Rabu,23 Maret 2016 09:55 WIB

Penulis: Bagja

Laporan Langsung Bangkok International Motor Show 2016

Kenapa Thailand Tak Meributkan Taksi Online vs Tradisional?

Foto: Bagja

Taksi jadi moda transportasi paling mahal di Bangkok, Thailand

Bangkok - Saat pameran Bangkok International Motor Show (BIMS) resmi dibuka kemarin (22/3), di Jakarta malah ricuh soal taksi online vs tradisional.

Masih sama soal demonstrasi, tapi kali ini lebih parah karena sampai menimbulkan anarkis. Lalu apakah kondisi tersebut terjadi juga di Thailand?

"Apa? Gak ada itu ribut-ribut soal taksi disini. Taksi online tak banyak disini, karena kami sudah disediakan transportasi dari pemerintah," ujar Komar Johari, yang sehari-hari menggunakan transportasi umum di kota Bangkok.

Dirinya yang asli Indonesia ini mengaku sudah tinggal lebih dari 28 tahun di Bangkok tak pernah mendengar ada keributan antara sesama pengemudi angkutan umum. Sebabnya, karena pemerintah Thailand menyuguhkan transportasi umum dalam berbagai lapisan.

Transportasi umum di Thailand, khususnya Bangkok terdiri dari beragam jenis. Ada taksi jadi transportasi umum yang paling mahal, juga ada MRT dan Sky Train.

Belum lagi bus yang melayani kota-kota satelit menuju Bangkok. Di dalam kota pun, ada angkutan umum kecil yang bahkan bisa masuk sampai jalan-jalan kecil. Bahkan, ojek pun di Bangkok terdaftar dan diatur pemerintah.

Taksi tarifnya 35 Bath (Rp 13 ribu) buka pintu, kemudian 2 Bath per 1.2 km.
MRT 14 Bath (Rp 5 ribuan). Sky Train 20 Bath (Rp 7 ribuan). Bahkan ada bus gratis yang disediakan Pemda Bangkok tersedia setiap jam!

"Itu kenapa kami malas pakai mobil pribadi. Mobil untuk weekend saja. Juga ngapain kami cari-cari taksi via online, disini mau kemana-mana mudah," tegas Komar.

Padahal kalau dilihat, tidak ada yang istimewa dari sistem transportasi di Thailand. Indonesia pun tak butuh banyak waktu untuk menciptakan hal yang sama. Hanya tinggal MRT dan Sky Train yang belum tersedia di Indonesia.

Sehingga wajar, ditengah kondisi lalu lintas yang macet, kondisi angkutan umum banyak yang tidak memadai, akhirnya terjadi migrasi dari angkutan umum tradisional menuju online. Itu tidak terjadi di Thailand karena semua kebutuhan mobilitas warganya terjamin.

Nah, sekarang tinggal bagaimana pemerintah Indonesia bisa mencontoh sistem transportasi Thailand dan beberapa negara tetangga lain. Tujuannya jelas, baik taksi online maupun tradisional, semuanya cuma punya satu tugas; melayani mobilitas warga sebaik mungkin. (otomotifnet.com)

EDITOR

toncil

Top