Sabtu,1 Agust 2015 13:36 WIB

Penulis: Wayang

Tuntutan YLKI Terkait Kecelakaan Lalu Lintas Selama Arus Libur Lebaran

Foto: Harryt

Tuntutan YLKI Terkait Kecelakaan Lalu Lintas Selama Arus Libur Lebaran



Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan bahwa korban lakalantas mudik lebaran tahun ini sebagai bencana nasional. Hal ini diutarakan oleh Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi. "Jika dilihat dari masih tingginya lakalantas dengan korban meninggal dunia dan luka berat yang masih sangat signifikan,” tegasnya.

Masih menurut Tulus, terbukti selama H-7 dan H+7 mudik Lebaran, data yang dirilis dari Korlantas Mabes Polri jumlah korban meninggal dunia karena laka lantas lencapai 628 orang, luka berat 1.028 orang, dan luka ringan 3.808 orang. Dengan korban seperti itu, sudah sangat pantas jika mudik Lebaran tak ubahnya sebagai bencana nasional!

“Jadi sungguh aneh bin ajaib jika Kemenhub mengklaim bahwa mudik Lebaran 2015 dinyatakan berhasil! Apakah menurunnya korban meninggal yang hanya 8 persen layak disebut berhasil?,” katanya melalui surat yang diterima redaksi OTOMOTIFNET.COM.

Oleh karena itu, YLKI mendesak kepada Presiden/pemerintah, Polri dan pihak terkait:

1. Mendesak pada Presiden Jokowi untuk memberikan respon konkrit terhadap korban masal mudik Lebaran tersebut. Terhadap korban kecelakaan pesawat saja, yang jumlah korbannya lebih kecil, Presiden langsung menggelar jumpa pers, mengapa terhadap korban mudik Lebaran yang korbannya jauh lebih besar, Presiden masih diam saja?

2. Mendesak Pemerintah untuk memperbaiki dan memperbanyak akses angkutan umum di sektor darat, khususnya perkeretaapian. Angkutan tersebut lebih efisien dan aman!

3. Polri agar bertindak tegas terhadap pelanggaran lalu lintas. Patut diduga, tingginya laka lantas karena pihak Polri melonggarkan pelanggaran lalin.

4. Mendesak Kemenhub dan Polri menekan tingginya penggunaan sepeda motor sebagai sarana mudik. Ini terbukti korban laka lantas lebih dari 75 persen adalah pengguna sepeda motor.

5. Polri seharusnya juga membuka pada publik, merek sepeda motor yang mengalami laka lantas, dan meminta produsennya untuk dimintai pertanggungjawaban.

6. Mendesak pemerintah daerah memperbaiki transportasi umum di daerahnya. Salah satu alasan pemudik menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, karena di daerah minim akses transportasi umum.

7. Masyarakat jangan memaksakan diri untuk menggunakan sepeda motor sebagai sarana mudik, apalagi dengan penumpang/barang yang over kapasitas;

8. Meningkatkan angka santunan bagi korban meninggal dan luka berat, yang selama ini hanya "dihargai" Rp 25 juta saja, dari Jasa Raharja. Padahal, korban laka lantas biasanya jatuh miskin. Bandingkan dengan santunan serupa di Malaysia yang mencapai Rp 3,1 miliar!

9. Memperbanyak akses rest area, khususnya di tol Cipali, atau bahkan di jalan-jalan arteri. Akses rest area sangat penting bagi pemudik untuk istirahat. (Otomotifnet.com)


EDITOR

fendi

Top