Rabu,30 Nov 2016 11:11 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Drive Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive

  • Foto: Rian/otomotifnet

    MID ini dapat menampilkan berbagai hal, termasuk tekanan tiap ban pada mode tire pressure assist

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Dynamic Select memberi lima pilihan mode, termasuk Individual yang bisa mengatur bobot setir, respons akselerasi dan transmisi secara terpisah

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Selain termasuk empuk di kelasnya, head rest jok ini juga dapat dimaju-mundurkan dengan jarak yang sangat fleksibel

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Sistem COMAND dengan layar 7 inci ini termasuk laggy meski pengoperasian tidak serumit C-Class yang juga mengandalkan touchpad

  • Foto: Rian/otomotifnet

    EPB sekaligus menyediakan auto brake hold dengan menginjak pedal rem lebih dalam

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Meski tersedia paddle shift, namun mengoperasikan rasio gigi tetap lebih nikmat dilakukan secara full otomatis

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Buka jok belakang bisa via tombol di belakang atau tombol di samping jok ini, sangat praktis!

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Bila tidak termakan ban serep space saver ini, bagasi 550 liter tergolong luas, bisa dilipat rata hingga 1.600 liter

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive

Sebuah pilihan yang tepat jika memprioritaskan SUV kompak premium yang mengutamakan kenyamanan di balik kemewahannya

Jakarta - Bila GLA terasa seperti hatchback atau GLE terlalu besar, akhirnya brand premium Jerman ini memiliki segmen di antaranya. Timing yang tepat ketika PT Mercedes-Benz Indonesia (MBI) menyebut 2016 ini sebagai tahunnya SUV. Dinamakan GLC-Class, masyarakat Indonesia mungkin bingung dengan penempatannya, karena GLK yang menjadi pendahulunya tidak pernah dipasarkan di dalam negeri.

Punya logo “Three Pointed Stars” besar di depan, banderol harga di bawah Rp 1 miliar dan ukuran relatif kompak membuatnya menarik di mata pasar, terbukti kini GLC 250 dirakit di Wanaherang Bogor setelah gelombang pertama CBU-nya habis. Namun kami lebih tertarik karena tidak seperti GLE yang hanya facelift dari ML dan GLS dari GL, GLC dibangun di atas platform baru MRA (Modular Rear Architecture) milik C-Class W205 dan E-Class W213.

Belum lagi transmisi otomatis 9-percepatannya yang tergolong masih unik hingga kini atau interior C-Class yang sangat berkualitas tinggi untuk yang termasuk budget-luxury. Bagaimana semua hal tersebut diterjemahkan ke pengendaraan sehari-hari?• Tim OTOMOTIF

Fitur

Meski MBI menyematkan cukup banyak fitur, kami harus mempertanyakan tingkat prioritas sederetan hal yang dimasukkan. Sebagai contoh, bagasi sudah dilengkapi motor listrik sehingga bisa dibuka secara elektrik, namun mengapa spion yang lebih penting di jalanan kota yang sempit justru perlu dilipat secara manual?

Kemudian ada Collision Prevention Assist+ yang jadi nilai plus dibanding pesaingnya, namun head unit Comand dengan layar 7 incinya terasa terlalu lambat untuk dioperasikan, sangat mengurangi nilainya sebagai mobil premium. Disayangkan juga disaat C 250 AMG sudah mengadopsi Burmester, GLC 250 belum memiliki sound system premium.

Di luar kedua hal tersebut, fitur yang disediakan sudah memiliki nilai value for money yang tinggi. Lampu serba LED misalnya, termasuk di dalam kabin yang bahkan lebih baik dibanding halogen milik GLE 400. Kemudian ada kamera mundur dengan resolusi tinggi yang terlihat sangat jelas dan hanya muncul ketika masuk ke transmisi R. Cruise control dan speed limited juga jadi standar, termasuk auto headlights dan rain sensing wiper.

Kenyamanan & Handling

Sama seperti big brother-nya, GLC seakan sangat memprioritaskan kenyamanan ketika dikembangkan. Tanpa memakai air suspension pun, bantingan pesaing BMW X3 dan Audi Q5 ini terasasangat lembut. Sehingga kenyamanan setiap penumpang melewati kontur jalan bergelombang atau rusak sekali pun sama sekali tidak terganggu.

Pengemudi juga dimanjakan dengan fitur stop/start yang terasa sangat halus baik ketika otomatis mati maupun menyala kembali. Belum lagi Brake Hold yang diaktifkan dengan menginjak pedal rem lebih dalam membuat kaki kanan tidak perlu pegal ketika kondisi stop and go di kemacetan.

Jika idle stop/start dinonaktifkan pun seisi penumpang dapat merasakan seamless start karena transmisi 9G-Tronicnya selalu memulai dari gigi dua saat merangkak di kemacetan. Namun tentu konsekuensi pengaturan nyaman ini ada saat menikung. Bahkan dengan mode Sport yang mengaktifkan Direct Control Suspension untuk sedikit membuat suspensi lebih keras, goyangan badan penumpang sangat terasa.

Pun juga karakter setir yang meski menjadi berat selain di Eco dan Comfort, tetap tak membuat tersenyum ketika memutarnya. Lagipula ketika Anda memilih sebuah SUV dengan emblem trisula dibanding baling-baling, sudah pasti segi kenyamanan yang diutamakan dibanding kenyamanan kan?

Performa & Konsumsi

Meski berbadan cukup bongsor, mesin M274 berkapasitas 1.991 cc ini sama sekali tidak keberatan mengangkut bodi GLC. Penggerak empat roda berdistribusi 45:55 memang sedikit terasa mengurangi sensasi fun ketika berakselerasi mauupun menikung cepat, namun sangat berkontribusi memberikan traksi maksimal ketika berakselerasi dari diam.

Tanpa berdecit sama sekali, mesin ber-turbocharger ini mampu membawa GLC 250 ke 100 km/jam hanya dalam 7,3 detik. Memang hanya lebih cepat 0,2 detik dibanding C 200 yang punya tenaga 27 dk lebih kecil, namun kepala 7 untuk sebuah SUV sudah terasa cukup spesial.

Lagi pula dibanding transmisi 7G-Tronic lawasnya, 9-speed A/T ini jauh lebih cekatan ketika dibawa agresif pada mode Sport/Sport+ dan makin mendekati karakter ZF 8 A/T, alias ekstralembut ketika dibawa gentle dan sedikit menyentak saat kickdown. Namun keuntungan utama kombinasi mesin dan transmisi ini lebih ke turbo lagi yang terasa minim karena pembagian rasio gigi yang lebih banyak.

Atau, lebih karena perhatian driver teralihkan oleh perpindahan gigi yang terus-terusan terjadi saat boost turbonya perlahan mengisi. Paling enak, kickdown mendadak ketika cruising santai di gigi 9 terasa instan karena langsung turun ke gigi 5. Sayangnya, ternyata transmisi yang rasionya berlimpah ini tidak spesial soal jumlah bahan bakar yang dipakainya.

Tidak ada mode coasting seperti pada BMW atau Audi, sedangkan menggunakan mode Eco dan berjalan konstan di kecepatan 100 km/jam atau 60 km/jam tidak berhasil mencapai angka lebih baik dari 5 Liter/100 km di MID.

Akomodasi

Meski memiliki layout C-Class anyar yang terasa sempit baik di depan maupun belakang, kami dapat pastikan Anda tidak akan pernah kekurangan ruang di depan maupun belakang. Penumpang depan kedapatan ruang penyimpanan ekstrabesar di door trim, sedangkan konsol tengah mengadopsi mekanisme split folding dan terdapat cop holder yang dapat dibuka di fascia tengah.

Kemudian meski sudut recline fixed, jok belakang memiliki ruang yang jauh lebih luas dibanding C-Class dan tentunya, sebuah armrest tengah.

Data Spesifikasi

Mesin: Mercedes-Benz M274 4-silinder segaris
dengan Piezo Direct Injection, Camtronic dan
Turbocharger
Kapasitas Mesin: 1.991 cc
Rasio Kompresi: 9,8 : 1
Output Maksimum: 211 dk @ 5.500 rpm
Torsi Maksimum: 350 Nm @ 1.200 – 4.000 rpm
Transmisi: Otomatis 9-percepatan 9G-Tronic
Dimensi (p x l x t): 4.656 mm x 1.890 mm x 1.644
mm
Wheelbase: 2.873 mm
Ground Clearance:181 mm
Radius Putar: 5,9 m
Sistem kemudi: Electromechanical Power
Steering dengan Direct-Steer
Suspensi Depan: Four-link Suspension dengan
Spring Link, Strut Rod, Upper Wihbone dan
Steering Knuckle
Suspensi Belakang: Five-link Axle dengan Wheel Carrier
Damper: Direct Control Suspension
Rem Depan / Belakang: Cakram Berventilasi / Cakram Berventilsi
dengan ABS, EBD, ESP, Crosswind Assist, HSA dan Brake Hold
Ukuran Ban: Pirelli Scorpion Verde 235/55 R19
Kapasitas Tangki / Cadangan: 66 liter / 7 liter
Berat Kosong / Gross: 1.735 kg / -
Harga: Rp 959.000.000 off the road

Data Tes

0 - 60 km/jam: 3,2 detik
0 – 100 km/jam: 7,3 detik
40 – 80 km/jam: 3,3 detik
0 – 201 m: 9,8 detik
0 – 402 m: 15,3 detik
Data Konsumsi:
Dalam Kota: 9 km/liter
Luar Kota: 13,1 km/liter
Konstan 60 km/jam: 18,5 km/liter @ 1.450 rpm 6th
Konstan 100 km/jam: 13,9 km/liter @ 1.450 rpm 9th

Pesaing:

BMW X3 xDrive20i xLine
Mesin: 4-silinder segaris, 1.995 cc dengan twinscroll
turbocharger
Tenaga / Torsi: 181 dk / 270 Nm
Transmisi: Otomatis 8-percepatan
Harga: Rp 929.000.000 (off the road)

Audi Q5 2.0 TFSI Quattro (PI)
Mesin: 4-silinder segaris, 1.984 cc dengan
turbocharger
Tenaga / Torsi: 225 dk / 350 Nm
Transmisi: Kopling Ganda 8-percepatan
Harga: Rp 1.250.000.000 (on the road Jakarta)

EDITOR

Pilot

Top