Jumat,9 Sept 2016 11:11 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Drive All New Honda Civic 1.5L ES

  • Foto: Rian/otomotifnet

    All New Honda Civic 1.5L ES

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Ground clearance hanya sekitar 13 cm, diperparah bentuk dual muffler yang terlalu mencuat ke bawah, bakal gampang mentok nih

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Remote Engine Start, tahan tombol ini 5 detik setelah tombol lock untuk menyalakan mesin dan AC mobil

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Tidak lagi split-view, instrument cluster kini lebih jelas meski belum full TFT seperti versi global

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Meski dipenuhi material soft touch dan leather-wrapped, kualitas door trim ini masih terkesan murah lantaran mudah berbunyi ‘kret-kret’ ketika ditekan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Sensor-sensor untuk rain sensing wipers dan auto LED headlights, tinggal kurang Honda Sensing

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Head unit layar sentuh berbasis Android kurang responsif, sayang versi global tidak dimasukkan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Jok belakang sangat luas untuk kelas ini, sudut sandarannya juga membuat rileks

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Bagasi terluas di kelasnya, masih bisa lipat rata jok tengah untuk menambah kapasitas

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Respon mesin 1.5 L Turbo hampir linear karena dipasangkan ke salah satu transmisi CVT terbaik

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Mode S dan Paddle Shift untuk berkendara lebih agresif, ECON untuk hemat sampai 20%

Inikah penerus status legendaris Civic?
    
Jakarta
- Berbicara Civic di Indonesia, pasti langsung terlintas nama-nama ‘Estilo’, ‘Ferio’ atau kode bodi seperti EK. Wajar saja, selain bentuk abadi, generasi dalam bentuk sedan dan hatchback di Indonesia ini memiliki mesin yang legendaris.

Lompat ke generasi lebih modern yakni FD dan FB, nama besar tersebut kurang menggaung di kalangan anak muda. Pengendalian yang kurang fun dan mesin yang tergolong biasa di zamannya dianggap jadi penyebab.

OTOMOTIF mencoba Civic generasi ke sepuluh atau yang lebih akrab disapa ‘Civic Turbo’ di Indonesia. Harusnya, adik Accord ini akan kembali merebut tahta yang lama hilang. Pengendalian presisi, kenyamanan tidak terduga, hingga respon mesin forced induction pertamanya yang berpadu dengan salah satu CVT terbaik, jadi alasannya.

Seperti apa detailnya?

Kenyamanan

Seperti bukan khas Honda, jok kulit Civic berkode bodi FC ini cenderung empuk. Tangan setiap penumpang juga kedapatan arm rest padded di door trim, sandaran tangan sekaligus konsol tengah di depan bisa slide maju-mundur.

Namun yang jadi panutan dan jawaban atas setiap Civic generasi sebelumnya, adalah setting suspensi yang unbelievably ekstralembut. Thanks to sepasang suspensi multi-link di belakang menggantikan double wishbone lamanya.

Kini merasakan kenikmatan berkendara Civic tidak perlu mengorbankan kenyamanan dengan kerasnya bantingan lagi. Ban Bridgestone Potenza 215/50R17 yang digunakan juga sangat menimalisir road noise, bahkan boom noise dari luar termasuk minim.

Anehnya, karakter CVT sering sekali ‘ndut-ndut’an di kecepatan stop and go, namun hal ini mudah diatasi dengan mengaktifkan mode ECON.

Handling

Singkatnya, ini alasan mengapa Honda selalu didambakan menjadi driver’s car. Posisi duduk di depan dengan pengaturan elektris khusus pengemudi, bisa ekstrarendah hingga kaki ‘selonjoran’.

Sedangkan support besar sangat memeluk kontur badan tanpa membuat terjepit, sempurna untuk memfokuskan pandangan selalu ke depan. Begitu juga setir yang sudah tilt telescopic.

Luar biasanya, setir dengan konfigurasi dual pinion EPS baru membuat input dari pengemudi menjadi sangat akurat dan bisa dikatakan direct. Pengendalian fun tidak hanya didapat ketika kecepatan tinggi, karena koneksi setir dan ban sudah terasa demikian dari mulai berjalan.

Hanya perlu berhati-hati dan selalu sigap ketika cruising dengan kecepatan tinggi di jalan tol, karena salah input sedikit saja, setir langsung membelokkan bodi dengan sangat tajam.

Performa dan Konsumsi
 
Selain perdana memasang turbocharger, mesin L juga pertama kali kedapatan DOHC. Tidak hanya soal tenaga 171 dk, yang bahkan melebihi mesin Accord dengan bodi lebih besar, respon real-nya pun mengagumkan.
 
Turbo lag tersamarkan lag dari CVT saat kickdown dari putaran rendah. Karakter transmisinya ketika menginjak pedal secara gradual, seakan menghilangkan rasa kosong sebelum boost turbo masuk, menjadikan responnya cenderung linear.

Enaknya, CVT yang digunakan memiliki karakter bagai torque converter yang otomatis downshift dengan menurunkan rpm di 6.000 rpm ke sekitar 4.500 rpm. Juga khas ‘VTEC kicked in’ sangat terasa dari 5.000 ke 6.000 rpm.

Performanya? Menyentuh 100 km/jam meningkat lebih dari 3 detik dibanding Civic 2.0 dulu dengan angka 7,5 detik, alias paling cepat di kelasnya! Sayangnya soal konsumsi tidak terlalu menonjol untuk kapasitas 1.500 cc dan transmisi CVT.
 
Fitur

Remote Engine Start memang bukan fitur paling inovatif, tapi di Indonesia dan pada sedan Rp 400 jutaan?

Masih terasa fungsional dan praktis. Sisanya fitur yang selayaknya dimilki kelas medium sedan. Keyless entry dengan smart key, tombol start/stop engine, tombol audio setir dan cruise control yang terasa seperti controller Playstation, hingga MID yang bisa menunjukkan berapa km lagi oli harus diganti, meski memang bukan layar TFT seperti versi flagship di luar.

Memang belum ada parkir paralel dan seri otomatis, namun paling tidak Civic sudah dilengkapi rem parkir elektrik, 6 airbag kecuali varian Prestige, hingga berbagai fitur safety seperti HSA, BOS, VSA dan 2 dudukan ISOFIX di belakang.

Jendela otomatis Auto Up/Down untuk pengemudi dan penumpang depan. Sayangnya, spion lipat elektrik tidak dibarengi mode otomatis saat mobil dikunci. Catatan HU yang digunakan. Terlepas kapabilitasnya memutar berbagai media hingga GPS, ini bukan HU versi global seperti pada Accord.

Kurang sensitifnya layar kapasitif, buruknya reproduksi suara karena selalu terdengar dari tengah, meski 3D Sound mati dan fader sudah diset sangat ke depan, hingga yang terparah, slot USB dan HDMI yang diletakkan dalam laci, membuat kabel harus terjepit ketika mirroring. * TIm Otomotif

Data Spesifikasi:
Mesin: L15B7, 4-silinder segaris DOHC, 16 Katup, Single Scroll Turbocharger dengan VTEC
Kapasitas: 1.498 cc
Rasio Kompresi: 10,6 : 1
Layout Mesin: Mesin Depan Penggerak Depan
Tenaga Maksimum: 171 dk @ 5.500 rpm
Torsi Maksimum: 220 Nm @ 1.700 – 5.500 rpm
Transmisi: Otomatis CVT Earth Dreams Technology
Dimensi (p x l x t): 4.630 mm x 2.075 mm x 1.416 mm
Wheelbase: 2.700 mm
Radius Putar: 5,327 m
Ground Clearance: 133 mm
Sistem kemudi: Dual Pinion Electric Power Steering (EPS)
Suspensi Depan: MacPherson Strut
Suspensi Belakang: Multi Link
Rem Depan/Belakang: Cakram Berventilasi/Cakram dengan ABS, EBD, BA dan Brake Override

System
Ban: Bridgestone Potenza, 215/50R17
Kapasitas Tangki: 47 liter
Berat: 1.331 kg
Harga: Rp 475.500.000 (on the road Jakarta)

Data Tes:
Akselerasi
0 – 60 km/jam: 3,6 detik
0 – 100 km/jam: 7,5 detik    
40 – 80 km/jam: 2,9 detik
0 – 201 m: 10,1 detik
0 – 402 m: 15,5 detik
Konsumsi:
Dalam Kota: 9,3 km/liter
Luar Kota: 15,7 km/liter
Konstan 60 km/jam: 23,5 km/liter @ 1.350 rpm
Konstan 100 km/jam: 17,6 km/liter @ 1.900 rpm

Pesaing:

Test Drive All New Honda Civic 1.5L ES
Pesaing. All New Toyota Corolla Altis 1.8V A/T

All New Toyota Corolla Altis 1.8V A/T
Mesin: 2ZR-FE 4-silinder segaris 1.798 cc Dual VVT-i
Tenaga / Torsi: 149 dk /  Nm
Transmisi: CVT dengan mode manual 7-percepatan
Harga: Rp 444.100.000 (on the road Jabodetabek)

Test Drive All New Honda Civic 1.5L ES
Pesaing. New Ford Focus Titanium 4-Door

New Ford Focus Titanium 4-Door
Mesin: 1.5L Ecoboost 4-silinder segaris 1.498 cc dengan turbocharger
Tenaga / Torsi: 178 dk / 240 Nm
Transmisi: Kopling Ganda 6-percepatan
Harga: Rp 502.280.000 (on the road Jabodetabek)

EDITOR

Bagja

Jumat,23 Sept 2016 10:30 WIB

Toyota Sienta - Test Drive Review

Senin,19 Sept 2016 15:15 WIB

All New Honda BeAT ESP 2016 - Test Ride

Jumat,9 Sept 2016 13:30 WIB

KUN Bali & Banyuwangi 2016

Top