Rabu,25 Mei 2016 12:10 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Drive Audi A6 1.8 TFSI

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Audi A6 1.8 TFSI

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Desain interior dengan kayu matte menjauhkan dari kesan murahan

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Meski belum full seperti di Q7, Semi Virtual Cockpit dan model 3D dari spidometer dan takometernya tetap memberi kesan futuristis

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Meski kamera mundur jadi fitur standar, namun akan lebih menyenangkan kalau ada active parking assist di harga ini seperti pesaing

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Click-click, begitu suara yang terdengar dari setiap tombol yang rasa penekanannya sangat solid

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Isi trackpad ini bisa berubah, kosong dengan empat border untuk menulis di kolom navigasi dan jadi angka preset radio di waktu lainnya

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Akhirnya, tersedia slot USB di Audi setelah sekian lama mengandalkan AMI Aux Cable

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Passanger oriented, jok belakang luas dengan krey samping manual, armrest gambot hingga jok yang sudah entertaiment ready

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Selain pengaturan full elektrik, headrest bisa diatur maju mundur yang bahkan tidak ditemukan di Q7

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Bagasi 530 liter sedikit lebih luas dibanding BMW Seri 5, buka jok dari dalam maka kapasitas meningkat hingga 995 liter

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Ketika dipakai di kondisi stop and go, yang berhasil menahan konsumsi dalam kota tetap hemat bahkan tanpa fitur Auto Stop/Start.

Ketika Mercedes-BMW merajalela dan pabrikan Jerman lainnya coba mengungguli dengan kapasitas mesin terkecil

Jakarta - Diferensiasi nowadays bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibuat. Lebih murahnya harga E-Class dan Seri 5 dengan spesifikasi mesin lebih tinggi, tentu membuat PT. Garuda Mataram Motor harus memutar otak, bagaimana agar sedan A6-nya bisa dilirik kaum ‘The Have’. Well, hal tersebut pun dilakukan. Ketika Audi Global fokus memasarkan versi 2.0T dan 3.0T, Indonesia membawa versi mesin terkecilnya. Yes, saloon yang panjangnya hampir 5 meter ini dipasang mesin berkapasitas 1.800 cc, dengan bantuan turbocharger tentunya. Apakah cukup untuk meyakinkan calon konsumennya untuk mengalihkan lirikannya dari The Bavarian dan The Star? • (otomotifnet.com)

Fitur

Varian Audi A6 1.8 TFSI  ini memang diset sebagai A6 entry level, namun harga on the road di atas Rp 1,2 miliar tidak membuat ekspektasi soal fitur merendah. Kabar baik langsung datang dari kunci, yang tidak perlu dikeluarkan dari kantong tiap saat. Tombol start/stop engine sudah jadi standar, meski agak aneh posisinya ada di sisi kiri tuas transmisi. Jok kiri dan kanan pun sudah bisa diatur secara elektris, meski penumpang tidak kedapatan memory seats. Oh iya, pengaturan tilt & telescopic setir masih harus dilakukan secara manual, di saat pesaing dengan kelas di bawahnya sudah ada yang elektris.

Poin plus selanjutnya adalah AC yang bisa diatur suhu dan kipasnya dengan empat zona yang berbeda, lalu ada EPB (Electromechanical Parking Brake) yang sudah dilengkapi Auto Brake Hold. Sedangkan poin minus terhadap ambient lighting tanpa pilihan warna, lampu depan Xenon dan tidak adanya auto high beam. Oh hei, Anda harus mengeluarkan lebih untuk memperoleh rear seat entertainment meski slot-nya sudah tersedia.

Yang cukup membuat bingung adalah Audi MMI touch. Meski layar motorized terlihat canggih, namun penggunaannya yang cukup kikuk membuatnya tidak lebih mudah dipakai dibanding iDrive BMW dan COMAND Mercedes. Kenop rotari yang terlalu kecil dan berarah terbalik saat diputar, jelas kurang nyaman untuk dioperasikan. Banyaknya tombol yang harus ditekan untuk masuk ke satu menu saja, berarti pengemudi harus mempelajari sistemnya terlebih dahulu sebelum mulai menyetir.

Handling & Kenyamanan

Membicarakan handling di sedan gambot seperti A6 memang terasa cukup aneh, namun kami suka bagaimana sasis yang dirancang Audi, membuat mobilnya terus menempel di aspal ketika bermanuver. Wheelbase panjang hampir 3 meter, membuat cruising feels like a breeze, baik dalam mode Comfort, Auto maupun Dynamic. Putaran setir pada kecepatan rendah juga terasa ringan berkat electromechanical power steering.

Pada kecepatan tinggi, feeling akurat antara putaran setir dengan ban didapatkan ala mobil Jerman, sayang tidak dibarengi perasaan fun seperti pada BMW. Penggerak depan pun tidak memberikan rasa understeer berkat ESC yang sempurna. Dengan mode Dynamic, putaran setir menjadi lebih berat.

Namun sasis yang sudah kaku ini juga dibarengi penggunaan suspensi yang cukup keras. Meski lebih diprioritaskan untuk penumpang, bantingan yang cukup keras pada semua mode terasa kurang pantas, padahal pelek yang dipakai masih lebih kecil 1 inci dibanding versi 3.0 TFSI.

Performa

Bila hanya membaca G-Force Badging di buritan, 35 TFSI terasa seakan sedan dengan mesin berkapasitas sekecil Toyota Corolla Altis ini bisa menandingi mesin 3.500 cc. Yang jelas, rasa dari mesin ini sangat terbantu oleh ‘rumah keong’ yang digunakan. Pada mode Comfort dan Auto yang menjaga putaran mesin serendah mungkin, memang tarikan terasa sedikit berat. Kickdown akan terasa lag yang cukup besar, dibanding mesin BMW dengan twin-scroll turbocharger-nya.

Meski on paper torsi sudah maksimum di 1.400 rpm, tenaga sebenarnya baru terasa ketika jarum menyentuh lebih dari 2.500 rpm. Untungnya, hal ini teratasi dengan masuk ke mode Dynamic, yang selalu membuat putaran mesin standby di 2.000- an rpm. Cukup injak pedal gas dan respon turbo untuk melesat terasa instan. Yang jelas, transmisi dual-clutch melakukan upshift dan downshift hampir tanpa jeda waktu. Bonus ‘DSG Fart’ bila mengoperasikannya dengan manual shifter di tuas transmisi.

Konsumsi

Ini benar-benar sektor yang menguji A6 1.8 TFSI. Teringat jalan di MT Haryono hingga Kebon Jeruk yang benar-benar macet, MID pun tidak pernah menunjukkan angka lebih parah dari 8 km/liter. Dikombinasikan dengan tol, angka 8,6 km/liter merupakan yang terakhir terekam di MID setelah lebih dari 230 km pengujian. Saat turbo belum benar-benar terpakai, ketika konstan 60 km/jam di 1.200 rpm, angka kurang dari 4L/100km pun ditunjukkan. Luar biasa untuk sedan sekelas ini. Hal ini jelas juga menggambarkan ketika dipakai di kondisi stop and go, yang berhasil menahan konsumsi dalam kota tetap hemat bahkan tanpa fitur Auto Stop/Start.

Data Spesifikasi  Audi A6 1.8 TFSI

Mesin: 4-silinder segaris dengan Direct Injection, Turbocharging Module dan Audi Valvelift System
Kapasitas Mesin: 1.798 cc
Rasio Kompresi: 9,6 : 1
Layout Mesin: Mesin Depan Penggerak Depan
Tenaga Maksimum: 190 dk @ 4.200 – 6.200 rpm
Torsi Maksimum: 320 Nm @ 1.400 – 4.100 rpm
Transmisi: Otomatis Dual Clutch 7-percepatan S tronic
Dimensi (p x l x t): 4.933 mm x 1.874 (2.086)* mm x 1.455 mm *lebar dengan spion
Wheelbase: 2.912 mm
Ground Clearance: 126 mm
Radius Putar: 5,95 m
Sistem kemudi: Electromechanical Power Steering
Suspensi Depan: Five-link, Double Upper & Lower Wishbone, Anti-roll Bar dan Per Besi
Suspensi Belakang: Self-tracking Trapezoidallink Axle dengan Wishbone, Anti-roll Bar dan Per Besi
Rem Depan/Belakang: Cakram Berventilasi/ Cakram dengan ABS, Hydraulic Brake Assist, ESC, HSA
Ukuran Ban: 245/45R18
Kapasitas Tangki: 65 liter
Berat: 1.645 kg
Harga: Rp 1,250 miliar (on the road Jakarta)

Data test Audi A6 1.8 TFSI

Akselerasi
0 – 60 km/jam: 3,8 detik
0 – 100 km/jam: 8,1 detik
40 – 80 km/jam: 3,3 detik
0 – 201 m: 10,4 detik
0 – 402 m: 16,1 detik

Konsumsi
Dalam Kota: 8,4 km/liter
Konstan 60 km/jam: 25,6 km/liter @ 1.200 rpm
Konstan 100 km/jam: 17,5 km/liter @ 1.500 rpm

Pesaing

Mercedes-Benz E 250 Avantgarde
Mesin : 4-silinder 1.911 cc dengan
turbocharger
Transmisi : Otomatis 7-percepatan
Harga: Rp 1,059 miliar (off the road).

BMW 528i Luxury
Mesin : 4-silinder 1.977 cc dengan twin scroll
turbocharger
Transmisi : Otomatis 8-percepatan
Harga MT : Rp 1,039 miliar (off the road)

EDITOR

Bagja

Top