Rabu,23 Sept 2015 16:10 WIB

Penulis: pewete pewete

Beda SOHC, DOHC, VVA dan Desmodromic, Konstruksi dan Kelebihannya

Foto: OTO-AANT, POPO, DOK OTOMOTIF

Beda SOHC, DOHC, VVA dan Desmodromic, Konstruksi dan Kelebihannya


DOHC dengan rocker arm, gesekan lebih ringan sehingga lebih efisien

Jakarta
- Honda New CB150R dan Sonic 150R yang akan diluncurkan awal Agustus ini, santer dikabarkan dibekali mesin yang benar-benar baru, seperti diameter x langkah piston yang square. Kemudian yang menarik menggunakan mekanisme kem DOHC namun pakai rocker arm, seperti yang diterapkan pada CBR250R.

Apa sih kelebihan dari mekanisme itu? Mari kita bahas, tapi enggak hanya itu, sekalian kita kupas juga mekanisme kem yang lain seperti SOHC (single overhead camshaft), DOHC (double overhead camshaft), Desmodromic sampai yang pakai VVA. Yuk! • (otomotifnet.com)

---------------------------------------------------
DOHC ROLLER ROCKER ARM


Seperti diterapkan pada CBR250R, kem masuk dan buang hanya punya satu lobe atau bubungan. Untuk mendorong kedua klep, di bawah lobe ada rocker arm bercabang yang dibekali roller, pas di bagian yang ketemu dengan lobe kem. Ujung rocker arm akan menekan tangkai klep, yang di antaranya ada shim yang ketebalannya sebagai pengatur celah klep.

“Kem DOHC yang pakai roller rocker arm seperti di CBR250R punya keuntungan low friction,” terang Sriyono, Technical Service Division PT Astra Honda Motor. Bisa begitu menurutnya karena bidang yang bergesekan lebih sedikit dibanding DOHC biasa yang langsung menekan tapet, ditambah lagi adanya rocker arm yang memperingan kinerja kem, karena seperti prinsip pengungkit.


Seperti inilah milik Honda Sonic 150R

Kelebihan lain saat tune up lebih mudah, karena hanya satu bubungan.“Karena gesekan lebih ringan, konstruksi kem ini punya kelebihan bisa main rpm lebih tinggi dibanding SOHC atau DOHC biasa,” terang Tomy Huang, President Director BRT, Cibinong.

Kendati punya banyak kelebihan, tetap ada kekurangannya. “Secara manufaktur lebih mahal, karena lebih banyak komponennya seperti adanya rocker arm,” lanjut Sri, sapannya. “Kalau untuk keperluan balap, kem model ini lebih sulit bikin profilnya,” imbuh Tomy yang punya mesin simulasi kem ini.

---------------------------------------------------
DOHC


DOHC sudut klep bisa lebih sempit, efisiensi volumetris meningkat


Konstruksi DOHC konvensional seperti ditemukan di Suzuki Satria F150, Kawasaki Ninja 250 atau Yamaha YZF-R25. Tiap kem (masuk dan buang) punya dua bubungan (tergantung jumlah klep) yang masing-masing langsung menekan tapet kem. Nah di balik tapet itu ada shim, untuk mengatur celah klep.

“Konstruksi DOHC lebih banyak dipakai pada motor yang punya power di putaran mesin tinggi,” terang M. Abidin, GM Service & Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing. Hal di atas tentu berhubungan dengan kelebihan yang ditawarkan.


DOHC konvensional, gesekan relatif lebih besar

“Sistem DOHC ini punya kelebihan sudut klep bisa lebih tegak, jika dibanding SOHC, sehingga payung klep bisa dibikin lebih lebar sehingga efisiensi lebih baik. Kelebihan lainnya relatif jarang stel klep,” terang Tomy.

Lalu apa kekurangannya? “Karena punya 2 bubungan, membuatnya punya gesekan besar sehingga lebih berat, tenaga yang hilang atau mechanical loss untuk memutar kem lebih besar dibanding DOHC rocker arm dan yang SOHC,” lanjut pria berkaca mata minus ini.

---------------------------------------------------
SOHC

 

Konstruksi ini banyak dipakai di motor lokal, seperti Yamaha V-Ixion, Honda New MegaPro dan sebagainya. Sesuai namanya, sistem ini hanya punya 1 kem untuk menggerakkan klep masuk dan buang.

Bila cylinder head-nya hanya 2 klep seperti Honda Blade, maka rocker arm punya 1 ujung, bila 4 klep seperti di V-Ixion maka rocker arm bercabang.


Pada konstruksi SOHC, penyetelan pakai baut di ujung pelatuk

Sistem penyetelan bukan mengandalkan shim, namun memutar baut yang dikunci mur, yang berada di ujung rocker arm yang bertemu dengan pangkal klep.

“Kem SOHC punya kelebihan gesekan lebih ringan dibanding DOHC biasa, namun sudut klep cenderung lebih lebar sehingga ukuran payung klep lebih kecil. Makanya kurang mendukung untuk main di putaran mesin tinggi. Terakhir penyetelan klep cenderung lebih sering,” terang Tomy Huang.

---------------------------------------------------
VARIABLE VALVE ACTUATOR


VVA, mirip VTEC di mesin mobil Honda

VVA atau Variable Valve Actuation adalah konstruksi klep yang disematkan Yamaha pada NMAX. Sesuai namanya, secara sederhana diartikan bukaan klep yang bervariasi. Bervariasi disesuaikan dengan putaran mesin. Pada konstruksi kem SOHC dengan VVA pada NMAX, klep in dibekali 2 buah rocker arm yang masing-masing dikasih sebuah bubungan klep dengan beda profil.

Saat di bawah 6.000 rpm, rocker arm dengan profil kem lebih rendah yang bekerja, sehingga cenderung lebih irit. Namun setelah 6.000 rpm profil lobe satunya yang bekerja, yang memiliki profil lebih tinggi sehingga pasokan bensin ke ruang bakar makin banyak, hasilnya tenaga yang dihasilkan makin besar, laju pun jadi ngacir.

Perpindahan profil ini diatur ECU, aktuatornya menggunakan solenoid yang menempel di kepala silinder. Solenoid ini akan menggerakkan syncronizing pin, yang saat 6.000 rpm akan menonjok rocker arm high, sehingga profil kem yang tinggi yang digunakan. Kemudian jika putaran mesin turun, maka solenoid akan menarik syncronizing pin tadi, sehingga kembali yang digunakan lobe kem yang rendah.

---------------------------------------------------
DESMODROMIC
 

Desmodromic Hanya ada di Ducati, sangat minim gesekan


Sistem klep Desmodromic patennya dipegang Ducati, makanya tak dijumpai di motor merek lain. “Sistemnya tiap klep punya dua lobe, lobe pertama untuk membuka klep, lobe kedua untuk menutup, jadi tanpa per klep seperti umumnya. Ada per namun ada di pengungkit untuk membantu rocker arm balik saja,” terang Rahadi Wibowo, mantan mekanik Ducati Indonesia.

Tanpa adanya per, kelebihan yang ditawarkan tentu saja sangat minim gesekan atau mechanical loss-nya kecil. “Diputar enteng banget, pakai tangan saja muter tuh, lebih enteng dari kem motor bebek, dan enggak akan ada floating makanya pas untuk main putaran tinggi,” yakin Erwe, sapaan akrabnya.

“Sementara itu kekurangannya adalah suaranya cenderung berisik dan moving part-nya banyak,” lanjut pria yang hobi adventure pakai motor ini.

EDITOR

Otomotifnet

Top