Sabtu,19 Maret 2016 16:06 WIB

Penulis: Otomotifnet

Test Drive Toyota Rush TRD Sportivo Ultimo A/T

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Lapisan kulit di setir membuatnya terasa mewah saat digenggam

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Indikator sensor parkir, makin dekat berkedip makin cepat

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Head unit responsif, sayang slot USB ada di atas jadi kabel mudah terlihat berantakan

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Bahan fabric jok terasa high quality dan lembut dipegang

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Headrest jok baris ketiga mentok kaca belakang saat dinaikkan

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Pengatur ketinggian jok masih versi putar, hanya sudut belakangnya saja yang berubah

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Jok baris ketiga sempit dan sudut duduk terlalu tinggi sehingga cepat pegal

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Sok TRD di belakang membuat bagian buritan tidak memantul-mantul saat diisi muatan banyak, namun cukup keras ketika kosong

  • Foto: TYO/otomotifnet

    Stiker berbeda

Bermodalkan sepasang per dan sokbreker baru, bisakah kata Ultimo mengubah pandangan masyarakat tentang low SUV ini?

Jakarta - Belum sampai setahun, PT. Toyota Astra Motor (TAM) mengeluarkan facelift dari Rush yang sudah berusia 9 tahun di Indonesia. Impresi awal kami ketika itu tidak baik. Transmisi yang sudah mulai kadaluarsa, desain outdated, performa yang buruk bahkan untuk sekelasnya dan yang terparah, kaki-kaki yang terasa keras, namun kerap membuat limbung dan bodyroll berlebihan.

Akhirnya TAM mendengarkan hingga merilis versi terbarunya Toyota Rush TRD Sportivo Ultimo A/T dan well, kami tetap berharap ini menjadi versi terakhir Rush generasi ini. Stiker berbeda, tambahan 2 seater dan sepasang kaki-kaki baru berupa per dan sokbreker TRD menjadi senjata andalan untuk menangkal kekurangannya di atas. Berhasil kah? • (otomotifnet.com)

Desain

Bahkan setelah facelift yang kesekian kali pun, bentuk asli Rush yang sudah hadir hampir 1 dekade lalu pun masih terlihat. Penyegaran yang dilakukan dari tahu lalu menggunakan lampu baru dengan lampu senja LED cukup mengangkat tampilan dari depan. Nama TRD dimana-mana seperti overstatement. Ditambah di per, sokbreker dan pelek 16 inci barunya, ada hampir 20 tulisan TRD pada Rush TRD Sportivo Ultimo ini. Kami juga bukan penggemar cara buka bagasi menyamping, karena membuatnya sulit terbuka saat parkir di tempat sempit. Yang kami suka, lapisan kulit di setir membuatnya terasa mewah saat digenggam, meskipun lingkarnya terasa terlalu tipis dan kecil. Bahan fabric pada jok pun terasa sangat lembut dan mengandung unsur high quality.

Fitur

Paling tidak, kami bisa bilang TAM cukup baik terhadap Rush untuk bagian yang satu ini. Sensor parkir depan dan belakang membuat parkir terasa mudah, jok tengah one touch tumble menghilangkan kata ‘ribet’ saat mau duduk di belakang, head unit dengan layar sentuhnya terasa sangat responsif dan memiliki output kualitas suara yang jauh lebih baik dibanding pesaingnya.

Masih ada spion lipat elektrik, vanity mirror dengan lampu di sisi penumpang hingga switch jendela di sisi driver dengan lampu yang selalu menyala. Sayangnya, beberapa hal yang krusial juga tidak dihadirkan. Sebut saja MID, one touch triple turn signal, 3-point seatbelt untuk penumpang di tengah baris kedua, pengatur ketinggian yang masih menggunakan tipe putar dan kamera mundur. Cukup aneh karena semua hal ini sudah ada pada Grand New Veloz varian tertinggi.

Dimensi Kenyamanan & Handling

Rush terasa kompak untuk city cruiser namun tetap cukup panjang untuk memuat 7 penumpang. Namun karena pemakaian sasis ladder frame, naik ke kabin terasa cukup tinggi dan memberikan sensasi duduk commanding di depan. Jok baris ketiga baru sama sekali tidak menyisakan legroom ketika jok baris kedua di-slide ke paling belakang. Bila jok baris ketiga dibuka juga hanya menyisakan ruangan kecil, karena bagian atas sandaran jok hampir menempel ke pintu bagasi. Nah, waktunya kaki-kaki baru diuji. Teorinya, pemakaian sepasang per dan sokbreker TRD baru seharusnya membuat bantingan di depan menjadi lebih nyaman dan tidak membuat bagian belakang memantulmantul saat diisi muatan lebih. Hasilnya? Bagian depan masih terasa terlalu keras.

Memang, rebound terasa lebih lambat yang membuat melewati polisi tidur berukuran besar jadi tidak terlalu keras, tetapi jarak travel per pendek tetap membuat bantingan saat melewati lubang terasa kasar, apalagi bunyi ‘gubrak gubrak’ dari berbagai tempat seperti dasbor makin memberi kesan unpleasant. Rasa limbung dan bodyroll pada kecepatan tinggi juga masih sangat terasa, meski memang sedikit berkurang dari sebelumnya. Pertanyaannya, apakah per dan sokbreker TRD ini membuat Rush jadi lebih nyaman? Jelas, ya. Tapi sudah waktunya revisi berat seperti waktu munculnya Grand New Avanza.

Peforma & Konsumsi

Di bawah kap mesin, masih tersimpan jantung 3SZ-VE seperti yang dipakai ketika Avanza 1.500 cc pertama kali keluar. Transmisi otomatis 4-percepatan pun masih sama, tanpa mode elektronik atau sport mode.Karakternya pun mirip, galak saat pertama kali pedal gas diinjak, namun respon terasa sangat minim ketika semakin mendekati putaran tinggi dan akan mesin akan langsung berteriak ketika kickdown, karena jumlah gigi yang tidak banyak. Angka yang dihasilkan pun cenderung lambat. Akselerasi dari diam ke 100 km/jam menghabiskan 15 detik.

Drag race pun harus diselesaikan dalam 19,6 detik. Kabar kurang baik kembali terdengar dari konsumsi bahan bakar, yang tidak bisa dilihat dari MID karena memang tidak ada. Untuk mengukurnya, masih harus menggunakan metode full to full, yang secara mengejutkan hanya mencetak angka 14,6 km/liter saat dites konstan 60 km/jam. Bandingkan dengan BMW X6 yang kapasitas mesinnya dua kali lipat dan masih ditambah turbo, namun menghasilkan angka 16,5 km/liter dengan metode yang sama. Memang rasanya sudah waktunya mesin tua ini digantikan seri NR seperti pada Grand New Avanza dan Veloz yang terbukti memperbaiki catatan waktu, performa, refinement, respon mesin hingga konsumsi bahan bakarnya cukup signifikan.

Testimoni

Emanuel Rian 25 Tahun, Pengemudi Daihatsu Terios A/T Extra 2013
Emanuel Rian

Emanuel Rian
25 Tahun, Pengemudi Daihatsu Terios A/T Extra 2013

Saya lebih suka desain Rush yang baru dibanding yang lama, secara kenyamanan pun jauh lebih baik. Untuk mesin dan tarikan cukup oke, namun tidak diimbangi suspensi yang menurut saya terlalu keras, sehingga mobil terasa limbung, bahkan pada kecepatan rendah. Mobil terasa kurang stabil di jalan bergelombang, namun untung diimbangi setir yang agak berat.

Data Spesifikasi Toyota Rush TRD Sportivo Ultimo A/T

Mesin 3SZ-VE 4-silinder segaris,
DOHC VVT-I
Kapasitas 1.495 cc
Tenaga Maksimum 107 dk @ 6.000 rpm
Torsi Maksimum 141 Nm @ 4.400 rpm
Transmisi Otomatis 4-percepatan
Dimensi (p x l x t) 4.420 mm x 1.745 mm x 1.740 mm
Wheelbase 2.685 mm
Ground Clearance 200 mm
Radius Putar 4,9 m
Sistem kemudi EPS (Electric Power Steering)
Suspensi Depan TRD MacPherson Strut dengan Coil Spring & Stabilizer
Suspensi Belakang TRD 4-Link Lateral Rod dengan Coil Spring
Rem Depan / Belakang Disc / Drum dengan ABS
Ukuran Ban 235/60R16
Kapasitas Tangki 45 Liter
Berat Kosong 1.200 kg
Harga Rp 262.450.000 on the road Jakarta

Data Tes:
0 – 60 km/jam 6,1 detik
0 – 100 km/jam 15 detik
40 – 80 km/jam 6,2 detik
0 – 201 m 12,7 detik
0 – 402 m 19,6 detik

Data Konsumsi:

Dalam Kota   8,27 km/liter
Konstan 60 km/jam  14,6 km/liter @ 2.200 rpm gigi 4
Konstan 100 km/jam   12,56 km/li ter @ 3.200 rpm gigi 4

Pesaing:

Pesaing:   Honda BR-V Prestige CVT
Honda BR-V Prestige CVT

Honda BR-V Prestige CVT
Mesin: L15 1.497 cc dengan i-VTEC dan DBW
Tenaga / Torsi: 120 dk @ 6.600 rpm / 145 Nm @ 4.600 rpm
Transmisi: Otomatis CVT Earth Dreams Technology
Harga: Rp 261.500.000 on the road Jabodetabek

Pesaing: Daihatsu Terios R Adventure
Daihatsu Terios R Adventure

Daihatsu Terios R Adventure
Mesin: 3SZ-VE 1.495 cc dengan DOHC dan VVT-i
Tenaga / Torsi: 107 dk @ 6.000 rpm / 141 Nm @ 4.000 rpm
Transmisi: Otomatis 4-percepatan
Harga: Rp 247.200.000 on the road Jabodetabek

EDITOR

Bagja

Top