Rabu,28 Des 2016 08:00 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Drive Renault Kwid

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Meski dilengkapi peredam kap mesin, deru kasar mesin 3-silinder tetap terdengar dari luar

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Support jok bagian atas menahan gerak badan, sedang bagian bawah yang hampir rata membuat pengemudi berbadan besar tidak terjepit

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Desain dasbor membuatnya seperti naik kelas

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Pengatur ketinggian lampu depan manual, sangat jarang tersedia di kelas ini

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Paling mudah terlupakan, posisi pembuka power window depan dipindahkan ke tengah

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Spidometer otomatis menyala ketika pintu pertama kali dibuka setelah membuka kunci

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Tersedia banyak penyimpanan di depan baik berupa 2 laci maupun lubang kompartemen

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Meski sebelah kanan kaca tidak tersapu sepenuhnya karena hanya satu batang wiper, namun adanya intermittent menambah value di kelasnya

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Bagasi 300 liter dan tersedia parcel shelf, kalau kurang puas bisa buka jok baris kedua, bahkan bagian atasnya bisa dilepas agar seluruh bagasi rata

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Menambah lebar ukuran pelek dan ban akan membuatnya terlihat lebih proper dari belakang

  • Foto: Rian/otomotifnet

    Kenyamanan dan fitur khas Eropa membuat hatchback ekstrakompak ini sangat pantas diperhitungkan

Jakarta - Selama ini, banyak mobil yang datang dan pergi tanpa meninggalkan kesan berarti bagi masyarakat Indonesia. Well, tidak dengan Renault Kwid, atau paling tidak OTOMOTIF berpikir tidak demikian. Mengapa?

Alasan pertama jelas dari harga yang ditawarkan. PT Auto Euro Indonesia (AEI) benar-benar mengejutkan ketika melepas Kwid dengan harga di bawah Rp 120 juta.

Kedua, kesan-kesannya setelah mengujinya keliling Jakarta, baik dari segi bantingan, fitur, hingga yang membuatnya mendapat banyak lirikan, desainnya. Tidak berarti everything goes well, toh Kwid masih berlimpah kekurangan, karena pabrikan Prancis tersebut memang menciptakannya untuk pasar entry level India.

Jangan khawatir, versi CBU India yang dibawa ke sini merupakan varian tertingginya kok.

Nah, apa saja kelebihan yang membuatnya sangat pantas diperhitungan dan mendapat perhatian lebih, serta bagian mana yang perlu dibenahi oleh Renault? • Tim OTOMOTIF

Desain

Cover spion silver dan lampu sen di overfender jadi cara yang unik sambil tetap menjaga cost. Elemen seperti rumah fog lights 3D dan overfender plastik tidak terlihat tambahan, membuatnya seakan natural sebagai mini crossover.

Tidak sia-sia Gerard Detourbet, ProjectLeader Kwid yang juga membangun Duster dan Lodgy, merancangnya untuk terasa seperti segmen B seharga segmen A.

Namun ‘made by Indians, for India’ juga berarti banyak penghematan yang terlihat, bahkan di kelas entry level Indonesia sekalipun.

Contoh besi di bawah wiper, ujung sokbreker belakang hingga pintu bagasi yang tidak tertutupi plastik dan meninggalkan kesan murah.

Pun dengan interior yang menghadirkan kesan ‘sekilas mewah’ karena hadirnya elemen seperti panel piano black di tengah, krom di bawah tuas transmisi dan sedikit lapis kulit pada bagian atas setir yang terlihat padat.

Fitur

Selain ring gigi mundur, posisi tombol power window yang dipindah ke tengah paling sering membuat kagok. Di luar dugaan, posisi ini memberi kemudahan meski auto up/down absen.

Pengemudi dapat memindahkan tuas transmisi ke gigi satu sambil menggunakan jari telunjuknya untuk menutup jendela setelah mengambil karcis tol. Praktis, kan?

Oh iya, tombol central lock juga ada di tengah khas Eropa, yang sayangnya tidak dibarengi auto lock. Sebaliknya, justru tuas lampu sen dengan pengaktif fog lights terintegrasi dipindahkan ke sebelah kanan dan sudah dilengkapi one touch triple turn signal. Bravo!

Kami sangat puas karena fitur khas Eropa seperti fungsi pengarah angin ke bagian bawah. Bonus lain ada fitur defrost, heater dan resirkulasi udara.

Paling spesial adalah kehadiran head unit MediaNav. Meski harus puas dengan 2 speaker. Layar sentuh 7 inci yang mudah dan cepat dioperasikan ini sudah support berbagai media seperti radio, iPod, USB, AUX, navigasi yang bisa update via USB, hingga Bluetooth untuk streaming sekaligus teleponi via mic yang terintegrasi di headliner.

Well menyangkut soal safety, Renault harus menggantungkan Kwid hanya dengan satu airbag. Tidak hadirnya ABS membuat kadang OTOMOTIF parno bermanuver dengan pelek tipis. Pun seatbelt pretensioner & load limiter hanya bisa dinikmati penumpang depan saja.

Handling & Kenyamanan

Meski terlihat tipis, jok Kwid sebenarnya empuk dan tidak membuat cepat pegal. Posisi duduknya yang cenderung tinggi membuat perjalanan jauh rileks, pun leg room pengemudi terasa luas. Hanya saja head rest terintegrasi di depan kurang diposisikan maju, sehingga bersandar sambil menyetir sedikit harus mendongak ke atas.

Namun kami harus memuji suspensi yang digunakan. Dengan MacPherson Strut dan Twist Beam di belakang, bantingannya jauh lebih empuk. Membuat melewati kontur jalan rusak di Jakarta sekali pun tetap nyaman.

Bermanuver di kecepatan rendah juga terasa mengasyikkan. Selain karena genggaman lingkar setir yang terasa padat di tangan, EPS membuat putarannya ringan, cocok untuk mobil perkotaan.

Minimnya road noise juga perlu dipuji. Sayang deru mesin masih sangat menembus ke dalam ketika berakselerasi dan di kecepatan tinggi, bahkan ketika idle dan AC mati.

Performa Dan Konsumsi

Sebelum menilai bahwa 1.000 cc membuatnya terasa kurang bertenaga, kami pastikan angka 67 dk dari mesin 3-silindernya dapat mengangkut 4 penumpang sekaligus tanpa masalah, di tanjakan sekali pun.

Yang perlu dibenahi adalah refinement mesin. Soal getaran memang natural, namun merasakan tarikan yang kurang smooth ketika berakselerasi dan bergetar ketika melaju 70-80 km/jam di gigi 5 seharusnya bisa dikurangi.

Di luar itu, angka 12,8 detik untuk mencapai 100 km/jam membuktikan Kwid tidak bisa dibilang lambat. Berakselerasi dari gigi 1 sampai 3 terasa kuat, dengan torsi yang berlimpah di putaran awal sampai menengah. Namun cruising 100 km/ jam di jalan tol kerap kali masih perlu berpindah dari gigi 5 ke 4.

Feel perpindahan tuas transmisi juga cukup solid dan injakan pedal kopling juga terasa ringan, sehingga tidak membebani di kemacetan.

Pun soal konsumsi bahan bakar, Kwid tidak akan mengecewakan. Bahkan tanpa teknologi variable valve, melaju konstan baik dengan kecepatan 60 km/jam atau 100 km/jam sama-sama menghasilkan konsumsi 20 km/liter.

Di dalam kota pun mesin 1.0 SCe baru ini sulit untuk dibuat boros, apalagi jika menuruti indikator upshift dan downshift pada MID karena tidak adanya takometer.

Saking iritnya, bahkan Renault cukup pede memasukkan indikator berapa liter bahan bakar yang sudah terpakai di MID selain konsumsi rata-rata dan real time.

Sayangnya tangki bahan bakar hanya cukup memuat 28 liter bensin, sehingga akan membuat cukup sering bolak-balik ke SPBU.

Data Spesifikasi

Mesin: 1.0 SCe 3-silinder segaris Alumnium, DOHC
Kapasitas: 999 cc
Layout Mesin: Mesin Depan Penggerak Depan
Tenaga Maksimum: 67 dk @ 5.500 rpm
Torsi Maksimum: 91 Nm @ 4.250 rpm
Transmisi: Manual 5-percepatan
Dimensi (p x l x t): 3.679 mm x 1.579 mm x 1.478 mm
Wheelbase: 2.422 mm
Radius Putar: 5 m
Ground Clearance: 180 mm
Sistem kemudi: Electric Power Steering (EPS)
Suspensi Depan: MacPherson Strut dengan Lower Transverse Link
Suspensi Belakang: Twist Beam dengan Coil Spring
Rem Depan/Belakang: Cakram / Teromol
Ukuran Ban/Serep: Ceat Milaze 155/80R13 / Full Size
Kapasitas Tangki: 28 liter
Berat Kosong: 699 kg
Harga: Rp 117,7 juta (on the road Jakarta)

Data Test

Akselerasi
0 – 60 km/jam: 5,1 detik
0 – 100 km/jam: 12,8 detik
40 – 80 km/jam: 5,6 detik
0 – 201 m: 12,1 detik
0 – 402 m: 18,8 detik

Konsumsi
Dalam Kota: 14,9 km/liter
Luar Kota: 18,5 km/liter
Konstan 60 km/jam: 27,3 km/liter
Konstan 100 km/jam: 20,2 km/liter

 

EDITOR

rio

Top