Jumat,1 April 2016 21:30 WIB

Penulis: Otomotifnet

Infinity Smart Cell Aki Tanpa Timah

Infinity Smart Cell Aki Tanpa Timah

  • Foto: rian/otomotifnet

    Konsistensi voltase infinity Smart Cell dengan elemen graphene

  • Foto: rian/otomotifnet

    Proses instalasi sama persis seperti aki konvesional

  • Foto: rian/otomotifnet

    Perbandingan kurva dyni infinity Smart Cell dengan aki konvesional

Berkembangnya teknologi, aki kendaraan sudah tidak lagi menggunakan timah, melainkan pakai graphene yang merupakan material baru yang tipis, kuat dan pengantar listrik yang baik

Jakarta - Kualitas aki yang menurun dari tahun ke tahun mendorong sebuah perusahaan asal Singapura bernama i-Quantum Research menemukan sebuah inovasi terbaru, yakni sebuah aki yang diklaim sanggup bertahan selama kurang lebih 6 tahun. Bukan hanya sekedar sumber kelistrikan kendaraan, Chen Eng Kiat selaku Chief Executive Officer i-Quantum Research mengklaim aki bernama Infinity Smart Cell ini bisa mempengaruhi performa mesin serta fitur kendaraan lainnya yang mengandalkan kelistrikan aki.

“Jika sumber kelistrikan optimal, maka sistem pembakaran pun menjadi makin baik karena parts seperti koil dan busi pun memberikan api yang lebih besar untuk mendukung kinerja piston,” tuturnya. Ia pun mengklaim, selain performa naik, jika kinerja mesin optimal berkat kelistrikan yang baik maka konsumsi bahan bakar pun lebih efisien.

Lantas, apa yang membuat aki ini beda dari aki konvensional pada umumnya? Rupanya terdapat beberapa elemen inti seperti graphene atau grafena yang merupakan material super konduktor paling tinggi yang dapat menghantarkan listrik secara optimal. “Elemen ini juga merupakan elemen yang sama untuk meluncurkan nuklir hidrogen sebelum mencapai ketinggian 30.000 kaki,” ucap Dr. Dominic Lo, PhD, Chief Research Officer i-Quantum Research yang berkunjung ke OTOMOTIF (25/11).

Selain itu, Infinity Smart Cell juga memiliki super kapasitor yang terdapat di dalam firmware untuk memberikan konsistensi daya listrik yang dibutuhkan kendaraan. “Super kapasitor memerlukan lithium dalam menyuplai arus dengan skala besar untuk starter kendaraan, nah bahaya yang dapat ditimbulkan oleh lithium jika terkoneksi langsung dengan mesin adalah ledakan yang disertai api. Oleh karena itu lithium yang kami rancang hanya menyuplai listrik dengan media super kapasitor di dalam firmware dengan tingkat keamanan yang tinggi,” lanjut pria berbadan gempal ini.

Lebih lanjut Ia menjelaskan kalau lithium yang digunakan yakni LiFePo4 tidak berbahaya. Dimana elemen lithium hanya akan mengeluarkan asap dan bubuk ketika terjadi korsleting. Berbeda dengan LiPo atau lithium polymer yang akan meledak dan mengeluarkan api dan dapat menimbulkan kebakaran jika terjadi korsleting arus listrik.

Hal itupun hanya akan terjadi jika pemasangan Infinity Smart Cell kurang tepat seperti kutub positif (+) dan negatif (-) yang tertukar. Kelebihan lainnya, bobot total Infinity Smart Cell ini yang cuma 3 kg, sedangkan aki konvensional mencapai 8-10 kg per unit. “Untuk perawatan hampir tidak ada sama sekali, hanya pemilik sebaiknya membawa kembali ke kami untuk mengganti lithium & pengecekan firmware setiap 3 tahun sekali secara gratis,” tegas Chen Eng Kiat. Dengan harga retail 500-600 dollar AS atau sekitar Rp 6,5-7,5 juta, aki ini akan segera dipasarkan tahun 2016 setelah melalui dipatenkan di Amerika Serikat. • (otomotifnet.com)

EDITOR

Otomotifnet

Top