Kamis,1 Okt 2015 13:06 WIB

Penulis: pewete pewete

All About Turbocharger (Bag.2), Bagaimana Cara Kerjanya?

Foto: OCTA, DOK OTOMOTIF, ISTIMEWA

All About Turbocharger (Bag.2), Bagaimana Cara Kerjanya?

Perangkat yang tadinya hanya populer di mobil dengan performa tinggi, kini hadir pada kendaraan mainstream seperti Toyota Kijang Innova Diesel, Mitsubishi Pajero Sport Dakar dll

Jakarta - Meski tidak semua tahu cara kerjanya, namun siapapun yang mendengar kata ‘turbo’ pasti mengaitkannya dengan cepat. Tidak salah, nama-nama seperti Porsche 911 Turbo, Ferrari California T atau Mercedes-Benz S65 AMG Biturbo sudah tentu berarti mobil-mobil tersebut berperforma lebih baik dibanding versi standarnya. Pertanyaannya, mengapa dan bagaimana?

Makin banyaknya line-up roda 4 di Tanah Air yang menggunakan sistem forced induction ini berarti semakin menuntut para pengemudi untuk mengerti lebih dalam. Perangkat yang tadinya hanya populer di mobil dengan performa tinggi, kini hadir pada kendaraan mainstream seperti Toyota Kijang Innova Diesel, Mitsubishi Pajero Sport Dakar dan Volkswagen Golf TSI.

Ingin tahu lebih banyak soal turbo atau tertarik memasang perangkat ini? Yuk, simak ulasan OTOMOTIF. • (otomotifnet.com)



CARA KERJA


Untuk cara kerjanya dengan memasukkan udara lebih banyak ke ruang bakar tanpa menambah volumenya. “Ini salah satu metode forced induction, yaitu memaksakan udara yang masuk dan menghasilkan positive displacement atau biasa disebut boost,” jelas Theodorus Surya Jaya, owner dari Rev Engineering.

Dijelaskan juga bahwa turbin turbo diputar dari gas buang, berbeda dengan supercharger yang memanfaatkan belt hingga bekerja efektif dari awal. Urutan komponen turbo adalah exhaust manifold – wastegate/turbin – kompresor – intercooler – blow-off valve/intake manifold.

Sistem kerjanya, gas buang dari exhaust manifold akan memutarkan turbin pada range putaran mesin tertentu. Semakin kecil turbin, semakin awal juga turbo dapat bekerja dari gas buang di rpm rendah, namun udara akan dialihkan ke wastegate ketika mesin sudah mencapai putaran cukup tinggi agar mencegah turbin berputar terlalu cepat dan menghasilkan kompresi berlebihan.

Turbin besar justru sebaliknya, hingga menimbulkan jeda yang lama ketika mobil berjalan hingga turbo baru bekerja. Fenomena ini biasa disebut turbo lag. Turbin yang tersambung dengan kompresor via shaft akan memutarkannya, mengkompresi udara dengan prinsip termodinamika hingga menyimpan jumlah udara lebih banyak namun dengan volume yang sama.

Namun karena panas yang ditimbulkan paska kompresi, intercooler dibutuhkan untuk mendinginkan udara agar tingkat densitas tetap baik sebelum masuk ruang mesin. Selanjutnya udara terkompresi akan masuk ke ruang mesin melalui intake manifold.

Inilah yang menyebabkan efisiensi tetap terjaga di mesin berturbo, bahan bakar yang disuplai ke pembakaran tidak ditambahkan dalam jumlah drastis oleh karena volume udara tetap sama. Jika pengemudi tiba-tiba melepas pedal gas di range rpm kerja turbo, maka udara yang sudah terkompresi tidak dapat masuk ke ruang bakar atau rasio udara

- bahan bakar menjadi tidak seimbang. Tersambung dengan housing kompresor, udara akan dibuang via blow-off valve, yang biasa menimbulkan suara seperti siulan ketika kaki diangkat dari pedal gas. •



PILIH TURBO SEKEN

Hati-hati dan teliti sebelum membeli! Seperti itu yang selalu dipesankan kalau hendak membeli barang bekas, tak terkecuali perangkat turbo. Mau belinya di perorangan ataupun di tempat seperti Vriva Motor yang menyediakan turbo copotan.

“Kalau melihat secara fisik, ada 2 hal utama yang harus benar-benar diperhatikan saat beli turbo copotan,” kata Kang Endang, salah satu mekanik tim balap rally FBRT. Maksud dari pria ramah itu adalah pertama perhatikan putaran kipasnya harus lancar. Kemudian pastikan juga profiler bearing-nya enggak oblak.

Untuk yang ke-2 itu, bisa dilakukan dengan menggerakkan kipasnya ke kiri kanan dan juga atas bawah. “Kalaupun terasa ada oblak sedikit, itu normal karena ada speleng,” papar kang Endang. Kalau spelengnya terlalu banyak atau bisa diartikan oblak, lebih baik urungkan niat untuk menebus turbo copotan tersebut.

Dari pada harus melakukan servis yang kemungkinan ongkosnya sama dengan beli unit. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kondisi fisik. Pada bagian ini syaratnya harus kering dan kalaupun terlihat ada oli yang keluar, biasanya akibat dari karet seal yang sudah aus. •

EDITOR

Otomotifnet

Top