Rabu,24 Agust 2016 11:11 WIB

Penulis: otomotifnet

First Drive Daihatsu Sigra R M/T dan Toyota Calya G M/T

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Mesin 1.200 cc bertransmisi manual, pas untuk jalanan perkotaan

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Kemudi secara fisik seperti terlalu kecil, padahal pas saat dipegang

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Ruang kemudi enggak menyulitkan untuk keluar masuk, meski memiliki badan yang bongsor

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Dengan mesin penggerak roda depan, suspensi depannya terasa agak keras

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    adi penasaran jajal Sigra dan Calya untuk melibas tanjakan dengan full loaded

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Semuanya serba pas

Asyik juga berkendara dengan Daihatsu Sigra dan Toyota Calya, meski transmisinya manual

Jakarta - Toyota Calya dan Daihatsu Sigra, saat ini jadi kendaraan yang banyak diperbincangkan dan ditanya soal performanya. Cukup beruntung, OTOMOTIF bisa jajal ke-2 produk tersebut. Untuk Sigra, dealer Daihatsu di Jl. Pangeran Jayakarta, Jakpus berbaik hati meminjamkan unit test yang notabene tipe R dan bertransmisi manual.

Dengan transmisi yang sama, Cayla tipe G unit test PT Toyota Astra Motor di Gaikindo Indonesia International Motor Show 2016 dijajal performanya.

Kendaraan Perkotaan

Unit dengan transmisi yang sama, dijajal pada 2 trek yang berbeda. Namun lokasi kawasan Ancol, Jakbar pas untuk mewakili jalanan di ibukota untuk first drive Sigra. Rasanya juga pas, ketika Cayla dijajal di test trek di pameran yang berada di ICE, Tangsel. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Itu kata iklan, kalau dengan Sigra dan Calya selanjutnya pas.

Maksudnya, kedua kendaraan 7 penumpang ini, pas untuk diajak berkendara di jalanan ibukota dan itu sudah barang tentu sama dengan kota-kota lainnya di Tanah Air. Untuk pengemudi yang memiliki tinggi badan 180 cm berpostur bongsor, keluar masuk kabin kendaraan yang memiliki kapasitas mesin 1.200 cc enggak menemui kendala yang berarti. Oh iya, joknya terasa empuk saat diduduki. Padahal tampang dari joknya yang tipis, kurang meyakinkan.

Agak Susah  

Setelah atur posisi duduk, kemudian mesin dinyalakan. Berbarengan dengan itu, pendingin kabin juga dinyalakan. Awas salah putar, terutama kalau enggak pakai melihat dan terbiasa dengan posisi On/Off AC di kiri, serta pengatur suhu di sebelah kanannya. Apa yang terjadi itu karena posisi On/Off AC adanya di kanan dan pengaturan suhunya ada di sebelah kiri (terbalik).

Namanya juga transmisi manual, injak kopling dulu lalu masukkan gigi persneling. Beban kaki saat menginjak kopling, pas untuk pemakaian dalam kota meski harus menghadapi kondisi macet. Hanya saja saat mengoper gigi persnelingnya yang ada di atas dan pendek, masih terasa susah masuk. Mungkin ini akibat baik Sigra maupun Calya, masih barang baru.

Oleh karena bertrasmisi manual, saat pedal kopling dilepas berbarengan dengan pedal gas diinjak, putaran mesin bawahnya terasa responsif. Benar-benar pas untuk digunakan sebagai kendaraan harian di jalanan perkotaan yang datar. Dengan mesin penggerak roda depan, saat diajak melibas jalanan yang keriting terasa suspensinya keras. Tapi sebenarnya itu lumrah, karena posisi kaki-kaki bagian depan juga menopang mesin 1.200 cc yang sudah Dual VVT-i.

Oh iya, pegangan kemudinya kalau dilihat sekilas secara fisik terlihat kecil. Tapi ketika dipegang, ukuran tersebut pas untuk telapak tangan kebanyakan orang Indonesia. Enggak berat dan enggak terlalu enteng alias pas. Itu yang dirasakan saat mengajak Sigra maupun Calya bermanuver di tikungan yang cukup tajam.

Untuk unit Calya, test trek yang terbatas juga ada tanjakannya. Meski tanjakannya enggak terlalu panjang dan tajam, tetap bisa dirasakan performa mesin bertransmisi manualnya. Seperti pada umumnya kendaraan bertransmisi manual, ketika pedal gas dihentak, akan terasa lompatan tenaganya. Kalau dalam kondisi sendiri melibas tanjakan, hal tersebut enggak terlalu bermasalah.

Tapi kalau dalam kondisi penuh, lebih baik kebiasaan tersebut segera dililangkan. Agar ban depan bisa dapat traksi yang sesuai kebutuhan, maka menekan pedal gasnya kudu pakai perasaan.

EDITOR

Bagja

Top