Selasa,30 Agust 2016 13:00 WIB

Penulis: Bagja

Seberapa Siap Transportasi Umum Jakarta Ladeni Sistem Ganjil-Genap?

Foto: Rizky

Aturan ganjil genap sebenarnya oke, tapi harus diimbangi angkutan umum yang juga oke

Jakarta - Sistem Ganjil-Genap resmi mulai diberlakukan hari ini (30/8) di beberapa ruas jalan utama di Jakarta. Harapannya, tentu mengurangi volume kendaraan, bukan sama sekali menghapus kemacetan.

Masyarakat masih banyak pilihan lain. Sudah jadi rahasia umum, saat uji coba beberapa waktu lalu, banyak yang memaksakan menggunakan plat nomor palsu. Atau kalau kita merasa orang kaya, bisalah membeli beberapa mobil, sehingga plat nomor bisa ganjil dan genap.

Masyarakat pun dihimbau oleh pihak Kepolisian untuk menggunakan angkutan umum. Memang mudah kalau sekedar menghimbau. Transportasi umum yang seperti apa, sama sekali tidak dijelaskan.

Namun, kebanyakan masyarakat pastinya tidak akan mencoba dua opsi diatas tadi. Paling umum adalah ya mempertimbangkan untuk menggunakan angkutan umum. Namun pasti langsung bertanya, "Pakai apa? Transportasi umum? Yang mana?" 
   
Apa jawabannya? Sepertinya belum ada yang benar-benar bisa membuat kebanyakan masyarakat Jakarta yakin dari sekian banyak pilihan angkutan umum. Selain masalah tarif, layanan, sampai keamanan jadi pertimbangan utama.

Padahal, jalur protokol yang diterapkan sistem ganjil-genap, merupakan kawasan yang identik dengan 'kelas atas' atau setidaknya berlaku dan bergaya 'kelas atas'. Disana tempatnya para eksekutif muda, para pejabat negara.

Apa mau mereka lusuh dan berkeringat menggunakan Metromini? Atau kalaupun ada AC, tetap berdesakan di TransJakarta. Atau coba taksi online yang nyaman? Ah, aturan mainnya saja sampai sekarang belum jelas, apakah taksi online bebas aturan ganjil-genap atau tidak.

Lalu seberapa siap transportasi umum di Jakarta untuk meladeni sistem ganjil-genap ini? Jawabannya mungkin relatif. Bagi pemerintah, TransJakarta bisa dijadikan opsi, apalagi akibat penerapan ganjil-genap, kecepatan TransJakarta diklaim bertambah. 

Namun bagi masyarakat? Sebenarnya jawabannya sudah jelas. Tidak mungkin volume kendaraan pribadi terus bertambah sehingga membuat sesak jalanan, kalau transportasi umum sudah memadai.

Untuk apa beli mobil di Jakarta kalau mau kemana saja, angkutan umumnya sudah senyaman dan seaman mobil pribadi? Tapi tidak bisa dipungkiri sebenarnya, justru kenyataan sebaliknya yang terjadi.

Faktanya, kebanyakan masyarakat 'terpaksa' membeli mobil ditengah penghasilannya yang pas-pasan hanya agar bisa tetap melakukan mobilitas dengan nyaman dan aman, kalau masih belum bisa tepat waktu karena kemacetan.

Jadi, jangan sampai sistem ganjil-genap yang sudah berjalan efektif ini, jadi berantakan hanya karena pemerintah tidak siap untuk meladeni limpahan masyarakat yang tidak mengakses jalur tersebut, dengan layanan transportasi umum. Jangan sampai..

EDITOR

Bagja

Top