Sabtu,27 Feb 2016 16:19 WIB

Penulis: Otomotifnet

Test Drive Mercedes-Benz GLA 200 Sport

  • Foto: sano/otomotifnet

    Dasbor indentik dengan A Class dan CLA Class

  • Foto: sano/otomotifnet

    layar HU Terlalu keil dengan resulusi rendah. Dikontrol dengan kenop rotary

  • Foto: sano/otomotifnet

    Mode transmisi dan Eco dipisah, cukup menyulitkan untuk mencari mode berkendara yang paling sesuai

  • Foto: sano/otomotifnet

    Build quality cukup jauh di bawah C Class dengan masih banyaknya plastik tersebar di kabin

  • Foto: sano/otomotifnet

    Headrest terintegrasi dengan jok dengan support memadai

  • Foto: sano/otomotifnet

    Panoramic sunroof membuat kabin GLA terasa luas

  • Foto: sano/otomotifnet

    Bagasi 40 persen lebih luas dibanding A Class, namun kalah dari Audi Q3 dan BMW X1 saat jok tengah dilipat rata

  • Foto: sano/otomotifnet

    Performa

Wujud yang lebih nyaman dibanding versi hatchback-nya, tetapi perlu berusaha untuk menemukan jati diri SUV-nya

Jakarta - Bahkan semenjak penataan ulang nama-nama Mercedes pada tahun 2014, penambahan ‘GL’ di depan abjad nama utama menandakan ‘geländewagen’ atau versi kendaraan off road dari varian standarnya. Dalam kata lain, bentuk SUV dari wujud sedan maupun hatchback aslinya. Berarti, Mercedes-Benz GLA 200 Sport adalah versi SUV dari hatch A Class. Benarkah? Sebagai gambaran, GLA dengan A Class kira-kira diposisikan sejenis seperti Audi Q3 dengan A3 dan BMW X1 dengan Seri 1. Melihat persamaannya? OTOMOTIF juga tidak.

Namun membaca tren hidup masyrakat Indonesia yang memilih SUV kompak untuk sek adar melewati jalanan rusak Ibukota, bukannya gundukan dengan kemiringan 43 derajat, kami pun mengetes bagaimana SUV terkecil Mercedes melewati kemacetan akut dan aspal berlubang Jakarta. • (otomotifnet.com)

Desain

Melihat penampakan aslinya, kayaknya lebih pas jika Mercedes menamakannya A200X atau A200 Crossover. Basis yang sama dengan versi hatchback sangat terlihat. Pembeda dengan A Class, skid plastik hitam terlihat mengitari setiap bodi dari depan sampai belakang. Varian Sport yang memberikan body kit khas AMG mengeleminasi fog lamp depan, namun hadir air dam besar dan bumper belakang seperti berdiffuser besar, menemani pelek AMG palang lima berdiameter 19 inci. Jadi, pantaskah dinamakan GLA? Hmm, more like A Class on steroid. Soal desain interior, pasti akan sulit membedakan kabin A 200 dan GLA 200 jika masuk ke dalam blindfolded. Bukan hal yang buruk, hanya sedikit outdated bila dibandingkan kabin BMW X1 dan Lexus NX.

Dimensi

Berbagi basis dengan A Class membuatnya memiliki wheelbase sama-sama 2.699 mm. Artinya, leg room pas-pasan. Beruntung ciri kompaknya dipertahankan, bahkan dengan beda tinggi 63 mm yang memberi head room lebih untuk penumpang belakang. Kabar baik lagi, ground clearance naik jadi 205 mm dari 113 mm, cukup untuk tidak membuat body kit AMG ini lecet karena mentok di jalan berlubang parah. Kemudian ruang bagasi 481 liter pun tergolong besar untuk sebuah hatchback, tetapi terlalu kecil untuk SUV. Lipat rata jok tengah, maka akan mendapatkan kapasitas total hingga 1.235 liter.

Fitur

Kami tidak suka kalau harus tetap memegang anak kunci, menekan tombolnya untuk membuka dan mengunci pintu, apalagi harus mencolok kunci dan memutarnya untuk menyalakan mesin ketika sudah mengeluarkan hampir Rp 700 juta untuk sebuah SUV kompak. Untungnya, suguhan di dalam untuk membuat mulut terdiam lebih banyak. Auto head lights HID dan rain sensing wiper jadi fitur standar, kemudian cruise control dan limiter, auto ECM, Bluetooth, kamera mundur hingga panoramic sunroof besar yang membuat cahaya natural bisa tembus ke kabin. Oh iya, fitur Brake Hold untuk tidak menahan kaki di pedal rem saat macet atau lampu merah juga dapat diaktifkan dengan memberi injakan lebih dalam ke pedal rem saat berhenti. Apa yang tidak ada? Masih banyak sayangnya. AC manual tidak masuk akal bahkan untuk SUV entry level Mercy di Indonesia. Kemudian slot USB tidak dapat membaca media dari iPhone 6 yang OTOMOTIF colok via kabel Lightning.

Handling & Kenyamaman

Satu basis dengan adik kecilnya berarti kelincahan A Class juga diwariskan. Hal itu sangat terasa dengan minimnya body roll saat menikung bahkan dalam kecepatan tinggi sekali pun. Setiap putaran setirnya akurat dan mudah diprediksi. Trade off dari kemampuan handling mumpuni adalah suspensi keras, yang sangat jelas jadi ciri A dan CLA Class. Beruntung, setting kaki-kaki GLA justru diutamakan untuk kenyamanan. Bahkan dengan RFT, bantingan sama sekali tidak terasa keras. Posisi duduk naik 40 mm dari A Class, tetap terasa terlalu rendah untuk sebuah SUV. Sandaran kepala depan meski tidak dapat diatur, tetap menjaga segi ergonomis agar tidak cepat pegal, begitu pula dengan bantalan support yang sangat memeluk badan ketika menikung. Tetapi road noise yang cukup tembus ke kabin seharusnya bisa lebih baik lagi untuk sekelas hatchback Jerman. Ups, SUV maksudnya.

Performa

Baik GLA 200 Urban atau Sport sama-sama menggunakan mesin 4-silinder berkapasitas 1.600 cc, dengan turbo yang juga dipakai di A 200, CLA 200 dan B 200. Dengan tenaga maksimum 156 dk yang disalurkan ke roda depan, mudah saja untuk menembus angka 100 km/jam dari diam dalam 9,3 detik. Sayang, kenyataan ketika dipakai sehari-hari cenderung berbeda. Tidak sesimpel menekan tombol ECO untuk membatasi performa, mode berkendara pada GLA dibagi menjadi dua, yaitu untuk mesin dan transmisi. Mode mesin bisa diubah dengan tombol Eco, membuat respon throttle melambat sekaligus mengaktifkan idle stop/start ketika di Eco dinyalakan.

Sedangkan mode transmisi dibagi menjadi tiga, yaitu E (Eco) yang langsung menaikkan gigi ketika putaran mesin mencapai 1.900 rpm, S (Sport) yang menahan agar gigi tidak dinaikkan sebelum mencapai 4.000 rpm dan M (Manual) agar pengemudi bisa menaikturunkan gigi sendiri via paddle shift. Terdengar keren? Sebaliknya, justru rasanya terlalu ribet.

Saat transmisi di E dan mode Eco aktif, respon throttle terasa lemot dan berat, bahkan menyulitkan di kondisi hampir stop & go atau tanjakan curam, karena transmisi tidak mau turun ke gigi 1. Mode Eco dimatikan pun tidak jauh berbeda kecuali anda tidak enggan untuk menginjak pedal gas agak dalam, yang berarti harus rela buang bahan bakar lebih. Mengatasi hal ini dengan memasukkan ke mode transmisi S pun tidak masuk akal, karena pasti konsumsi BBMnya akan jauh lebih boros. Hmm, mengapa tidak ada mode ‘Normal’ saja ya?

Testimoni:

Barto Jorang, 23 Tahun
Barto Jorang, 23 Tahun

 

Barto Jorang, 23 Tahun
Pengemudi Toyota Avanza Sebelum ini saya mencoba C Class W205, sangat terasa suspensi GLA lebih empuk dan tidak menyiksa penumpang. Duduk di belakang terasa cukup pegal. Tenaga mobil sebenarnya besar, tapi terkadang sulit dikeluarkan di jalan.


Data Spesifikasi

Mesin: 4-silinder segaris dengan turbocharger
Kapasitas: 1.595 cc
Tenaga Maksimum: 156 dk @ 5.300 rpm
Torsi Maksimum: 250 Nm @ 1.250 – 4.000 rpm
Transmisi: Otomatis 7-percepatan

Dimensi

(p x l x t): 4.417 mm x 1.804 mm x 1.494 mm
Wheelbase: 2.699 mm
Ground Clearance: 205 mm
Sistem kemudi: Rack & Pinion
Suspensi Depan: MacPherson Strut, Coil Spring,
Gas Damper dengan Anti Roll Bar
Suspensi Belakang: Multi-Link System, Coil
Spring, Gas Damper, Anti Roll Bar
Rem Depan/Belakang: Ventilated Disc / Disc

Ukuran Ban :...
Kapasitas Tangki: 56 liter
Harga: Rp 679.000.000 off the road Jakarta

Data test

0  – 60 km/jam: 4,2 detik
0  – 100 km/jam: 3,7 detik
40 – 80 km/jam: 9,3 detik
0  – 201 m: 11 detik
0  – 402 m: 16,9 detik

Data Konsumsi (liter:km)
Dalam Kota: 1:9,8
Konstan 60 km/jam: 1:24,4 @ 1.500 rpm di gigi 6
Konstan 100 km/jam: 1:16,7 @ 1.900 rpm di gigi 7

Pesaing:

Audi Q3 1.4 TFSI
Audi Q3 1.4 TFSI

Audi Q3 1.4 TFSI

Mesin: 4-silinder segaris 1.395 cc dengan
turbocharger
Tenaga / Torsi: 150 dk / 250 Nm
Transmisi: Otomatis Stronic 6-percepatan
Harga: Rp 765 juta on the road Jabodetabek

BMW X1 sDrive18i Sport Line Edition
BMW X1 sDrive18i Sport Line Edition

BMW X1 sDrive18i Sport Line Edition

Mesin: 4-silinder segaris 1.995 cc
Tenaga / Torsi: 150 dk / 200 Nm
Transmisi: Otomatis 8-percepatan
Harga: Rp 659 juta off the road Jabodetabek

 

EDITOR

Bagja

Top