Rabu,4 Mei 2016 11:05 WIB

Penulis: otomotifnet

Menjaga Kondisi Ban, Ini Penyebab Berkurangnya Tekanan

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Selipan Batu

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Pentil Karat

  • Foto: Rizky/otomotifnet

    Tekanan angin ban wajib dilakukan minimal satu bulan dua kali

Jakarta - Selain dipompa agar  tekanan ban nyaman dipakai menggelinding, sebenarnya ban memerlukan perhatian tambahan. “Memang terlihat tidak perlu dirawat seperti bodi, tapi sebenarnya ban perlu dirawat supaya tidak merugikan pemilik mobil,” sebut Andry Adam, Sales Training Manager PT Goodyear Indonesia, Tbk dalam kunjungan ke pabrik Goodyear di Bogor, Jabar. Tentu, musuh dari ban adalah kondisi kempis atau bocor. Secara umum, ada beberapa hal yang membuat tekanan angin ban berkurang. Seperti berikut ini. • (otomotifnet.com)

Benda Tajam

Termasuk dalam kategori ini seperti paku, sekrup bahkan ujung obeng. Jelas jika tertusuk bendabenda ini, karet hitam akan knock out (KO). Menyerah tak bisa melawan. Agak sulit memang menghindari benda-benda ini, terutama jika yang disebar oknum- oknum tak bertanggungjawab. Jika sudah tertusuk benda tajam, maka struktur ban sebenarnya sudah berubah. Meski sudah ditambal sekalipun. Bahkan, jika proses tambal tidak benar, akan memperparah kerusakan jalinan benang dan komponen dalam ban tersebut.

Pentil Karat

Secara fungsi memang terlihat hanya sebagai ‘jembatan’ untuk memasukkan angin ke ban. Tapi sesungguhnya pentil punya fungsi yang sangat penting. Bahkan tutupnya sekalipun. Pentil sendiri bagian dalamnya berupa per. Saat diisi dengan angin, maka per akan sedikit tertekan. Ketika selesai pengisian, maka per tersebut akan berbalik lagi ke posisi semula.

Nah, jika tidak ada tutup pentil, maka sangat mudah debu atau partikel pasir kecil masuk ke pentil. “Kalau sudah masuk, akan sulit dibersihkan. Sebab itu tutup pentil harus selalu terpasang,” tambahnya. Dengan adanya debu di pentil, akan membuat gerak per tersebut sedikit terhambat. Sehingga debu akan menahan per saat akan bergerak kembali ke posisi normal. Jika per sudah tertahan debu, maka angin ban perlahan-lahan akan keluar melalui pentil.

Sebab itu, tanpa ada kebocoran di fisik ban, tekanan angin bisa berkurang. Jika sudah demikian, bahaya dan kerugian secara material akan terus mengintai. Seandainya, sudah sempat tanpa tutup pentil, lebih baik ganti bagian dalam pentil. Tidak terlalu mahal, hanya sekitar Rp 5-10 ribu saja. Tapi keamanan dan kenyamanan akan tetap terjaga. Kalaupun ingin mengganti pentil utuh juga tak masalah, hanya saja proses ganti akan lebih merepotkan.

Selipan Batu

Kerap terlihat batu terselip diselasela grooved atau kembang ban. Dan kerap pula diabaikan, bahkan saat mencuci mobil. “Padahal itu juga berpotensi membuat ban rusak dan menjadi bocor,” ungkap Andry Adam. Saat mencuci, sebaiknya batubatu ini disingkirkan dari ban. Congkel saja pakai obeng. Tapi wajib hati-hati supaya tidak membuat ban luka. Dengan batu yang terselip, ketika mobil berjalan ada dua kemungkinan. Batu akan terlempar atau justru semakin ke dalam.

Saat batu masih ada dan ban mulai tergerus, batu tersebut tidak akan terlempar, tapi justru lebih masuk lagi. Jika demikian, batu akan ‘ngebor’ ban. Hasilnya menciptakan lubang kecil dan membuat bocor halus pada ban. Sama seperti pada pentil, kurangnya angin ban ini akan perlahan-lahan, tapi pasti.

Tahukah Anda?

Meski tidak ada kebocoran apapun, tekanan angin ban mobil tetap akan berkurang dalam satu bulan. Keluar melalui pori-pori ban yang ada. Penurunannya sekitar 2 psi. Cukup banyak ya. Oleh sebab itulah, pengecekan terhadap tekanan angin ban wajib dilakukan minimal satu bulan dua kali. Jangan hanya melalui visual, tapi harus lewat alat yang dipercaya. •

EDITOR

Bagja

Top