Rabu,27 April 2016 11:14 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Drive Mercedes-Benz S 400 L Exclusive

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Mercedes-Benz S 400 L Exclusive

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Kualitas bahan interior top notch, dari belakang bagai night club kalau malam

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Dua layar 12,3 inci jadi pusat perhatian di dasbor, begitu juga kualitas bahan interior top notch

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Sunroof di depan, moonroof di belakang

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Bukan hanya pengaturan elektrik dan heated seats, jok pun berventilasi agar dapat mengeluarkan angin dingin

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Mode individual rear-seat, jok depan dimajukan hingga mentok, sandaran jok belakang recline 37 derajat dan memberikan posisi paling nyaman. Sayang tidak ada legrest meskipun ada footrest dari jok depan

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Parfum pun sudah disediakan dari Mercedes-Benz dan diaktifkan via head unit COMAND

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Bagasi bisa dibuka dengan gestur tendangan dan punya ruang terkecil di kelasnya, hanya 510 liter bahkan tanpa kulkas

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Tampak belakang

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Pesaing: BMW 740Li Executive Mesin: 6-silinder segaris dengan twin-scroll turbocharger Tenaga / Torsi: 333 dk @ 5.250 - 6.000 rpm / 480 Nm @ 1.600 – 4.000 rpm Transmisi: Otomatis 8-percepatan Harga: Rp 2.459.000.000 off the road

  • Foto: F Yosi/otomotifnet

    Testimoni Chandra Feriza Fadly 27 Tahun Pengemudi Mercedes-Benz C180 W203

 

Kalau pernah berpikir mobil anda nyaman, think again setelah mencoba limusin yang satu ini

 

Jakarta - Sudah dua tahun setelah debutnya di Indonesia dan baru kini rival terberatnya muncul, seharusnya sedan berkode bodi W222 ini tidak memiliki kesempatan kan?

Salah besar. Di luar dugaan Mercedes-Benz S 400 L Exclusive, limusin pendek ini ternyata masih menunjukkan mengapa ia selalu menjadi benchmark bila berbicara soal sedan mewah. Kenyamanan tidak tertandingi dan penampilan majestic. masih jadi alasan utama para konglomerat yang selalu ingin duduk di belakang selama perjalanan. Namun ketika mobil seharga di atas Rp 2 miliar ini dirakit di dalam negeri, apakah ada pengurangan build quality? Bagaimana soal fiturnya? Masih pantas kah ketika Presiden Indonesia harus duduk di jok belakangnya? Baca lengkapnya di bawah ini ya. . (otomotifnet.com)

DIMENSI

Ketika sebuah sedan memiliki dimensi lebih panjang 1 cm dibanding MPV Hyundai H-1 yang bisa memuat hingga 12 penumpang, pasti terbayang sedan ini benar-benar raksasa. Wajar, pasar Indonesia memang hanya kedapatan versi long wheelbase. Lebar yang mengalahkan Toyota Alphard 0,5 cm, juga dijamin terasa merepotkan ketika melewati jalan sempit. Pun hal ini makin dipersulit ketika parkir karena hanya ada kamera mundur, bukan empat kamera.

Namun efek paling positif dari wheelbase melebihi 3,1 meter terasa ketika masuk ke belakang. Sepanjang apapun lutut sang direktur, sudah pasti tidak akan mentok jok depan karena ada jarak sekitar 35 cm dari ujung jok. Kalau terasa kurang pun, tinggal memencet tombol di door trim kiri belakang untuk memajukan jok penumpang depan hingga mentok dan memberikan ruang yang jauh lebih lega lagi.

FITUR

Biar kami jelaskan seberapa canggih sedan hampir sepanjang 5,2 m ini. Ketika pintu dibuka, dudukan seat belt otomatis naik keluar secara elektrik. Menutup pintu tidak perlu dibanting karena akan tersedot secara elektrik. Kemudian saat mesin dinyalakan, jok dan setir akan kembali secara elektrik ke pengaturan yang sudah disimpan di memori.

Saat sabuk pengaman dipakai, belt-nya otomatis mengencang untuk memastikan sudah terpasang dengan benar. Kemudian jika wiper diaktifkan, fitur bernama Magic Vision Control menyemprotkan airnya dari sepanjang permukaan wiper agar semprotannya lebih rata. Layar head unit dan spidometer sudah full LCD TFT 12,3 inci, sehingga informasi yang dapat ditampilkan pun luar biasa banyak. Tombol di konsol tengah dapat menaikkan suspensi udara untuk membuat ground clearance lebih tinggi.

Namun tetap saja, beberapa kekurangannya tetap sulit dibela untuk mobil seharga ini. Sebut saja menyalakan mesin masih harus memutar kunci, karena tombol start/stop engine tidak ada. Fitur Active Parking Assist dan Brake Hold yang cukup sulit dan tanpa petunjuk untuk mengaktifkannya.

Lalu masih pengaturan AC secara detail yang sepertinya butuh gelar sarjana untuk melakukannya. Kemudian absennya fitur massage, kamera 360 derajat dan night vision, hingga fitur safety pintar seperti adaptive cruise control dan auto emergency brake.

KENYAMANAN & HANDLING

Ketika di awal tadi bicara soal bagaimana S-Class W205 mengubah bagaimana suspensi bekerja, maksudnya adalah fitur Magic Body Control yang memanfaatkan stereo camera di belakang spion tengah, untuk membaca kontur jalan beberapa meter ke depan. Kemudian suspensi dipersiapkan terlebih dahulu agar bisa menerima kontur jalan yang siap dihantamnya.

Terdengar sempurna untuk membuat perjalanan nyaman? Memang iya, sampai kami tahu kalau fitur tersebut hanya tersedia ketika membeli varian Maybach di Indonesia. Untungnya, kenyamanan tetap jadi titik terkuat pesaing BMW Seri 7 dan Audi A8 ini. Dengan setting suspensi di mode Comfort, duduk di jok belakang sambil mendengarkan lagu “A Whole New World” dari 24 speaker premium Burmester pun benar-benar menghadirkan sensasi berada di atas karpet terbang.

Tambahkan headrest-nya yang sudah dilengkapi bantal, kemudian nyalakan fitur cooled seats dengan menekan tombol di door trim, tutup sunshade elektrik di samping dan belakang, maka hanya kurang cerutu dan sunroof yang terbuka kacanya (pada S-Class di belakang hanya moonroof) agar berasa seperti bos-bos mafia.

Setiap kontur jalan terserap dengan baik oleh suspensi udara yang digunakan, hampir sempurna bahkan. Namun berat 2 ton untuk sebuah sedan pun tidak bisa bohong, sehingga terkadang terasa sedikit memantul ketika cruising di kecepatan yang sangat tinggi.

Tidak masalah, cukup ganti suspensi ke mode Sport. Pada intinya, mode apapun yang dipakai dan jenis jalan apapun yang dilewati, penumpang dan pengemudi S 400 L ini akan tetap merasa nyaman.

Namun jangan mengharapkan feedback yang sama untuk setir. Mercedes memang tidak berusaha memberikan kesenangan bagi pria di balik setir. Dengan start selalu di gigi dua untuk seamless drive, setir palang dua yang tetap ringan di mode apapun dan rasa mengemudikan mobil yang sangat panjang dan lebar sepertinya didesain untuk memberi pleasure untuk penumpang di belakang.

PERFORMA & KONSUMSI

Pelan karena gambot? Sudah pasti tidak berlaku untuk yang satu ini. Ya, boleh saja akselerasi dimulai dari gigi dua agar lajunya lebih halus, tetapi injak pedal gas hingga pol, mesin V6 berkapasitas 2.996 cc dengan turbocharger ini akan langsung bangun. Perpindahan gigi yang tadinya silky smooth jadi terasa tanpa jeda, throttle menjadi responsif dan 100 km/jam pun diraih dalam 6,4 detik saja. Bila selalu ingin merasakan sensasi di atas terus-terusan, cukup masukan mode mesin (di atas mode suspensi) ke S.

Sayangnya, kecepatan untuk mengangkut sedan raksasa ini juga membuat konsumsi bahan bakarnya bisa dibilang boros. Harus mengkonsumsi RON 95, kami mendapat hasil 5,8 km/liter di MID setelah mengelilingi kombinasi rute macet dan tol sepanjang 400 km. Melaju konstan 60 km/jam pun tidak membantu dengan tetap menghabiskan 7 liter bensin untuk menempuh 100 km.

Testimoni

Chandra Feriza Fadly 27 Tahun (Pengemudi Mercedes-Benz C180 W203)

Balutan kulit asli, panel kayu dan lis krom menciptakan rasa berkelas yang hanya ada pada kelas ini. Tapi banyaknya kulit di sisi yang beda di jok belakang kadang membua suara gesekan tidak enak kalau lewat jalan berhelombang. Fiur-fiturnya juga terasa lengkap, tapi kemana kulkasnya ya?

Data Spesifikasi Mercedes-Benz S 400 L Exclusive:

Mesin: V6 dengan Bi-Turbo

Kapasitas: 2.996 cc

Kompresi Mesin: 10,5 : 1

Tenaga Maksimum: 333 dk @ 5.250 - 6.000 rpm

Torsi Maksimum: 480 Nm @ 1.600 - 4.000 rpm

Transmisi: Otomatis 7-percepatan 7G-TRONIC PLUS

Dimensi (p x l x t): 5.246 mm x 1.899 mm x 1.494 mm

Wheelbase: 3.165 mm

Ground Clearance: 160 mm

Radius Putar: 6,15 m

Sistem kemudi: Electromechanical Direct-Steer

Suspensi Depan: Multi-Link dengan AIRMATIC Air Suspension dan Adaptive Damping System

Suspensi Belakang: Multi-Link dengan AIRMATIC Air Suspension dan Adaptive Damping System

Rem Depan / Belakang: Cakram Berventilasi / Cakram Berventilasi dengan ABS, ESP, ASR, Crosswind Assist, EBD, BA

Ukuran Ban Depan / Belakang: 245/45 R19 (RFT) / 275/40 R19 (RFT)

Kapasitas Tangki / Cadangan: 70 Liter / 8 Liter

Berat: 1.995 kg

Harga: Rp 2.089.000 off the road (CKD)

Data Tes Mercedes-Benz S 400 L Exclusive

Akselerasi:

0 – 60 km/jam: 3,1 detik

0 – 100 km/jam: 6,4 detik

40 – 80 km/jam: 2,7 detik

0 – 201 m: 9,6 detik

0 – 402 m: 14,7 detik

Konsumsi:

Dalam Kota: 5,8 km/liter

Luar Kota: 7,3 km/liter

Konstan 60 km/jam: 14,3 km/liter

Konstan 100 km/jam: 12,2 km/liter @ 1.500 rpm

 

Pesaing:

BMW 740Li Executive

Mesin: 6-silinder segaris dengan twin-scroll turbocharger

Tenaga / Torsi: 333 dk @ 5.250 - 6.000 rpm / 480 Nm @ 1.600 – 4.000 rpm

Transmisi: Otomatis 8-percepatan

Harga: Rp 2.459.000.000 off the road

EDITOR

Bagja

Top