Jumat,19 Feb 2016 10:08 WIB

Penulis: Otomotifnet

Test Drive All New Nissan Navara NP300 VL

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Test Drive All New Nissan Navara NP300 VL

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    D-cab apalagi yang pakai LED untuk headlight-nya?

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    MID TFT mirip punya X-Trail, lebih besar dibanding milik Hilux V

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    HU 2-DIN tanpa penyesuaian sudut sehingga sering tersilaukan cahaya matahari di siang hari

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Lebih lengkap daripada X-Trail Hybrid loh, ada cruise control-nya

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Jok Penumpang

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Jok belakang tidak dapat dilipat terpisah ada tambahan cupholder

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Satu-satunya d-cab dengan coil spring, antisipasi bagian belakang mudah bergoyang ya kalau bawaannya lebih dari 500 kg

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Dimensi Bak: 1.503 mm x 1.560 mm x 474 mm

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Dibanding kamera belakang, kami lebih pilih sensor parkir supaya enggak panik ujung bak yang kelewat panjang menabrak tembok

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Shift on the fly, differntial lock digabung ke low range gearbox

Satu-satunya d-cab dengan per keong, apakah Navara lebih pantas mengarungi ramainya kota?

Jakarta - Kalau bertanya apa kepanjangan dari NP, jawabannya adalah Nissan Pick-up. Masih ingat momen momen launching Navara generasi ketiga ini di Gandaria City, Jaksel dan beberapa fakta ditunjukkan. Bukan soal bagaimana double cabin ini menembus Gunung Tambora, namun lebih ke mesin class leading-nya dengan tenaga 190 dk dan torsi 450 Nm, fitur class leading dengan cruise control, smart key dan tombol engine start/stop dan jadi satu satunya pikap dengan coil spring.

Bahkan semenjak itu, OTOMOTIF tidak sabar untuk sesi test drive Navara NP300 ini. Pertanyaan besar pun muncul. Apakah d-cab ekstra-modern ini lebih cocok jadi metropolitan city cruiser atau pengangkut peralatan tambang dan para pekerjanya yang perlu melewati medan kasar setiap harinya? • (otomotifnet.com)

Fitur

Pertama kali masuk kabin, tidak menyangka akan menemukan spion tengah electrochomatic, yang akan meredup dengan sendirinya jika terkena pancaran lampu. Saat masuk ke terowongan di jalan tol pun, kembali terkejut saat lampu putih menyala instan secara otomatis, begitu juga high beam yang juga putih, ternyata karena penggunaan LED headlights. Intelligent key untuk buka kunci hanya dengan sentuh tombol di handel pintu, tombol start/stop, kamera mundur dan cruise control juga sangat terasa tidak biasa di dalam sebuah d-cab yang biasanya pelit fitur.

Namun yang paling membuat senang, instrument cluster dengan layar TFT 3D seperti dari X-Trail juga diturunkan ke Navara. Oh, HU aftermarket Kenwood juga memberikan harapan palsu karena bertuliskan Bluetooth, namun muncul tulisan ‘No Bluetooth Dongle’ saat menunya dipilih. Penggunaannya juga sekaligus membuat kehadiran tombol voice command dan fungsi teleponi di setir tidak berguna. Tuas transfer case juga absen, diganti kenop elektronik rotary dengan fitur shift on the fly yang dapat berganti mode dari penggerak 2 roda ke 4 roda ketika mobil dalam keadaan berjalan.

Desain & Dimensi

Navara bukan jadi yang terpanjang atau yang terlebar di kelasnya, namun pandangan sekilas pada fascia depan pasti langsung menimbulkan respon. “Wah, gede banget ya…” Memang benar, moncongnya termasuk tinggi dan panjang. Yang jelas, lampu DRL LED berproyektor, pelek 18 inci dual tone dan lis krom di pintu sangat menyiratkan ‘ini bukan kendaraan komersial biasa’. Di dalam lebih mirip X-trail, namun semua bahan soft touch diganti plastik biasa dan cenderung terlihat murah. Center fascia besar berkelir piano black juga tidak diimbangi dengan HU aftermarket-nya.

Kenyamanan Seperti biasa, jok tebal khas Nissan membuat duduk terasa paling empuk di kelasnya. Lapisan kulit pada jok pun terasa baik. Hanya saja, tester OTOMOTIF setinggi 175 cm terasa agak sulit menemukan posisi duduk paling ergonomis meski pengaturan sudah elektik 8 arah. Mungkin karena tidak ada telescopic steering dan setting dasarnya yang terlalu dekat dengan instrument cluster.

Menggunakan coil spring di belakang, apakah jadi lebih nyaman dibanding d-cab lainnya? Jelas iya. Bukan hanya per keong, wheelbase terpanjang pun jadi salah satu alasan mobil ini anteng saja di kecepatan tinggi maupun jalan rusak. Diisi total 5 orang pun masih belum memberikan efek memantul-mantul di kecepatan tinggi, sehingga masih terasa sangat nyaman.

Performa

Mesin YD25DDTi kini bertambah canggih setelah kedatangan turbocharger Variable Geometry System (VGS) dengan intercooler. Spesifikasi di atas kertas tidak bohong. Torsi 450 Nm yang muncul sedini 2.000 rpm mudah saja memberikan sensasi ooomph diesel, namun tentu tidak ‘semenjambak’ seperti SUV monokok yang berbobot jauh lebih ringan.

Sayangnya, mesin ini membuat suara yang cukup kencang dari luar yang bahkan tembus ke kabin lebih parah. Untungnya suara whooshing turbo saat nge-boost akan menutupi hal tersebut ketika VGS sudah bekerja optimal.
Angka pun tidak berbohong. Akselerasi dari diam ke 100 km/jam di bawah 10 detik jadi yang tercepat di kelasnya, dengan catatan anda menggunakan manual mode pada transmisinya dan menaikkan gigi ketika putaran menyentuh 3.500-3.700 rpm, sehingga mesin kembali ke rentang kerja torsi maksimum.

Konsumsi

Tenaga besar, konsumsi boros? Tenang saja, tidak begitu kok. Jika bermain gentle dengan pedal gas, OTOMOTIF berhasil memperoleh angka 9,7 km/liter untuk rute macetnya dalam kota yang dikombinasikan dengan tol.
Ketika boros pun, tidak akan jauh dari angka 1:8, thanks to karakter mesin diesel yang cukup hemat saat crawling.

Jok Penumpang

Navara jadi satu-satunya yang menyediakan lubang AC untuk baris kedua. Joknya pun tidak dapat di-recline karena mentok ke struktur belakang. Postur jelas tegak, tapi sedikit lebih rileks dibandingkan d-cab lainnya. Sementara bagian bawah jok penumpang terasa terlalu pendek sehingga tidak dapat menopang seluruh bagian paha. Akibatnya, perjalanan panjang pasti jadi cepat pegal. Uniknya, ada dua tambahan cup holder di tengah, padahal di tiap pintu pun sudah ada satu. Buat yang butuh meletakkan barang cukup besar, bagian bawah jok belakang bisa dilipat, tetapi tidak bisa dipisah.

Testimoni

Nicholas Hadi, 23 Tahun, pemilik Suzuki Baleno 1996
Naik Navara terasa sangat besar, begitu juga saat dikemudikan di jalan. Memutar juga jadi PR, untung ujung kap mesin sangat terlihat jadi mengurangi rasa cemas-cemas menabrak yang di depan. Saya suka lampu LED-nya yang terasa futuristik. Perjalanan pun terasa cukup nyaman dibanding pikap lainnya yang pernah saya coba.

Data Spesifikasi
Mesin: YD25DDTi Diesel 4-silinder segaris, dengan VGS Turbo Intercooler
Kapasitas: 2.488 cc
Tenaga Maksimum: 190 dk @ 3.600 rpm
Torsi Maksimum: 450 Nm @ 2.000 rpm
Transmisi: Otomatis 7-percepatan dengan Manual Mode
Dimensi (p x l x t): 5.255 mm x 1.850 mm x 1.820 mm Dimensi Bak: 1.503 mm x 1.560 mm x 474 mm Wheelbase: 3.150 mm
Ground Clearance: 228 mm
Approach & Departure Angle: 32,4° & 26,7°
Wading Depth: 450 mm
Sistem kemudi: Rack & Pinion dengan power steering
Suspensi Depan: Independent Doublewishbone dengan Front Stablizer Bar
Suspensi Belakang: 5-link Coil Spring dengan Shock Absorber
Rem Depan/Belakang: Ventilated Disc/Drum dengan ABS, EBD dan BA
Ukuran Ban: 255/60R18
Kapasitas Tangki: 80 liter
Harga: Rp 430 juta on the road Jakarta

EDITOR

Bagja

Top