Rabu,7 Okt 2015 12:21 WIB

Penulis: pewete pewete

First Ride Royal Enfield Continental GT, Jajal Langsung di Inggris!

Foto: ROYAL ENFIELD

First Ride Royal Enfield Continental GT, Jajal Langsung di Inggris!



Bersamaan dengan masuknya Royal Enfield ke Indonesia, OTOMOTIF diundang ke Inggris, tanah kelahirannya untuk mencoba Continental GT


Inggris - Lima puluh tahun silam, tepatnya 1965 pertama kali muncul Royal Enfield Continental GT yang sempat mendapat penghargaan dari media lokal Inggris sebagai Britain Fastest 250 cc. Penghargaan ini seiring digunakannya oleh legenda balap John “Mooneyes” Cooper di Silverstone.

Selang beberapa dekade, di 2013 lahir kembali Continental GT menggunakan mesin 535 cc. Dan bersamaan dengan masuknya Royal Enfield ke Indonesia, OTOMOTIF diundang ke Inggris, tanah kelahirannya untuk mencoba Continental GT, sekaligus meliput keikutsertaan pabrikan yang berproduksi sejak 1901 ini di Goodwood Revival 2015.

Rute yang dilalui cukup menantang, start dari Royal Enfield Store di Mitcham Surrey UK, tepatnya di pinggiran selatan kota London menuju kawasan Chichester, tempat berlangsungnya Goodwood Revival dan sempat mampir di Brighton Pier untuk istirahat dan makan.

Jalur yang dilalui bervariasi, antara high way yang lebar dan lurus diselingi banyaknya around about alias bundaran khas Inggris, dan lewat jalan pedesaan yang hampir semua beraspal mulus. Jarak yang ditempuh cukup lumayan, sekitar 150 km. Dan yang pasti cuaca cukup dingin dan berangin, bikin menggigil sepanjang jalan!

Bagaimana kesan pertama naik cafe racer yang akan mulai dijual sekitar Oktober nanti ini? Berikut ulasan lengkap dari motor yang diproduksi di India ini. • (otomotifnet.com)
 

Pakai setang jepit, khas cafe racer


Buntut tawon menemani single seat, cakep!

Desain

Salah satu yang harus diacungi jempol dari Royal Enfield adalah keteguhan pada desain, tak banyak berubah dari dulu hingga kini. Desain khas cafe racer tak diubah, lihat dari bentuk tangki memanjang dengan sedikit coakan di belakang, makin apik dipadu jok tipis dengan buntut tawon.

Mesin pun masih menganut desain dan teknologi masa lampau, sehingga kesan klasiknya sangat kental. Perubahan hanya terjadi di rangka depan jadi double cradle. Berikutnya rem sudah cakram menggantikan teromol.

Fitur & Teknologi
Kita awali dari depan, sebagai cafe racer, Continental GT dibekali setang jepit dan di ujungnya nempel spion dengan kaca kebiruan. Sementara panel instrumen analog untuk spidometer dan takometer, di dalamnya ada layar digital berisi odometer, tripmeter dan fuelmeter.

Geser ke bawah, suspensi belakang pakai model tabung bikinan Paioli, sedang depan pakai teleskopik dengan sepatbor mungil. Untuk menghentikan laju, depan pakai rem Brembo 2 piston 300 mm floating, sedang belakang Bybre 1 piston 240 mm. Ban pakai Pirelli Sport Demon, depan 100/90-18 dan belakang 130/70-18.

Teknologi terkini yang diusung sistem injeksi dari Keihin, sehingga lolos uji emisi Euro3. Uniknya masih menggunakan tuas semacam cuk yang harus diaktifkan saat mesin dingin, untuk menaikkan rpm agar cepat panas.


Spidometer dan takometer analog, odometer dan fuelmeter digital



Riding Position & Handling
Posisi duduk yang ditawarkan Continental GT terbilang racy, tapi racy ala besutan balap masa lampau ya. Dengan kombinasi setang jepit dan footstep yang tinggi dan mundur, badan sedikit merunduk namun masih nyaman untuk harian, karena setang jepitnya enggak serendah besutan balap masa kini. Setelah jalan sekitar 150 km enggak bikin pegal pergelangan tangan.

Joknya yang panjang ternyata pas saat pantat mundur ketika merunduk di trek lurus, namun karena busa tipis bikin sakit pangkal paha setelah jalan lama. Penggunaan sasis double cradle yang rigid, dipadu ban yang tak terlalu lebar memberikan handling yang sangat lincah, kendati bobotnya mencapai 184 kg.

Ketika menaklukkan tikungan yang banyak dijumpai di jalanan pedesaan terasa menyenangkan, ringan dan nurut banget.  Redaman suspensinya cukup baik, terutama belakang terasa sangat pas, empuk tapi juga masih stabil. Sementara untuk depan agak keras.


Rem depan dari Brembo, pakem nih


Suspensi belakang Paioli, redamannya pas

Performa
Menyalakan mesin saat mesin dingin ternyata cukup susah, mungkin juga dikarenakan suhu udara Inggris kala itu hanya berkisar 16° C. Jadi harus aktifkan semacam cuk dan pencet starter tanpa buka gas, beberapa kali pencet baru hidup.

Oh ya, jika standar samping terbuka kendati dalam posisi netral sekalipun, mesin juga enggak akan bisa menyala. Motor lain kan biasanya akan mati jika standar terbuka dalam posisi masuk gigi. Suara yang keluar terbilang halus, bahkan suara knalpotnya juga sampai seperti tercekek, tentu untuk mengurangi polusi suara.

Dengan kapasitas 535 cc 1 silinder berlangkah piston panjang, tepatnya 90 mm dan diameter piston 87 mm, torsi yang keluar sejak rpm rendah sangat perkasa, tarikan awal cepat kendati putaran mesin naiknya lambat. Putaran mesin dibatasi hanya sampai 5.500 rpm.


Mesin satu silinder berkapasitas besar, khas motor masa lampau

Mungkin lantaran teknologi yang dipakai lawas, seperti klep masih pushrod, getaran yang keluar dari mesin cukup mengganggu terutama di atas 3.500 rpm. Getaran sangat terasa di setang. Triknya agar lebih halus adalah cepat-cepat pakai gigi 5, dengan karakter overdrive membuat mesin lebih tenang.

Apa enggak akan keberatan saat akselerasi? Ternyata tidak, karena torsi sebesar 44 Nm didapat di 4.000 rpm, jadi tiap buka gas pasti langsung ngacir.  Di trek lurus yang panjang dan kosong, hampir semua peserta gas pol. Kecepatan tertinggi yang bisa didapat mentok di 150 km/jam.

Catatan akselerasinya? Tunggu tes lanjutannya di Indonesia ya. Sementara itu yang bisa dilaporkan langsung dari negeri Ratu Elizabeth II ini. • (otomotifnet.com)



OTOMOTIF bersama media dari berbagai belahan dunia menuju Goodwood Revival

Data Spesifikasi:

Engine Type: Single Cylinder, 4 stroke, Air cooled
Displacement:535 cc
Bore x stroke:87 mm x 90 mm
Compression Ratio: 8,5:1
Maximum Power:29,1 bhp (21.4 kW) @5.100 rpm
Maximum Torque: 44 Nm @4.000 rpm
Ignition System: Digital Electronic Ignition
Clutch: Wet, multi-plate
Gearbox:5 Speed Constant Mesh
Lubrication: Wet sump
Engine Oil: 15 W 50 API, SL Grade JASO MA
Fuel Supply: Keihin Electronic Fuel Injection
Air Cleaner: Paper Element
Engine Start: Electric & Kick
Frame Type: Twin downtube cradle frame
Front suspension: Telescopic, 41 mm forks, 110 mm travel
Rear suspension: Paioli, Twin gas charged shock absorbers with adjustable preload, 80 mm travel
Wheelbase: 1.360 mm
Ground Clearance: 140 mm
P x L x T: 2.060 x 760 x 1.070 mm
Seat Height: 800 mm
Kerb Weight: 184 Kg
Fuel Capacity:13,5 Liter
Tyres Fr.: 100/90-18, 56 H Pirelli Sport Demon
Tyres Rr.: 130/70-18, 63 H Pirelli Sport Demon
Brakes Front: Brembo 300 mm Floating disc, 2-Piston floating caliper
Brakes Rear: 240mm Disc, Single piston floating caliper
Electrical System:12 volt - DC
Battery: 12 volt, 14 Ah
Head Lamp: 12V H4 60 / 55 W
Tail Lamp: 12V 21W/5W

EDITOR

Otomotifnet

Top