Selasa,6 Okt 2015 14:15 WIB

Penulis: pewete pewete

Mengenal Prinsip Dasar Kustom Kulture

Foto: ISTIMEWA

Mengenal Prinsip Dasar Kustom Kulture


Supaya enggak terkesan ‘gado-gado’

Jakarta
- Apabila membahas tentang aliran modifikasi motor di dunia Kustom Kulture sudah hampir pasti tidak ada habisnya, apalagi di era yang sarat teknologi ini, pertukaran informasi di dunia sudah sangat mudah dan cepat.

Saking cepatnya terkadang tidak semua informasi dapat tercerna dengan baik, benar dan lengkap. Sebenarnya memang tidak ada urusan salah atau benar ketika kita berbicara tentang modifikasi motor. Tapi, tetap saja, butuh pengenalan sejarah supaya enggak malah jadi salah gaya. Atau malah salah aliran. Berikut ini info sederhana yang patut diketahu. • (otomotifnet.com)


Bobber harus serasi dengan bodi besar

BOBBER

Gaya modifikasi yang dikenal sebagai Bobber sendiri berawal di era ‘40-‘50-an. Dipelopori oleh banyak pemuda Amerika yang pulang dari medan perang yang kesal dengan kesulitan hidup di masa damai. Hal itu dilampiaskan dengan kebut-kebutan dengan tunggangan semasa perang seperti Harley-Davidson tipe WL.

Dan istilah ini diambil dari kalimat bobbing yang berarti memangkas agar sebuah tunggangan mereka jadi lebih ringan, sederhana, mudah bermanuver, dan menekan biaya operasional. Didot dari rumah modifikasi Retrogrades Slaughter House di Bandung menyebutkan banyak yang salah atas istilah ini.

“Semisal, ada yang mengatakan bahwa bobber harus identik dengan penggunaan ban lebar untuk roda depan dan belakang. Padahal sebenarnya itu mungkin hanya kebetulan, karena pada era dimulainya gaya modifikasi ini, motor-motor bongsor seperti Harley Davidson dan Indian-lah yang banyak mendominasi jalanan benua Amerika,” analisanya.

“Bukan berarti tidak ada bobber yang bagian rangkanya di modifikasi, tetapi memang biasanya hanya bersifat merampingkan dan mengurangi berat tanpa merubah bentuk asli rangka seperti dalam aliran chopper misalnya,” ungkapnya lagi.•


Brat Style harus punya detail dan finishing tinggi

BRAT STYLE & JAP STYLE

Aslinya, Brat Style sendiri adalah nama salah satu bengkel modifikasi di Jepang dan dipunggawai oleh Go Takamine. Secara umum karakternya masih masuk ke genre bobber, tracker, atau bahkan cafe racer dengan sentuhan gaya personal darinya.

Modifikator dari negara lain bisa saja punya detail berbeda. Dan itu jadi sah-sah saja juga kalau muncul sub genre yang lain lagi meski secara karakter serupa. Nah untuk istilah Jap Style, sebenarnya tampil dengan ketiga gaya tadi. Hal yang paling khas muncul dari budaya detail serta finishing yang tingkat dewa yang memang khas budaya masyarakat Jepang. Hal itu juga karena regulasi kelaikan sebuah kendaraan di Jepang memang tinggi sehingga memaksa modifikator membuat formula desain yang presisi.•


Salah satu gaya dasar motor Chopper

CHOPPER

Gaya ini muncul dekade ‘50-‘60-an’, merupakan terusan dari gaya bobber yang beken di era sebelumnya. Namun pola modifikasinya semakin ekstrim. “Ambil contoh rangka asli yang dipotong (chop) atau bahkan membuat rangka baru untuk mengejar tampilan yang berbeda dari tampilan asli bawaan pabrik,” seperti disampaikan oleh Rizky, seorang pehobi modifikasi motor dan pelahap literatur budaya roda dua di Jakarta.

Perubahan di sektor rangka bisa merambah ke mengubah sudut kemiringan rumah setir, memotong dan mengubah bagian backbone untuk penempatan tangki khusus. Bisa dibilang semua untuk aliran chopper semua mungkin dilakukan.

Barata Dwiputra dari bengkel Thrive Motorcycles Kemang Jaksel juga angkat bicara, ia menegaskan bahwa idiom chopper tujuannya untuk membuat perampingan dimensi serta mencari handling yang lebih lincah.

Memang beberapa sub-genre seperti Psychedelic dan Scandinavian Chopper di era ‘70-an umunya memanjangkan suspensi depan. Boleh jadi upaya memaksimalkan tampilan sedikit mengorbankan urusan handling motor.•

FORM FOLLOW FUNCTION

Semua narasumber OTOMOTIF yang dihubungi secara terpisah itu sepakat menyebut satu hal yang tidak boleh terabaikan dalam modifikasi motor terlepas dari pilihan gaya adalah soal fungsi dari sebuah kendaraan.

Beragam aliran yang ada harusnya bisa memperluas kemungkinan dalam modifikasi. Tetapi agar tetap diingat, dalam setiap langkah kita memodifikasi motor, satu value penting yang harus tetap menjadi acuan, yaitu “form follow function”. Terjemahan bebasnya semua desain, aplikasi komponen serta

aksesori, dan berbagai detailnya harus tetap memenuhi soal safety serta sesuai dengan riding habit sehari-hari. •

CAFE RACER

Hampir mirip sejarahnya dengan bobber, gaya ini muncul di Inggris pada era yang sama dengan pelaku awal serupa yaitu mantan prajurit pasukan Inggris di Perang Dunia II.Perbedaannya hanya di jenis motor yang digunakan dan referensi gaya modifikasi yang diambil.

Cafe racer menarik referensi dari motor-motor balap Grand Prix yang pada saat itu sedang digandrungi di daratan Eropa. Memanfaatkan motor-motor produksi pabrikan Britania Raya seperti Triumph, BSA, dan Norton para rockers di Inggris membuang komponen yang tidak diperlukan untuk menunjang soal kecepatan laju motor.

“Dari budaya ini pulalah lahir beberapa motor yang bisa dikategorikan sebagai motor-motor cross breed,” cerita Didot lagi. Contoh motor croos breed, menurut Didot, seperti kuda besi yang dikenal sebagai Triton.

Berbasis rangka featherbed dari Norton yang kuat, ringan, dan stabil dipadu mesin produksi Triumph yang tenaganya gahar.Opsi lain bisa pilih formula TriBsa (rangka BSA, mesin Triumph) atau Norley (rangka Norton Featherbed, mesin Harley-Davidson). Pokoknya sesuai namanya yang racer, tampilan berbanding lurus dengan performa.•

TRACKER
Karakternya mirip cafe racer. “Berawal dari motor-motor lintasan balap board track, flat track atau dirt track di Amerika, menarik bentuk dan fungsinya yang paling dominan yang sekarang sudah berkembang menjadi gaya modifikasi ini mengedepankan fungsi motor yang bisa dipacu di berbagai  jenis lintasan, baik itu jalan tanah berkerikil atau jalanan aspal,” urai Barata yang sehari-hari membesut sebuah Honda GL dengan tampilan khas

Scrambler.
Kalau sudah begitu semua, menurut pria yang latar belakang pendidikan tingginya desain grafis itu, komponen serta aksesori yang terpakai harus  mendukung posisi berkendara sekaligus handling. •






EDITOR

Otomotifnet

Top