Senin,21 Sept 2015 11:15 WIB

Penulis: pewete pewete

Test Drive Hyundai Grand Avega Limited AT

Foto: Rian, ISTIMEWA

Test Drive Hyundai Grand Avega Limited AT



Tarikan bawah kurang responsif menjadi kekurangan versi lamanya, sedangkan harga yang murah adalah kelebihannya. Kini seperti terbalik


Jakarta - Masih ingat ketika PT. Hyundai Mobil Indonesia meluncurkan Grand Avega dengan gaya fluidic sculpture-nya di tahun 2011, ketika varian A/T-nya dapat diperoleh di bawah Rp 170 juta? Well, versi terbarunya kini dibanderol Rp 232 juta. Empat tahun dan Rp 62,2 juta kemudian, apa saja yang didapat?



HU 2-DIN Clarion memang bukan eye pleaser, tapi memaksimalkan kualitas 4-speaker yang dipakai

Dari luar, body kit depan baru kini terlihat lebih menyatu dengan bumper. Bersama gril hitam dikelilingi list krom hingga DRL pada fog lamp, tampilan hatchback berkode RB ini jauh dari tanggal kadaluarsanya. Paling eksentrik, warna Vitamin-C yang hanya tersedia pada varian Limited membuatnya mirip Veloster Turbo!



MID baru ada suhu di luar, sisa jarak yang dapat ditempuh juga dapat didetailkan hingga di bawah 50 km

Masuk ke dalam, lagi-lagi disambut tema senada dengan jok kulit kelir Light Brown. Sayangnya, warna interior dual tone abu-abu sedikit membuatnya tidak nyambung. Posisi duduk masih jauh lebih rendah, yang berbeda kini headrest terasa lebih empuk.

Kappa CVT vs Gamma A/T

Mesin masih di-starter dengan memutar kunci, motor yang membangunkan jantung Kappa berkapasitas 1.368 cc-nya terdengar lebih halus dibanding mesin Gamma pada generasi awal. Masukkan tuas transmisi ke D, injak gas pol dan badan langsung menempel ke jok.



Kulit baru di setir masih kurang rapi jahitannya, tapi genggaman kini jadi terasa pas

Jelas ini mengagetkan, mengingat versi mesin Gamma dengan transmisi otomatis 4-percepatan cukup terkenal dengan lemot tarikan awalnya. Sepertinya kombinasi CVT dengan mesin Kappa D-CVVT cukup sukses menyelesaikan masalah tersebut. Karena overtake pun kini mudah dilakukan, tidak perlu mengambil ancang-ancang lagi dari jauh.



Kini dilengkapi Shift Lock Release, untuk dipindahkan ke atau dari P saat mesin mati perlu ditekan terlebih dahulu

Tarikan bawah yang lebih baik biasanya akan membuat konsumsi BBM dalam kota yang lebih baik, kan? Tidak juga, kalau tergiur dengan enaknya cara Grand Avega melaju di stop and go sekarang.



Duduk di belakang masih tegak, namun head rest lebih empuk

Namun bila kaki cukup disekolahkan, OTOMOTIF mendapat angka 11,5 km/liter dengan gaya eco driving rute kombinasi tol dan macetnya Jakarta, naik 1,2 km/liter dari versi terdahulunya. Sama ceritanya dengan performa. Memang tenaga turun 8 dk, namun penggunaan continous belt itu membuat waktu yang diperlukan untuk berakselerasi ke 100 km/jam, naik 1,1 detik dari sebelumnya.



Penggunaan transmisi CVT membuat tarikan bawah jadi jauh lebih responsif

Lebih Stabil?


Bantingannya ini terasa lebih keras dibanding sebelumnya, mungkin karena penggunaan pelek 15 inci. Secara teori harusnya jadi lebih stabil. Overall sih iya, tetapi ban Achilles 122 yang digunakan membuat permukaan aspal tidak rata cukup terasa di kabin.

Kecepatan tinggi pun lebih limbung dibanding sebelumnya, namun bagian belakang tidak lagi mantul-mantul, yang dulu menjadi masalah. Enaknya, menikung kini bisa lebih pede. Meski limbung, namun body roll sangat minim, apalagi gerakan badan sangat tertahan oleh kontur jok semi bucket.

Bila saja kestabilan menikung tersebut didukung ban yang lebih menahan understeer-nya, pasti akan jauh lebih fun to drive. • (otomotifnet.com)

DATA SPESIFIKASI

Data Spesifikasi:Mesin: Kappa 1.4L berkapasitas 1.368 cc dengan Dual CVVT
Output Maksimum: 100 dk @ 6.000 rpm
Torsi Maksimum: 133 Nm @ 4.000 rpm
Transmisi: CVT dengan Shifttronic 6-percepatan
Dimensi (p x l x t): 4.115mm x 1.700 mm x 1.457 mm
Wheelbase: 2.570 mm
Sistem kemudi: EPS (Electronic Power Steering)
Suspensi Depan: MacPherson Strut dengan Stabilizer
Suspensi Belakang: Coupled Torsion Beam
Rem Depan / Belakang: Disc / Drum
Ukuran Ban: 185/60R15
Harga: Rp 232 juta on the road Jakarta

Data Tes:
0-60 km/jam: 5,3 detik
40-80 km/jam: 5,2 detik
0-100 km/jam: 12,3 detik
0-201 m: 11,9 detik
0-402 m: 18,4 detik

Data Konsumsi:
Dalam Kota (Kombinasi): 11,5 km/liter
Konstan 60 km/jam: 24,4 km/liter @ 1.450 rpm gigi 5
Konstan 100 km/jam: 17,3 km/liter @1.900 rpm gigi 6



HYUNDAI DAN CVT

Bosan bermain dengan transmisi otomatis konvensional, kini Hyundai mulai bereksperimen dengan jenis yang lebih canggih. Setelah sukses membangun transmisi otomatis 8-percepatan pada line-up mewahnya seperti Equus dan Genesis pada tahun 2012, CVT dan DCT (Dual Clutch Transmission) pada model yang lebih mainstream, seperti Accent, Elantra, Tucson dan Sonata di atas tahun 2014.

DCT menggantikan peran transmisi otomatis 6-percepatan yang dulu biasa digunakan pada line-up bermesin Theta maupun Gamma berkapasitas di atas 1.600 cc, sedangkan yang menggantikan penyalur tenaga mesin yang lebih kecil adalah continously variable transmission atau CVT.

Dikembangkan untuk dua jenis penggunaan, yaitu HEV-CVT yang digunakan pada kendaraan hybrid Hyundai-Kia seperti Elantra dan Forte Hybrid, sedangkan Grand Avega Limited di Indonesia menggunakan tipe Kappa-CVT, yang juga diterapkan pada Kia Morning (Picanto) dan Ray di Korea.

Tujuannya, efisiensi yang lebih baik melalui ultra-flat torque converter. Kelebihan yang diberikan berupa kontrol kopling yang lebih presisi, high-precision direct solenoid & sub-transmisi 2-percepatan dan fungsi idle stop & go (tidak hadir di Indonesia). Rentang torsi yang dapat ditaklukkannya dari 123 Nm - 137 Nm, dengan total berat sabuk metal yang digunakan 66 kg - 68 kg.

PESAING



New Kia Rio Platinum A/T
Mesin : Gamma 1.396 cc DOHC D-CVVT
Tenaga / Torsi: 107 dk @ 6.300 rpm / 135,3 Nm @ 4.200 rpm
Transmisi: Otomatis 4-percepatan
Harga: Rp 242.000.000 on the road Jakarta



All New Suzuki Swift GS A/T

Mesin: K14B 1372 cc DOHC VVT
Tenaga / Torsi: 93 dk @ 6.000 rpm / 130 Nm @ 4.000 rpm
Transmisi: Otomatis 4-percepatan
Harga: Rp 223.500.000 juta on the road Jakarta

TESTIMONI


Kalau GA yang lama tarikan bawahnya agak lambat, jadi perlu diakal-akali, seperti punya saya dilepas ‘belalai'nya. Di varian yang baru ini sudah tidak perlu lagi. Bantingannya juga terasa lebih pas sekarang. Sayang harganya memang tidak semurah dulu. Di level ini masih bisa lirik-lirik kelas yang lain seperti hatchback yang lebih besar atau LMPV.



Muhammad Ramon Mudman, 39 Tahun
Pemilik Hyundai Grand Avega GL A/T 2011


KESIMPULAN

Dengan selisih harga hanya Rp 2 juta dengan Honda Jazz S CVT dan Rp 3,5 juta dari Mazda2 V A/T, Grand Avega Limited ini tidak bisa lagi dibilang terjangkau. Memang karakter fun masih jauh untuk dicapai, namun paling tidak tarikan bawah yang memadai berkat penggunaan transmisi CVT kini membuatnya menjadi pengarung kota sejati, mengikuti karakter setir ringannya.

Konsekuensinya, khasnya sebagai comfort cruiser yang dulu melekat, harus sedikit tergores karena pemakaian puli yang agak berisik di putaran tinggi dan lebih sulit untuk diajak berlari konstan, terbukti dari konsumsi saat konstan 100 km/jam yang ikut turun 0,8 km/liter.









EDITOR

Otomotifnet

Top