobil bertransmi manual saat tuas dimasukkan ke netral ketika sedang berjalan, dengan menahan putaran mesin minimum pada 800 rpm. Efeknya, konsumsi membaik karena turunnya kecepatan saat lepas pedal gas cenderung lama.

Memang selama ini sudah ada 520d dan 320d yang irit. Tapi ingat juga, keduanya tidak dibekali ground clearance 208 mm dan penggerak all wheel drive xDrive yang membuat X5 dapat melewati hampir segala jenis medan.

Kalau merasa ingin disopiri, kabin belakang pasti akan cocok. Jok bisa di-recline hingga beberapa sudut, slide untuk memastikan knee room lega, tidak ada gundukan besar di tengah dan mendapat porsi panoramic roof memastikan para eksekutif tetap cocok untuk duduk di belakang. Sedangkan bantingan yang lembut dari air suspension membuat tidur di sepanjang perjalanan tidak akan terganggu.

(otomotifnet.com)

SPORT MODE WELL EXECUTED

Digabungkan dengan mesin diesel X5, penggunaannya fitur ini terasa sangat mengasyikkan.

Biasanya, torsi maksimal mesin diesel common-rail modern diraih pada putaran mesin yang relatif rendah dan punya range cukup besar, yaitu saat turbo bekerja maksimum.

Nah, mesin Advanced Diesel BMW ini dapat menghasilkan momen puntir hingga 450 Nm. Bahkan ketika putaran mesin baru berada di 1.500 rpm hingga 2.500 rpm karena bantuan twinscroll turbocharger-nya.

Kemudian mode Sport yang mengubah karakter mesin, transmisi dan sasis akan membuat putaran mesin selalu berada di atas 1.800 rpm dan langsung downshift ketika menuju ke bawahnya.

Artinya, X5 ketika di dalam mode Sport selalu standby dalam keadaan torsi maksimum. Efeknya, overtaking hingga melaju kencang pun dapat dilakukan sangat mudah.

Takut kelembutan suspensi udara mengganggu manuver? Tenang, dynamic damper memastikan bantingan dibuat lebih kaku saat dimasukkan ke mode Sport. Bagian belakang memang masih sedikit memantul ketika melaju sangat kencang di jalan tol, tapi tidak sampai mengganggu kok.


BUKAN TANPA KEKURANGAN

Meski terdengar sempurna, namun SUV seharga RP 1,149 miliar off the road ini bukan tanpa kekurangan. Berstatus CKD, X5 banyak kehilangan fitur-fitur penting yang sebenarnya vital bagi sebuah SUV mewah, apalagi keluaran pabrikan Jerman seperti BMW.

Pertama, Smart Key yang disertai tombol Start/Stop Engine tidak dapat digunakan sebagai passive keyless entry. Artinya, harus mengeluarkan anak kunci dan menekan tombol setiap kali ingin masuk.

Selanjutnya, mengingat dimensinya yang ekstra-besar, memakirkan X5 memang tidak mudah. Memang sih ada bantuan sensor parkir yang detailnya ditampilkan di layar dan spion kiri yang turun untuk memudahkan melihat garis. Namun tetap saja kamera belakang harusnya jadi standar. Bahkan, kamera 360 derajat sepertinya lebih cocok memenuhi monitor 10,2 incinya yang indah itu.

Untuk speaker, ke mana sistem audio Harman Kardon seperti di varian BMW lainnya? Karena rasanya 9 speaker dengan output 205 W tidak cukup kalau sudah sering naik Bimmer dengan sistem premium tersebut. 


Testimoni
Arif Maulana, pengguna BMW X5 1st Gen

Setir kurang komunikatif dengan jalan, seperti agak kosong, beda dengan X5 generasi pertama. Mungkin efek dari EPS. Suspensi jauh lebih enak dibanding model lama, tapi karena airsus jadi agak mantul-mantul saat dibawa ngebut. Sedangkan performa mesin enak banget, torsi berlimpah dan konsumsi cukup irit.

Interior jauh lebih kedap dibanding model lama. Desain bodinya gagah, tapi dimensi agak bongsor jadi kurang pede untuk menyelip di jalan tol atau pun jalan biasa. 


DATA SPESIFIKASI

Mesin: Diesel 4-silinder segaris 1.995 cc dengan twin-scroll turbocharger dan High Precision Direct Injection, Double VANOS dan Valvetronic

Output Maksimum: 218 dk @ 4.400 rpm

Torsi Maksimum: 450 Nm @ 1.500 - 2.500 rpm

Transmisi: Otomatis ZF 8-percepatan Steptronic 

Dimensi (p x l x t): 4.886 mm x 2.184 mm x 1.762 mm

Wheelbase: 2.933 mm

Ground Clearance: 208 mm

Sistem kemudi: EPS (Electronic Power Steering)

Sistem Suspensi: Dynamic Damper Control dan Air Suspension

Rem Depan / Belakang: Ventilated Disc dengan ABS dan CBC

Ukuran Ban: 255/50 R19

Kapasitas Tangki: 75 liter

Harga: Rp 1.149.000.000 on the road Jakarta

DATA TEST:

0-60 km/jam: 3,5 detik

40-80 km/jam: 3,6 detik

0-100 km/jam: 8,2 detik

0-201 m: 10,2 detik

0-402 m: 16 detik

Data Konsumsi

Dalam Kota: 11,1 km/liter

Konstan 60 km/jam: 24,4 km/liter @ 1.300 rpm gigi 8

Konstan 100 km/jam: 18,6 km/liter @ 1.600 rpm gigi 8

PESAING:

Mercedes-Benz ML 250 CDI
Mesin: BlueTEC 4-silinder segaris 2.143 cc
Tenaga / Torsi: 204 dk @ 4.200 rpm / 500 Nm @ 1.600 - 2.800 rpm

Transmisi: Otomatis 7-percepatan 7G-TRONIC

Harga: Rp 1,049 miliar off the road

EDITOR

advetorials

Top