Rabu,22 Juni 2016 09:09 WIB

Penulis: otomotifnet

Komparasi Oli Semi Sintetik, Full Sintetik, dan Ester, Bedanya Signifikan!

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Tiga varian oli Yamalube, dari semi sintetik sampai ester ada

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Pengujian di atas dyno menggunakan bahan bakar Pertamax Plus

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Untuk mendapatkan hasil maksimal, minimal 9 kali geber

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Oli dimasukkan dengan kapasitas 1,8 Liter

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Oli langsung dikuras setelah selesai, diganti dengan spesifikasi oli yang baru

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Oli Pertamina juga punya Enduro Sport 4T yang sudah full sintetik oil PAO ester, harganya Rp 155 ribuan

  • Foto: Fariz/otomotifnet

    Base oil ester, makin panas suhu mesinnya, power naik terus

Berfungsi untuk melumasi tiap bagian mesin, mendinginkan dan memindahkan panas, oli harus memiliki spesifikasi yang tepat sesuai karakter mesin. Selain viskositas dan aditif yang digunakan, base oil yang dipilih juga mempengaruhi performa. Seperti yang kita kenal, base oil ada mineral, semi sintetik, full sintetik, dan full sintetik ester. Lalu apa bedanya? (otomotifnet.com / Fariz)

Base Oil Grup

Proses Pengolahan

Tingkat Kekeruhan

Tingkat Sulfur

Indeks Viskositas

Grup I

Solvent Refining

< 90%

> 0,03%

80–120

Grup II

Hydro-processing

(Hydrocracking)

³ 90%

£ 0,03%

80–120

Grup III

Severe Hydrocracking

(Catalytic De-waxing)

³ 90%

£ 0,03%

³ 120

Grup IV

Chemical Reactions

(Synthesizing)

100% PAO (Poly-Alpha-Olefin)

Grup V

As Indicated

Semua basis minyak, tidak termasuk dalam kelompok 1 – 4

(Naphthenics, Ester dan Polyglycols)

Oli Mineral
Oli mineral terbuat dari base oil yang diambil dari minyak bumi, yang telah diolah dan disempurnakan dan ditambah dengan zat–zat aditif untuk meningkatkan kemampuan dan fungsinya.

“Untuk teknologi motor baru yang membutuhkan oli encer, base oil mineral kurang mumpuni. Tidak hanya karena kandungan sulfur saja, tapi juga impurities lain yang membuat oli jadi kurang stabil,” buka Mardiani Indriastuti, Product Deputy Department Head PT Federal Karyatama, produsen Federal Oil.

Meski begitu, masih ada beberapa keunggulan dari oli mineral yaitu ketika piston dan blok piston dalam keadaan baru dianjurkan untuk menggunakan oli mineral. Ini karena struktur molekul oli mineral yang tidak rata dapat membuat komponen saling mengikis satu sama lain, sehingga komponen mesin baru bisa bertaut dengan pas dan beradapatasi dengan mekanismenya.

Oli Semi Sintetik
Oli semi sintetik atau synthetic blend oil adalah campuran antara oli mineral (minyak bumi) dengan oli sintetik. Oli mineral dan oli sintetik dicampur dengan persentase tertentu untuk meningkatkan kemampuan dari oli mineralnya. “Untuk campuran base oilnya, sudah jarang menggunakan yang grup 1 karena lebih efisien dan bagus grup 2,” lanjut wanita yang biasa disapa Danny ini.

Oli jenis ini masuk dalam base oil grup 3 yang merupakan mineral base oil terbaik dan sering disebut sebagai semi-synthetic, karena ada sedikit penambahan base oil synthetic untuk menguatkan beberapa karakteristik dari mineral base oil tersebut.

Base Oil Group 3 merupakan kelanjutan penyulingan dari base oil 1 dan 2 dengan meminimalisir kembali nitrogen, sulfur, oksigen, wax dan logam berat lainnya, hingga menjadi isoparafin dan sering disebut parafnic base oil.

“Kelebihan oli semi sintetik lebih stabil dibanding mineral, range viskositasnya juga lebih lebar baik pada suhu rendah maupun suhu tinggi,” tambah wanita ramah ini.

Selain itu kadar penguapannya juga lebih rendah, melumasi dan melapisi metal lebih baik dan mencegah terjadi gesekan antar logam, tahan terhadap oksidasi sehingga lebih tahan lama sehingga lebih ekonomis dan efisien, meningkatkan tenaga dan mesin lebih dingin, mengandung detergen yang lebih baik untuk membersihkan mesin dari kerak

Oli Full Sintetik
Oli sintetik biasanya terdiri atas polyalphaolifins yang merupakan hasil terbersih dari pemilahan oli mineral, kemudian dicampur dengan oli mineral. Oli sintetik tidak mengandung bahan karbon reaktif, karena sangat tidak bagus untuk oli dapat menghasilkan acid atau asam.

Sintetik base oil termasuk dalam base oil grup 4 dimana base oil ini didapat dari hasil proses kimia sehingga menghasilkan base oil yang bebas dari sulfur, oksigen, logam-logam berat dan lain-lain. Oli full sintetik ini keunggulan tidak mudah menguap, pelumasan lebih merata.

“Suhu mesin lebih terjaga dengan oli tipe ini, sehingga cocok untuk motor tipe sport. Kemudian daya lumas lebih bagus karena bentuk partikel yang cenderung sama sehingga lebih kuat terhadap gesekan, juga membuat suara mesin lebih halus. Sehingga jadwal penggantian oli bisa lebih lama jika dibandingkan dengan semi sintetik,” buka Yoni Putranto selaku product development dari Yamalube.

Oli Full Sintetik Ester
Ini diperuntukan untuk kebutuhan balap, dimana mesin selalu bermain pada rpm tinggi dan membutuhkan suhu yang stabil. Oli full sintetik ester ini termasuk dalam base Oil Grup 5 yang merupakan base oil tingkat tertinggi saat ini.

Keunggulan kandungan ester ini memiliki 0% shear loss atau memiliki tingkat keausan 0%. Sehingga, bila mesin diberikan oli yang mengandung ester, akan memiliki tingkat keausan yang minim, life time yang jauh lebih lama dan peningkatan performa yang bagus dibanding menggunakan full sitetik.

“Oli tipe ini sangat cocok digunakan dalam kompetisi balap. Fungsi ester melindungi mesin pada rpm tinggi selama balap berlangsung. Selain itu oli ini dapat menjaga suhu mesin lebih stabil, semakin lama dia bekerja justru output power mesin akan semakin lebih baik,” lanjut pria bebas nikotin ini.

Pengujian
Untuk melihat perbedaan dari ketiga tipe oli ini, maka dilakukan pengujian di atas mesin dyno. Memang tidak mewakili performa masing-masing base oil secara keseluruhan, tapi setidaknya kita bisa melihat ada perbedaan.

Pengujian dilakukan di Yamaha Flag Ship Shop yang berada di bilangan Cempaka Putih, Jakpus dengan mesin dyno Sportdyno V3.3. Motor yang digunakan sebagai bahan uji coba adalah Yamaha YZF-R25 dalam keadaan standar menggunakan bahan bakar Pertamax Plus dan odometer baru menunjukan angka 3.428 km.

Pengukuran dilakukan dalam ruangan ber-ac dengan suhu ruangan 25˚ celcius. Untuk melihat panas mesin menggunakan Krisbow Infrared Thermometer, laser ditembak ke bagian blok mesin dengan jarak kurang lebih 1 meter.

Tiap jenis oli minimal digeber sebanyak 9 kali untuk melihat suhu serta power mesin. “Dyno menggunakan gigi 5 mulai 5.000 rpm kemudian gaspol sampai limiter,” ucap Anditia Gunawan selaku service advisor di Yamaha Flagship Shop, DDS Cempaka Putih.

Komparasi Oli Semi Sintetik, Full Sintetik, dan Ester
Untuk mendapatkan hasil maksimal, minimal 9 kali geber

Bagaimana hasilnya? Yamalube tipe Sport dengan base oil semi sintetik ternyata mempunyai tenaga yang lebih cepat drop jika terus digeber berkali kali dengan rata–rata suhu mesin 118,2° celsius dan power maksimal 27,829 dk. Lain dengan Yamalube tipe Super Sport yang sudah full sintetik. Output power lebih tinggi yaitu 28,065 dk dan suhu lebih stabil rata–rata 109,5° celsius.

Bagaimana dengan oli Yamalube Racing yang sudah menggunakan base oil ester? Selama 10 kali digeber output tenaganya justru semakin meningkat sob! Maksimal menyemburkan tenaga 28,461 dk dengan rata–rata suhu mesin yang lebih adem yaitu 105,2° celsius

“Selama 10 kali geber suhu mesin stabil banget, terlihat di indikator suhu pada spidometer bertahan pada 3 bar,” lanjut Adit sapaan akrabnya.

Yoni Putranto menambahkan sebenarnya oli racing ini masih bisa menghasilkan tenaga lebih tinggi lagi jika digeber lebih dari 10 kali, karena semakin panas dia bekerja akan semakin baik dan maksimal.

Data lengkap lihat tabel hasil dyno yah!

Hasil Pengetesan
Yamalube Sport : 27,829 dk @ 10.300 rpm
Yamalube Super Sport : 28,065 dk @ 10. 800 rpm
Yamalube Racing : 28,461 dk @ 11.300 rpm 

 

 

EDITOR

Bagja

Berita Terkait

Sabtu,1 Okt 2016 18:45 WIB

KUN Manado 2016

Jumat,23 Sept 2016 10:30 WIB

Toyota Sienta - Test Drive Review

Top