Senin,31 Okt 2016 16:10 WIB

Penulis: otomotifnet

First Drive Mini Cooper S Cabrio, Style In Style

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Salah satu keunggulan Mini Cabrio, setelah atap soft top bisa custom, panel hitam di dasbor pun bisa diganti beberapa pilihan warna lain

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Tombol power window sedikit berbeda, bagian bealakang untuk membuka keseluruhan jendela

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Mesin 4-silinder 1.998 cc dar BMW

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Sayangnya pengatuturan jok pengemudi dan penumpang depan masih manual

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Tekan tombol ini dan atap soft top akan terbuka dalam 18 detik

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Kapasitas bagasi menurun dari 215 liter menjadi 150 liter ketika atap Cabrio dibuka

Atap terbuka pada Mini yang sudah terlihat unik? Yup, gaya kuadrat
    
Jakarta
- Pilihlah salah satu Mini, varian apapun. Kendarai di jalanan Jakarta, hampir tidak mungkin mata di sekitar tidak memperhatikan? Dengan varian Cabrio yang OTOMOTIF coba ini, percayalah perhatian yang didapatkan bisa jadi dua kali lipat. Sayang untuk sebuah mobil yang dibanderol Rp 789 juta (off the road), mengatur posisi jok di Cabrio ini masih full manual untuk pengemudi dan penumpang. Slot sabuk pengaman pun terpaut agak jauh ke belakang, sehingga badan perlu sedikit memutar untuk meraihnya.

Belum pas rasanya kalau atap soft top¬-nya masih tertutup. Membukanya, perlu menahan tombol di overhead console. “Ada dua tahap membukanya, yang pertama terbuka setengah jadi seperti sunroof, tekan dan tahan sekali lagi untuk membuka atap secara penuh,” jelas Sri Utami Notohutomo, Product Planning Manager PT BMW Indonesia.

Tahan dan 18 detik kemudian, atap Mini berkode bodi F57 ini terbuka total dengan bagian soft top terlipat di belakang atas jok baris kedua. Sudah bergaya kuadrat, baru saatnya menikmati mesin yang sama dengan Cooper S 3-door dan Clubman yang sebelumnya kami coba.

Seperti setiap mesin B48 BMW, putaran bawah saat pertama kali berakselerasi memang tidak langsung terasa cepat. Maklum, penggunaan turbocharger, bahkan tipe twin-scroll sekalipun tetap memberikan sedikit sensasi lag, bahkan pada mode Sport. Ketika sudah melewati boost maksimal di atas 1.800 rpm, mesin ini terasa sangat fun dan cepat, apalagi di atas bodi yang cenderung ringan. Bahkan dibanding Clubman yang sebelumnya kami coba, tarikan tengahnya cenderung lebih berasa karena bodi yang lebih kecil.

Sayangnya, pelek 17 inci pun tetap membuat getaran sangat terasa di dalam kabin, tentu hal ini kental dengan karakter suspensi Mini yang kaku dan tanpa tambahan adaptive damper yang mengubah karakter saat berubah mode. Well, gaya sudah didapat, pengemudi juga terekspos, ditambah handling yang sangat menyenangkan. Tentu tak bisa memiliki semuanya kan jika menginginkan kenyamanan juga?  Sano/otomotifnet.com
   

EDITOR

Bagja

Top