Senin,7 Des 2015 19:15 WIB

Penulis: toncil

Imbas Dualisme Kepemimpinan Di Tubuh Metromini

  • Foto: Tyo

    Mentromini di terminal Blok M Jakarta Selatan

Jakarta - Metromini kembali jadi persoalan. Bahkan sebelum mencuatnya kasus kecelakaan Metromini vs KRL yang terjadi pada Minggu (6/12) dan menewaskan 18 orang di pelintasan Angke. Pihak Pemprov DKI Jakarta telah mewacanakan untuk mengambil alih pengelolaan bus sedang berwarna orange ini. 

Otomotifnet pernah mewawancarai Kepala Pengendalian dan Operasi Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kala itu dijabat oleh Sunardi Sinaga, yang kini dirotasi sebagai Kepala UP Parkir. Pada medio 2013 sudah kian banyak bertebaran Metromini yang tak laik jalan dan tidak dilengkapi surat-surat serta supirnya tak memiliki SIM. 

Pemprov DKI Jakarta pun geram dan berniat untuk mengandangkan seluruh armada Metromini yang tak laik jalan dan tak bersurat. “Kita akan kandangkan semua Metromini,” ucap Sunardi kala itu.

Sejurus dengan itu, Sunardi pun mengaku sulit dalam mereorganisir armada Metromini. “Kami ingin meremajakan Metromini, tetapi bagaimana bisa, sebab dalam tubuh PT Metromini pun terjadi kisruh dengan dualisme kepemimpinan,” katanya lagi.

Sebagai catatan, Metromini memiliki sejarah panjang. Mulanya dibuat sebagai sarana transportasi pesta olahraga Games of the New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun 1963.

Kemudian pada tahun 1964, oleh Gubernur Henk Ngantung dititipkan pada perusahaan swasta seperti Arion namun tak mampu dikelola dengan baik.

Lalu di era Ali Sadikin, sekitar 2.000 pemilik bus disatukan dalam badan PT Metromini.

Konflik pun dimulai dengan saling gugat yang dimulai oleh sebagian pengurus tahun 1993 yang menggugat pengurus tahun 1995 ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Gugatan ini dikabulkan dan diperkuat oleh putusan Pengadilan Tinggi Jakarta. Mahkamah Agung pun mengukuhkan pengurus tahun 1993.

Sejak itu, dualisme di tubuh PT Metromini terus terjadi hingga saat ini. Carut-marutnya manajemen Metromini menjadi klimaks dengan terjadinya kerusuhan sopir di kantor PT Metromini di Jl. Pemuda, Jaktim pada Agustus 2013.

Akibatnya, armada Metromini seakan tak terurus dengan tidak adanya standardisasi kelayakan dan manajemen yang baik.

Info terakhir masalah Metromini, juga pernah disuarakan oleh Presiden Jokowi yang meminta Menteri Perhubungan untuk berkerjasama dengan Pemprov DKI terkait penanganan Metromini.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dengan menilik kasus kecelakaan akhir pekan lalu berniat membuang ke laut, bagi bus Metromini yang ‘bobrok’. Harryt (Otomotifnet.com)

 

EDITOR

toncil

Top