Kamis,18 Feb 2016 16:10 WIB

Penulis: Otomotifnet

Test Drive All New Toyota Vellfire 2.5 G

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Performa mesin 2AR-FE yang cukup untuk dalam dan luar kota justru mempertanyakan eksistensi mesin yang lebih besar

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Kalau pencet tombol dari belakang, bagasi terbuka manual. Fungsi elektrik baru berjalan dari remote atau dari tombol di kabin

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Beda dengan meja dari tiap arm rest pada Alphard 3.5 Executive Lounge, varian 2.5 G pakai 1 meja plastik di tengah jok

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Sunroof depan hanya bisa tilt secara manual

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Jok tengah tidak bisa di-slide hingga mentok jika bangku belakang dinaikkan

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Wireless charger diposisikan di belakang center console, jangan lupa hanya untuk smartphone dengan teknologi Qi

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Empat kamera cukup membantu saat parkir, sayang kualitas resolusinya terasa rendah

Jakarta - Karena jujur, OTOMOTIF pun begitu. Bahkan semenjak Alphard generasi pertama, Toyota berhasil melahirkan sebuah image kemewahan baru bagi masyarakat Indonesia. Kini sebuah MPV kotak dan besar pun jadi tanda, bahwa pemiliknya lebih kaya dibanding mayoritas di sekitarnya. Kesan tersebut semakin melekat pada penerusnya, terutama pada versi yang sengaja dibuat untuk tampil

Beda dengan meja dari tiap arm rest pada Alphard 3.5 Executive Lounge, varian 2.5 G pakai 1 meja plastik di tengah jok lebih sporty dibanding saudaranya, Vellfire. Namun OTOMOTIF sempat khawatir karena sebelumnya justru mengetes tipe 3.5 Executive Lounge yang lebih mahal dan takut variannya yang lebih murah Rp 600 jutaan ini terlampau jauh soal kemewahan dan kenyamanannya. Untungnya, hal tersebut sama sekali tidak benar. Cek review di bawah yaa. • (otomotifnet.com)

Performa & Handling

Tidak etis rasanya membicarakan bagaimana sebuah van kotak dengan bobot 2 ton melahap sebuah tikungan. Namun posisi duduk Vellfire yang cenderung rendah ternyata sangat membantu menghilangkan gejala limbung. Ditambah lagi kontur jok depan dan ottoman seat baris kedua sangat memeluk, sehingga meminimalisasi rasa body roll.

Toh sebenarnya kami cukup terkejut. Memang tidak ada unsur fun to drive sama sekali, namun putaran setir yang cukup berat dan berbobot, memberikan feedback setir yang baik dengan aspal. Ban seakan dibantu bobot mobil untuk tetap merekat, hingga tidak mudah kehilangan traksi.

Mesin Camry terbaru yang menggantikan 2AZ-FE lawas memang bukan mesin roket, but it gets the job done. Output dalam mode Eco mati maupun nyala sama-sama sangat mulus yang memberi rasa seamless drive, tetapi tidak menyulitkan ketika tenaga dibutuhkan untuk menyusul. Terbukti dari angka 0-100 km/jam yang membaik 1,3 detik dibanding sebelumnya dan perkembangan nilai 0,4 detik di 40-80 km/jam.

Fitur

Vellfire 2.5 G dibekali cukup banyak fitur. Sebut saja jok driver dan penumpang depan sudah full elektrik. Begitu juga ottoman seat yang bisa recline dan memiliki sandaran kaki elektrik, meski slide masih manual. Menambahkan fungsi passive keyless entry, kami suka bagaimana lounge light dan ambient light menyala ketika pengemudi yang membawa kunci datang menghampiri mobil sebelum menyentuh apapun.

Proyektor lampu yang memancarkan tulisan ‘Vellfire’ ala karpet sambutan di pintu geser kiri pun tidak pernah berhenti membuat kagum setiap orang yang kami ajak untuk coba jadi penumpang. Satu hal yang kurang sreg, head unit dengan layar sentuh 8 inci terasa kurang premium dengan tampilan Android generik. Kualitas suara radio pun jadi korbannya, meskipun memainkan media dari iPod dan CD tetap punya kualitas jempolan. Kualitas gambar Panoramic View Monitor juga kalah jauh dari milik Elgrand dan butuh waktu terlalu lama dari tuas dimasukkan ke R sampai gambar ditampilkan di layar.

Desain & Dimensi

Dibanding sebelumnya, MPV yang namanya berasal dari kombinasi kata ‘Velvet’ dan ‘Fire’ ini lebih panjang 50 mm dan lebih lebar 55 mm, namun lebih pendek 10 mm. Biar seakan lebih pesek, desain gril raksasa Alphard diganti lis krom besar tiga bilah dan lampu dua baris khas Vellfire tetap kentara. Soal gril bawah, versi ZG yang dihadirkan importir umum justru terlihat jauh lebih sangar.

Kerennya, kelir Burning Black Crystal Shine membuat bodinya terlihat berwarna ungu dengan glitter di bawah sinar matahari dan jadi warna hitam di waktu lainnya. Cocok untuk bagian belakang Vellfire yang cenderung terlihat monokrom. Berikut tiga kata yang mewakilinya: ‘Majestic, Bold &

Konsumsi

Untuk ukurannya yang gambot, konsumsi mesin berkapasitas 2,5 L sebenarnya cukup ramah. Angka dalam kota dan konstan 60 km/jamnya pun secara mengagetkan lebih baik dibanding mesin bensin pada All New Kijang Innova. Memang sistem idling stop sangat membantu di lampu merah dan saat macet, apalagi adanya Brake Hold yang membuat tidak perlu terus menerus menahan pedal rem, sayang proses nyala dan matinya masih cukup kasar dan tidak bisa melebihi 30 detik kondisi idle stop.

Oh iya, dibanding menyalakan mode Eco aktif, kami lebih memilih memainkan gas dengan benar dalam mode standar karena hasil konsumsi yang tidak terpaut jauh, feel yang sama-sama halus dan overtaking yang lebih mudah dilakukan.

Kenyamanan

Mulai dari tengah, naik ke kabin terasa sangat mudah meski tingginya hampir 4,9 meter. Ottoman seat memiliki lebar lebih kecil dibanding varian 3.5 Executive Lounge. Memang tidak selembut sofa seperti di dalam Maybach, tetapi dipastikan sangat mudah tertidur di perjalanan dalam posisi recline dan menaikkan sandaran kaki sambil merasakan lembutnya kulit Nappa yang digunakan. Soal bantingan, tidak seempuk generasi sebelumnya dan karakter kasar khas van boxy saat melewati jalan berlubang parah di kecepatan sedang tetap hadir.

OTOMOTIF bingung bagaimana bunyi ‘kret kret’ terus-terusan hadir di kedua pintu depan, sangat mirip dengan gejala pada Alphard 3.5 Executive Lounge yang sebelumnya juga kami rasakan, padahal odometer unit tes yang digunakan baru menyentuh angka 8 ribuan km.

Namun saat cruising pasti jadi alasan banyaknya kaum aristokrat memilih keluarga Alphard ini. Kami suka CVT dengan feeling natural, namun tuas terasa kasar saat dipindahkan dari D ke N. Rasa seamless drive dan feeling terisolasi dari luar, tetap didapatkan seperti pada varian tertingginya.

Testimoni

Testimoni. F. Joko Trimartono, 52 Tahun, Pemilik Hyundai H-1 XG CRDi 2012
Testimoni. F. Joko Trimartono, 52 Tahun, Pemilik Hyundai H-1 XG CRDi 2012

F. Joko Trimartono, 52 Tahun, Pemilik Hyundai H-1 XG CRDi 2012

Dari jok depan sampai belakang sangat kentara kenyamanannya, tapi kalau mau masuk ke baris ketiga agak sempit dan menyulitkan. Saya paling suka dengan fitur panoramic sunroof-nya apalagi ada ambient lighting, tapi standar kacanya kurang dapat menolak panas matahari jadi kurang bisa dinikmati setiap saat. Soal tenaga mungkin perlu sedikit tambahan.

Data Spesifikasi

 

Mesin: 2AR-FE, 4-silinder segaris dengan Dual VVT-i
Kapasitas: 2.494 cc
Tenaga Maksimum: 178 dk @ 6.000 rpm
Torsi Maksimum: 234 Nm @ 4.100 rpm
Transmisi: Otomatis CVT dengan simulasi 6-percepatan
Dimensi (p x l x t): 4.930 mm x 1.850 mm x 1.895 mm
Wheelbase: 3.000 mm
Ground Clearance: 160 mm
Sistem kemudi: EPS (Electronic Power
Steering) Rack & Pinion
Suspensi Depan: MacPherson Strut dengan Torsion Bar
Suspensi Belakang: Double Wishbone dengan Torsion Bar
Rem Depan/Belakang: Ventilated Disc/Ventilated
Disc dengan ABS, EBD dan BA
Ukuran Ban: 235/50R18
Kapasitas Tangki: 75 liter
Harga: Rp 989.600.000 on the road Jakarta

 

Data tes

Akselerasi:

0 – 60 km/jam: 6,1 detik
0 – 100 km/jam: 13,3 detik
40 – 80 km/jam: 5,4 detik
0 – 201 m: 12,6 detik
0 – 402 m: 19,2 detik

Konsumsi (liter:km):

Dalam Kota: 9,3 km/liter
Luar Kota: 10,8 km/liter
Konstan 60 km/jam: 18,9 km/liter
Konstan 100 km/jam: 13 km/liter

Pesaing. Nissan Elgrand 2.5 L Highway Star Leather
Pesaing. Nissan Elgrand 2.5 L Highway Star Leather

Pesaing

Nissan Elgrand 2.5 L Highway Star Leather
Mesin: QR2DE, 4-silinder segaris, 2.488 cc
Tenaga/Torsi: 168 dk @ 5.600 rpm/245 Nm @ 3.900 rpm
Transmisi: CVT dengan Manual Mode
Harga: Rp 920.150.000 on the road Jabodetabek

EDITOR

Bagja

Top