Selasa,16 Agust 2016 08:00 WIB

Penulis: Harryt MR

Dicari Pabrikan Yang Melibatkan Insinyur Indonesia Dalam Proses RnD

Foto: Harryt

Pengembangan produk harus dikuasai oleh insinyur Indonesia

Jakarta - Seolah tenggelam di tengah hiruk pikuk industri otomotif, insinyur Indonesia dalam bidang rancang bangun otomotif tak kalah bersaing. Namun hingga saat ini cukup jarang insinyur Indonesia yang terlibat dalam proses RnD (Research and Development).

“Bicara manufaktur kita sudah khatam mulai dari A sampai Z. Tapi product development-nya berbasis di Jepang,” ungkap Agus Tjahajana, Ketua Bidang Industri Otomotif, Persatuan Insinyur Indonesia (PII), pada konferensi pers (10/8) di Gedung Kementerian Perindustrian RI.

Atas dasar itu, PII menggagas program Apresiasi Product Development Indonesia (APDI) 2016. Dicari pabrikan yang melibatkan insinyur Indonesia dalam proses RnD.

Caranya dengan mengapresiasi hasil karya insinyur Indonesia dalam pengembangan produk otomotif. Hal-hal yang dinilai adalah produk yang sudah dijual dimana peserta menunjukkan bukti-bukti bahwa proses pengembangan produk dilakukan oleh insinyur Indonesia.

Proses seleksi digelar pada bulan Juli, yang pada tahap pertama hanya untuk industri otomotif anggota Gaikindo. Pemberian apresiasi digelar pada gelaran GIIAS tanggal 17 Agustus 2016.

“Kita ingin mengajak manufaktur untuk insinyurnya masuk ke area desain dan RnD. Selama ini bagian itu merupakan yang dilindungi, banyak rintangan yang dihadapi. Mau tak mau kita harus rebut,” tegas Agus.

Hal ini cukup beralasan, mengingat penguasaan teknologi menjadi kunci yang menentukan masa depan industri otomotif Indonesia. “Kita produksi 1,2 juta unit pada 2013, itu sudah menepatkan Indonesia di nomor 9 di dunia sebagai pasar terbesar, bahkan melewati Thailand. PII ingin agar hal ini memberi dampak positif terhadap penambahan kemampuan insinyur Indonesia dalam product development,” katanya lagi.

Selain memberikan apresiasi kepada pabrikan yang melibatkan insinyur di proses RnD, PII juga mendorong keterlibatan insinyur pada pengembangan produk aksesoris atau aftermarket. “Secara skill kita mampu, insinyur kita perlu ‘mainan’. Komponen aksesoris harusnya independent yang berhubungan dengan end user,” imbuh Achmad Rizal, selaku Humas PII.

Lebih lanjut menurut Agus, pihaknya memberikan advokasi kepada pemerintah untuk mengembangkan industri otomotif lebih lanjut. “Kita memaksa APM untuk menyediakan lahan bermain para insinyur. Produk mana yang berkontribusi paling banyak insinyur Indonesia, itu yang kita apresiasi,” sambung pria ramah ini.

EDITOR

Harryt MR

Top