Sabtu,27 Agust 2016 16:12 WIB

Penulis: otomotifnet

First Drive Suzuki S-Cross, Mesin Lama Rasa Baru

  • Foto: Rian/otomotifnet

    AC sudah ada mode auto, cukup tentukan temperatur yang diinginkan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Auto rain sensing wipers, cukup jarang fitur ini tersedia di kelasnya

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Mesin lama rasa baru

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Jok belakang bisa recline tiga langkah, penumpang bisa pilih mau sandaran yang tegak atau duduk ergonomis

  • Foto: Rian/otomotifnet

    MID dengan layar TFT, ada fungsi tersembunyi tidak ya?

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Khas Suzuki, posisi duduk cukup tinggi lantaran jok height adjustable, setir juga sudah bisa diatur tilt dan telescopic

Satu yang masih sama dengan SX4 sebelumnya adalah mesin, namun bagaimana rasa transmisi otomatis barunya?
    
Jakarta -
Ketika leluhurnya dinobatkan sebagai crossover pertama di Indonesia, jelas SX4 S-Cross memegang beban berat bagaimana mempertahankan image tersebut. Pastinya, bodi two-tone dengan plastik hitam membuatnya lebih pantas berada di medan selain aspal. Apalagi dengan tambahan roof rail dan scuff plates, masih pantas ketika Suzuki menyebutnya sebagai premium crossover.

Masuk ke dalam, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) cukup generous memasukkan fitur seperti passive keyless entry. Sehingga masuk ke kabin cukup tekan tombol, begitu juga menyalakan mesin yang menggunakan tombol engine start/stop. Mesin menyala dan seperti mendengar nostalgia. Hmm, pantas saja, di balik kap mesin adalah jantung berkode M15A, alias mesin yang dipakai SX4 generasi pertama dan Swift sebelum ini. Hanya saja dengan tweak sana sini seperti rasio kompresi 11,5:1, tenaga kini naik jadi 107 dk.

Langsung saja pindahkan tuas transmisi ke D. Wah, akselerasi awalnya ternyata cukup kuat! Mengingat square configuration dari mesinnya, harusnya respon awal yang menggigit ini juga diimbangi performa tarikan atas. Tapi harus tunggu sesi test drive untuk performa sepenuhnya ya.

Yang jelas sangat berbeda dibading SX4 sebelumnya, perpindahan gigi kini sangat halus. Pantas, ternyata memang ketambahan 2 gigi, sekarang jadi 6-percepatan. Enaknya, turun gigi dari paddle shift juga lumayan cepat, not bad untuk torque converter. Sayangnya, respon menyenangkan mesin dan transmisi di awal ini tidak diimbangi oleh feel dari putaran setirnya. Melewati medan batu kerikil, memutar setir pada kecepatan 10-30 km/jam terasa sangat ringan dan tidak natural, seperti rasa EPS terdahulu.

Satu hal lagi yang membuat kangen dengan sang leluhur, jendela raksasa di pilar A yang dulu membantu visibilitas kini mengecil drastis. Hmm, jadi lebih sulit mengecek blind spot saat menikung nih?

EDITOR

Bagja

Top