Jumat,11 Nov 2016 14:11 WIB

Penulis: otomotifnet

First Drive Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive (CKD), Stuck In Luxury

  • Foto: Rian/otomotifnet

    First Drive Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive (CKD) Stuck In Luxury

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Entertainment system COMAND dengan layar 7 inci masih terasa laggy dan lambat

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Posisi duduk dengan pengaturan full elektrik termasuk lumbar sangat mengutamakan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Performa dari mesin 4-silinder yang bertenaga 208 dk dan torsi 350 Nm terdengar cepat di atas kertas, sayang belum bisa kami uji sepenuhnya dalam kemacetan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Terdapat 5 mode berkendara: Individual, Comfort, Sport, Sport+, Eco; cukup pakaikan Comfort untuk respon mesin dan tramsmisi paling tepat di kemacetan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    GLC 250 sudah dilengkapi bagasi elektrik

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Salah satu kerugian dari versi non-CBU, fitur electric folding mirror menghilang

Jakarta - Mencoba SUV kompak Mercedes-Benz, kemacetan pun terlupakan berkat buaian kemewahan Di tengah parahnya kondisi lalu lintas kota Jakarta, PT Mercedes-Benz Indonesia (MBI) berusaha mengadakan sebuah sesi test drive yang berbeda. Sekaligus mencoba karya terbaru anak bangsa, SUV kompak rakitan lokal yang diluncurkan di GIIAS 2016 lalu dibawa untuk mengelilingi kemacetan Ibu Kota Indonesia ini.

Tersedia dalam dua varian CKD (completely knocked down), GLC 250 dan GLC 250 Exclusive, OTOMOTIF berkesempatan untuk mencoba tipe lebih tinggi yang dibanderol Rp 959 juta off the road. Nah karena ini ‘Made in Wanaherang’, apa saja bedanya dengan versi CBU?

Lebih Sporty

Mulai dari peleknya, versi lokal kedapatan bentuk 5-spoke dual tone dengan profil ban 235/55 R19. Menurut kami, versi CBU dengan spokes yang lebih banyak sedikit memberikan kesan lux dibanding versi lokal ini yang justru lebih sporti. No problem, melangkah ke dalam ternyata trim interior yang diganti tetap terasa ekstramewah. Nyalakan mesin, deru jantung 4-silinder berkapasitas 2.143 cc-nya tersebut terdengar luar biasa halus.

Well, karakter ini jelas berbeda dengan mesin milik ‘tetangga’. Transmisi dimasukkan via shifter di samping kanan setir, bahkan start pun sangat smooth. Berawal dari resto Otel Lobby di Kuningan, Jaksel, konvoi sebanyak 20 unit GLC 250 dimulai. Hadirnya Collision Prevention Assist Plus yang memanfaatkan radar untuk mengerem otomatis mobil jika mendeteksi adanya kemungkinan tabrakan terasa tepat, meski kami tidak berani mencobanya.

Transmisi otomatis 9-percepatan 9G-Tronic yang digunakan dalam mode C (Comfort) hampir terasa seperti CVT ketika uphsift, dibarengi karakter mesin berturbo yang halus di karakter bawah, mengarungi kemacetan jadi terasa perfect. Belum lagi road noise dari ban Pirelli Scorpion Verde hampir tidak masuk sama sekali, juga suara kendaraan lain yang teredam sangat baik.

Tidak salah MBI memilih trek macet-macetan Jakarta, karakter soothing-smooth dari adik GLE ini langsung tercerminkan. Namun yang lebih membuaikan kami adalah pengalaman berada di dalam GLC itu sendiri. Hampir kualitas setiap sudut kabinnya berkualitas tinggi.

Fascia tengah dengan trim kayu hitam pun mencerminkan kemewahan yang selalu membuat berada di dalam kabin menjadi menenangkan, terutama setelah merasakan jok empuk full elektriknya yang mulai langka di kalangan pabrikan mewah Jerman. Still, kami masih tidak mengerti pilihan MBI untuk menghilangkan spion lipat elektrik di versi CKD ini, karena memakirkan di lokasi sempit Museum Nasional terasa cukup sulit ketika spion terbuka.

Paling tidak, perjalanan singkat ini bisa menggambarkan bagaimana SUV kompak terbaru Mercy ini bisa membuat seisi mobil cukup terisolasi dari kepenatan di luarnya. Bagaimana soal performa maksimum mesin dan konsumsinya? Tunggu sesi test drive ya! Sano/otomotifnet.com

 

EDITOR

Bagja

Top