Selasa,6 Sept 2016 11:03 WIB

Penulis: otomotifnet

Bisnis Aftermarket, Persatuan Insinyur Tantang Industri Aftermarket

Halaman 1 dari 4

Foto: Rizky/otomotifnet

Bisnis Aftermarket Persatuan Insinyur Tantang Industri Aftermarket

Jakarta - Sebuah tantangan datang dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) terhadap industri komponen aftermarket Indonesia. Dalam gelaran bertajuk Apresiasi Product Development Indonesia (APDI), mereka mencari perusahaan aftermarket yang melibatkan insinyur Indonesia dalam pengembangan produknya di dalam negeri.

Toh, banyak juga industri aftermarket yang telah menyediakan akses bagi insinyur lokal dalam pengembangan produk. “Secara skill kita mampu, insinyur kita perlu ‘mainan’. Komponen aksesoris harusnya independen yang berhubungan dengan end user,” imbuh Achmad Rizal, selaku Humas PII.

Nantinya, PII akan memberikan apresiasi bagi industri aftermarket yang memberikan porsi ‘mainan’ bagi insinyur Indonesia untuk menghasilkan aneka produknya di dalam negeri. Program ini juga mendapat dukungan dari Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate), Kementerian Perindustrian.

“Dukungan kita berikan, kita sedang rancang road map-nya. Apresiasinya nanti kita buat kelas-kelasnya. Misalnya untuk komponen yang ramah lingkungan akan kita berikan penghargaan. Hal ini juga bagian untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia,” ungkap I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Ilmate, Kemenperin.

Hal ini pun mendapat respons dari pemain aftermarket. Disebutkan jika masalah besar yang menghantui saat mengembangkan produk di dalam negeri ternyata cukup kompleks.

Yakni investasi yang justru membuat produk tak memiliki daya saing dari segi harga jual di pasaran. “Menurut saya kalau kita mengembangkan produk di dalam negeri, kendalanya besarnya adalah investasi sehingga kadang harga tidak bersaing,” ungkap Merisca Indriany, Managing Director PT Sumber Mas Autorindo, distributor alarm berlabel Master BS-2.

Pengembangan produk tak hanya berkutat pada desain namun perlu diperhitungkan biaya bahan baku hingga ongkos tenaga kerja yang terakumulasi menjadi cost produksi.

“Tantangan pengembangan produk dalam negeri adalah daya saing dari sisi harga, selama ini barang impor terutama dari China membanjiri pasar dalam negeri oleh karena harga mereka murah, walau secara kualitas banyak yang kurang baik karena berbanding lurus dengan harganya,” sebut Joseph Palupi, Marcomm and Motorcycle Product Manager PT Dirgaputra Ekapratama, pemegang merek sparepart dan aksesoris berlabel RCA.

Meski begitu ada juga yang sudah mengembangkannya.

Halaman 1 2 3 4

EDITOR

Bagja

Jumat,23 Sept 2016 10:30 WIB

Toyota Sienta - Test Drive Review

Senin,19 Sept 2016 15:15 WIB

All New Honda BeAT ESP 2016 - Test Ride

Jumat,9 Sept 2016 13:30 WIB

KUN Bali & Banyuwangi 2016

Top