Rabu,1 Juni 2016 06:45 WIB

Penulis: otomotifnet

Review 25 Tahun Industri Otomotif

Indonesia Sudah Bisa Bikin Mobil Nasional!

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Arina

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Beta -97

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Tim Beta-97

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Bimantara

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Mobkas versi APM Mazda MR90

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Mobnas Versi APM Suzuki Sidekick

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Fin Komodo

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Kancil

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    GEA

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Gambar Karakteristik Rancang Maleo

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Maleo

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Marlip mobil listrik yang dirancang serta dibuat oleh LIPI

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    SRI 500

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Tawon

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Perkasa

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    Timor

  • Foto: Dok OTOMOTIF

    VW Mitra

Jakarta - Sejatinya, industri mobil di Indonesia sudah dimulai evolusinya sejak era colonial Belanda. Ya, tercatat sebuah pabrik yang bernama NV General Motors Java Handel Maatschappij (NV GMJHM) berdiri pada tahun 1938.

Pabrik itu dibangun di kawasan Tanjung Priok, Jakut. Usia operasionalnya memang pendek.  Tahun 1942 harus ditutup karena Perang Dunia II. Setelah beroperasi lagi tahun 1946, GM Overseas Operation harus mundur dari Indonesia lagi tahun 1953.

Kisah tadi sebenarnya merupakan satu rangkaian dari sejumlah tonggak industri modern yang pernah berdiri di Tanah Air sejak abad ke-18.

Tepatnya yang dimulai di industri pengolahaan gula. Jadi sebenarnya, common sense akan sebuah industri sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dalam dunia otomotif, hal itu bisa ditengok saat masa dunia karoseri merebak sejak awal dekade ’70-an hingga pertangahan dekade ’80-an.

Pernah ada tak kurang dari 350 perusahaan karoseri di Indonesia. Itu juga sebenarnya sudah jadi bukti bahwa tahapan rancang bangun sudah dilewati. Sayang, masuknya era full pressed body pada akhir dekade 80-an membuat unsur kreatifitas rancang bangun mobil praktis hilang. Padahal begitu banyak desain berikut mutu penggarapan mobil yang bagus.

Kemudian semua unsur kreatif tadi harus menyingkir atas nama standarisasi mutu. Meski tak kemudian mati, kemampuan itu kini hanya dari sektor kendaraan komersial berupa bus maupun angkot.

Itu yang kemudian membuat banyak pihak juga merasa tetap perlu menjaga asa kemampuan rancang bangun. Dan itu bukan hanya saat era eforia mobil Esemka saja.

Kondisi ini yang kalau mau jujur kondisinya sudah bisa dilanjutkan oleh industri otomotif di Tiongkok saat ini. Platform pakai model merek A, mesin pakai merek B, dan sistem elektronik pakai buatan merek C.

Begitu seterusnya. Hal yang sebenarnya juga jamak dilakukan oleh pabrikan utama dunia saat ini. Berbagai pemasok produk maupun komponen menyatu dalam satu merek mobil.

Beruntung, asa untuk membangun mobil karya anak bangsa tetap ada. Meski kondisinya masih dijepit oleh keberadaan produsen dunia yang mendominasi proses produksi sampai tingkat pemasok.

Sebut saja nama-nama seperti Tawon, Komodo, ataupun Anoa. Meskipun masih dalam skala terbatas namun kehadirannya sudah bisa menunjukkan kemampuan bangsa ini dalam membuat mobil dengan merek Indonesia. Tanpa ada embel-embel merek kelas dunia.

Termasuk, kendati masih dibelit polemik, potensi mobil buatan Indonesia yang sudah bisa dibuat sejumlah SMK di berbagai kota juga merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Berikut sejumlah tonggak penting atas munculnya berbagai produk yang berlabel mobil nasional yang bisa dipotret oleh OTOMOTIF sejak terbit perdana tahun 1991. • (otomotifnet.com/eRie)

1996

BETA-97
Berbekal kode Beta-97 mobil jenis MPV juga dicanangkan oleh kelompok usaha Bakrie sebagai mobil nasional. Prototipenya sempat dibuat dan dilakukan tes di Leyland Technical Center di Manchester, Inggris. Proyek ini terhenti akibat krismon 1998.

1998

Timor
Berdasarkan Inpres No. 22 Tahun 1996 yang mengisntruksikan ke sejumlah Menteri untuk memberikan pembebasan pajak terhadap PT Timor Putra Nasional sebagai pionir mobil nasional. Proyek ini juga berhenti seiring krismon tahun 1998.

Bimantara
Jika Timor mengadopsi produk dasar dari Kia, Bimantara memilih untuk memakai produk dasar dari produk bermerek Hyundai. Proyek lansiran kelompok usaha Bimantara ini juga tak berlangsung lama.

1993

 

Maleo
Ini Banyak sering menduga bahwa Timor adalah awal munculnya asa menghadirkan mobil buatan Indonesia. Ternyata Maleo yang dikomandoi oleh Menristek (kala itu), BJ Habibie, untuk membuat mobil bermesin 1.200 cc (3 silinder). Proyek ini berhenti dengan hadirnya Timor

 

Proyek Maleo digawangi IPTN bekerjasama dengan pabrikan Rover Inggris dan desainer mobil Millard asal Australia. Mengusung mesin 2 tak 1.200 cc 3 silinder.

1995

sri 500
Kelompok usaha Kalla juga pernah melansir proyek mobil nasional. Mobil bermesin 1.500 cc ini, karena tidak didukung regulasi, akhirnya juga layu sebelum berkembang.

Perkasa
Krismon sedang menghebat, namun kelompok usaha Texmaco melansir bus dan truk dengan nama Perkasa. Mesin dieselnya buatan Styer (Austria) dan Cummins (AS), transmisi dari ZF (Jerman), bodi-sasis lisensi Leyland (Inggris), gardan Eaton (AS). Tahun 1999 diluncurkan dengan dominasi pembelian dari instansi pemerintah dan TNI.

Macan
Texmaco juga merancang MPV Macan (Manis dan Cantik). Menggunakan mesin 1.800 cc 4 silinder yang mirip mesin Toyota Kijang. Model ini hasil kolaborasi dengan produsen otomotif Matra yang asal Perancis.

2002

Marlip
Merupakan mobil listrik yang dirancang serta dibuat oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Dibuat untuk kendaraan area khusus seperti mobil golf. Ada juga model mobil penumpangnya.

Kancil
Singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah. Buatan PT KANCIL (Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari). Mobil yang disiapkan untuk menjadi pengganti Bajaj atau bemo ini menggunakan mesin bensin 4 tak 400 cc.

2003

GEA
Singkatannya dari nama Gulirkan Energi Alternatif. Hasil riset PT INKA (Industri Kereta Api) dengan mesin berkapasitas 640 cc. Tujuan GEA adalah memberikan alternatif mobil kecil menghadapi krisis energi. Ada dua tipe kategori city car dan pikap.

Gang Car
Sesuai namanya sebagai kendaraan untuk kebutuhan rute pemukiman. Kreasi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) bermesin 125-200 cc. Proyek ini tidak pernah terdengar lagi kabarnya sejak tahun 2003 setelah PT DI dilanda kemelut.

2014

Fin Komodo

Ini merupakan salah satu mobnas yang masih eksis hingga kini. Dan bisa disebut juga punya mutu desain serta rancang bangun yang mumpuni sebagai kendaraan multiguna spek offroad. Pabriknya berada di Cimahi Jabar.

2007

Tawon
Diproduksi oleh PT Super Gasindo Jaya yang berlokasi di Rangkasbitung, Banten. Mobil ini bisa menggunakan bensin dan CNG serta sudah memenuhi standarisasi Euro 3. Kapasitas mesin Tawon sebesar 650 cc 4 langkah 2 silinder, dapat dipacu hingga kecepatan 100 km/jam. Mulai diproduksi sejak tahun 2009.

2009

Arina

Pabriknya berada di kota Semarang, awalnya sebagai proyek Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang didanai oleh Departemen Perindustrian. Punya tiga varian mesin motor; 150, 200, 250 cc. Merupakan karya seorang dosen jurusan Teknik Mesin Unnes bernama Widya Aryadi.

Mobnas Versi APM

Sejumlah APM sebenarnya pernah juga menghadirkan produk dengan label ‘Mobnas’ sejak dekade ’70-an. Sebut saja Sena yang berbasis Datsun pikap, lalu ada lagi VW Mitra yang merupakan pengembangan VW Kombi, Holden Lincah, Morina (dibangun dari Vauxhall), Isuzu Matra.

Dari segi desain, produk mobil yang khusus dibuat untuk pasar Indonesia itu waktu itu memang belum apik. Dan yang penting harga juga belum kompetitif karena regulasi dari pemerintah belum ada.

Di era dekade ’90-an juga ada dua merek yang mencoba lagi hadir lewat ‘mobil nasional’. Mazda mencoba menyodorkan MR90. Basisnya dari Mazda 323 yang dibuat hatchback.

Lumayan animonya, meskipun mayoritas dibeli oleh pihak TNI untuk kendaraan dinas para perwira menengah. Suzuki di pertengahan dekade ’90-an juga pernah berencana membuat ‘mobnas’ yang basisnya dari Suzuki Sidekick. Namun tidak ada kelanjutan lagi atas program itu. •

EDITOR

Haryadi Hidayat

Top