Senin,9 Nov 2015 09:03 WIB

Penulis: pewete pewete

All About Aki Mobil (Bag 1) Jenis dan Pengecekan

Foto: oct, TIO

All About Aki Mobil (Bag 1) Jenis dan Pengecekan

Kendaraan-kendaraan yang pakai teknologi idle stop, untuk balap dan pasang audio, butuh aki yang enggak biasa

Jakarta - Sebagai penyimpan energi listrik di kendaraan, keberadaan aki sudah pasti amat sangat penting. Oleh karenanya jangan pernah abaikan soal perawatan. Jangan sampai gara-gara lalai merawat, masa iya mesin jadi susah di-starter.

Sudah gitu, kendaraan sekarang yang rata-rata sudah menggunakan transmisi otomatis, pasti lebih menyusahkan karena tak bisa menyalakan mesin dengan cara mendorong mobil. Repot kan... Terlebih, walau sepintas bentuknya sama saja. Tapi masing-masing merek ada perbedaan loh.

Makanya OTOMOTIF mengulas panjang lebar nih, soal jenis yang banyak beredar, perawatannya sampai ke tata cara kalau sampai harus jumper. Apa dan bagaimana sebenarnya aki, simak ulasannya berikut ini. • (otomotifnet.com)



JENIS


Ada yang menyebutkan aki basah dan juga ada yang kering, sebenarnya apa sih itu? Pada dasarnya semua aki itu menggunakan cairan elektroda atau yang biasa disebut air aki. Hanya saja pada tipe basah, air akinya benar-benar terlihat secara kasat mata berbentuk cairan.

Sedangkan pada aki kering, lebih tepat disebut maintenance free (MF). Sebab, sebenarnya masih ada cairannya berbentuk gel yang diisikan langsung dari pabrik pembuatnya. Dengan alasan lebih memudahkan dalam hal perawatan, makanaya disebut MF.

Secara fisik tampilannya, ke-2 jenis aki itu sudah terlihat ada yang beda. Pada aki basah sudah pasti ada lubang untuk pengisisan air aki dan ada garis penanda batas bawah serta atas dari cairan elektroda. Sedangkan pada jenis MF, enggak lagi ada lubang pengisian serta garis penanda ambang atas dan bawah.

Iklim tropis yang memiliki udara yang panas, membuat cairan elektroda di dalam aki menagalami penguapan. Untuk yang bentuknya benar-benar cairan, sudah pasti penguapannya lebih tinggi dibandingkan yang pakai gel.

“Minim penguapan tapi dengan pemakaian rutin, akan habis lebih kurang 1 tahun. Itu kenapa aki sekarang umur pakainya bisa dibilang pendek,” kata Bernadi Tan dari Istana Accu. Penguapan pada aki basah, bisa dikontrol dari garis penanda upper dan lower. Kalau memang sudah terjadi penguapan dan bahkan sampai pada garis batas bawah, segera lakukan pengisian air aki.

Terlalu lama ada di ambang batas bawah, akan membuat sel-sel di dalam aki akan rusak. Setidaknya dianjurkan untuk maksimal 3 bulan melakukan pengecekan pada aki MF. •    



PENGECEKAN


Multitester jadi alat yang mudah didapat untuk melakukan pengetesan pada aki. Dengan multitester bisa terlihat voltase yang ada pada aki. Caranya setelah diarahkan pada posisi DC, lalu tempelkan positif multitester ke positif aki dan juga bagian negatifnya.

Bila menunjukkan angka 13-13,2 volt itu tandanya bagus, tapi kalau sudah menunjukkan angka di bawah 12 V, tanda-tanda mesti ganti baru. Dengan alat ukur khusus untuk aki, bisa terlihat jelas dosa-dosa dari aki yang dites. Dari mulai voltase, kadar setrum dll bahkan alat tersebut juga bisa langsung kasih petunjuk, aki dalam kondisi bagus atau sudah low.

Pakai hydrometer, bisa dilihat keasaman dari air aki. Angka-angka di pelampung dalam tabung, jadi indikasi apa yang harus dilakukan. Setelah air di dalam aki disedot dengan hydrometer dan batas air sejajar dengan angka 1.280, maka yang harus dilakukan hanya dengan menambahkan air suling saja.

Batas aki sehat itu di angka 1.220-1.270 dan bila 1.201, maka segera lakukan recharge. Setelah di-recharge, ukur lagi dengan hydrometer dan bila enggak ada perubahan, mau tak mau segera ganti aki baru. •



KEBUTUHAN KHUSUS


Dalam kondisi tertentu, kendaraan memiliki kebutuhan akan aki yang enggak biasa. Seperti kendaraan yang punya fitur IST (Idling Stop System) seperti All New Mazda2 atau Daihatsu Copen.  Aki hybrid yang banderolnya Rp 1,3 juta ini memanfaatkan kapasitor untuk menyimpan listrik.

“Ketika aki sedang dalam fase pengisian, listrik juga dialirkan ke sebuah kapasitor. Jadi ketika mesin dalam posisi tidak aktif di jalan raya, namun fitur AC dan radio tetap beroperasi, kapasitor tersebut yang bertugas mengakomodir aliran listrik hingga mesin beroperasi kembali,” jelas Budi, Kepala Mekanik Daihatsu Serpong.

Kendaraan yang butuh aki khusus lainnya adalah yang dipakai untuk balap. Sudah bisa diterka, kalau kebutuhan aki untuk mobil balap pastinya yang berbobot enteng namun harga yang enggak enteng (Rp 3-8 juta).

“Bobot ringan dengan dimensi yang hampir sama dengan aki yang dipakai pada motor sport 250 cc. Soal voltase dan ampere tetap sama dengan aki mobil dan dengan keunggulan lebih stabil,” terang Eric Kristianto dari Engine Plus Motorsport di bilangan Sunter, Jakut.

Buat yang mengaplikasikan perangkat ICE (In Car Entertainment) dengan kategori ekstrim pun enggak bisa memakai satu buah aki saja. Soalnya butuh ampere yang besar, stabil dan sanggup fast charging. Doni dari Pesona Audio bilang saat subwoofer berdentum, maka aki mengeluarkan dayanya sesaat dan itu dinamakan cold cranking ampere.

“Suplai listrik jadi ngedrop akibat sangat besarnya ampere yang tersedot,” papar pria yang workshop-nya di daerah Pluit, Jakut. Untuk mengatasi masalah ini biasanya mereka menggunakan ‘batcap’ yang merupakan kombinasi dari aki dan kapasitor dengan daya besar.

Namun, pria berumur 30 tahun ini juga mengatakan bahwa ada alternatif lain seperti menggabungkan 3 hingga 5 buah aki standar tergantung kebutuhan kelistrikan audio-nya sendiri. •


EDITOR

Otomotifnet

Top