Kamis,5 Nov 2015 13:01 WIB

Penulis: pewete pewete

Test Ride BMW S 1000 R, Tenaga Buas Dimanja Fitur

Foto: OTO-SALIM

Test Ride BMW S 1000 R, Tenaga Buas Dimanja Fitur


S 1000 R merupakan salah satu andalan jualan BMW di Indonesia, bagaimana sensasi mengendarainya?


Jakarta - Setelah BMW Motorrad dipegang PT. Maxindo Moto Nusantara (MMN), aktivitas terlihat lebih menggeliat. Setidaknya lebih mudah buat yang mau mencicipi, sebelumnya susah! “Gampang, nanti kami kirim unit tesnya,” ujar A.Z. Dalie, Sales & Marketing Director PT. MMN kala ditodong tentang unit tes.

Eh ternyata benar, selang beberapa hari redaksi kedatangan BMW S 1000 R warna merah dan siap untuk dicoba. Langsung deh riding gear dipakai dan mencobanya di seputaran Jakarta. Tentu saja sekalian diambil data, seperti standar pengetesan OTOMOTIF. Seperti apa hasilnya? Berikut rangkumannya • (otomotifnet.com)

DESAIN
S 1000 R ini merupakan versi telanjang dari S 1000 RR, tak heran desain yang diusung mirip. Tampang khasnya adalah desain asimetris antara bodi kanan dan kiri, termasuk lampunya. Tuh sirip pembuangan panas di kedua sisi mesin beda kan? Kesannya jadi unik tapi sekaligus garang, apalagi lampunya!

FITUR & TEKNOLOGI
Guna memberi nilai lebih pada konsumennya, S 1000 R ini dibekali bejibun fitur dan teknologi terkini. Awali dari area setang, seperti penggunaan throttle by wire (E-gas), koneksi gas tak lagi pakai kabel biasa, namun digantikan potensiometer.

Lalu karena dari Eropa, handgrip dilengkapi pemanas, cocok saat jalan ke Puncak atau Bromo nih. Masih di setang kanan ada tombol mode untuk memilih power. Ada rain, road dan dynamic. Pindah ke setang kiri, ada tombol cruise control, fitur yang gampang ditemukan di mobil.

Berguna saat ingin berjalan dengan kecepatan konstan tanpa tahan gas. Lalu bawahnya ada tombol ASC (Automatic Stability Control), DTC (Dynamic Traction Control) dan ABS, semuanya untuk membantu kestabilan dalam berkendara.


Spidometernya lengkap banget, termasuk ada shift light


ASC, DTC, ABS sampai DDC ada di tombol ini


Power mode, tombol ada di setang kanan, bisa diset sambil jalan
 
Masih di tombol yang sama, namun dipencet ke bawah, ada tombol DDC (Dynamic Damping Control) yang berhubungan dengan suspensi, ada 3 pilihan karakter; normal, soft dan hard. Makanya di suspensi bagian atas tampak terpasang kabel.
 
Sementara tombol sebelah kirinya untuk mengatur lap timer saat di sirkuit dan memilih info odometer, tripmeter dan konsumsi bensin sampai jadwal servis. Dari sektor kaki-kaki, suspensi depan menggunakan upside down 46 mm, untuk mereduksi kecepatan digunakan dua kaliper rem jenis radial dari Brembo.

Sedang belakang pakai lengan ayun aluminium. Bahan yang sama digunakan juga untuk pelek dan tangki. Makanya bobot keseluruhan hanya 200 kg.

PERFORMA

Mesin 1.000 cc, tepatnya 999 cc 4 silinder segaris ini performanya tak perlu diragukan. Peak power mencapai 160 dk di 11.000 rpm! Namun jalan harian cukup main di rentang 3.000-4.000 rpm saja, karena setelah menyentuh 5.000 rpm kebuasannya akan keluar dan sangat mudah menyentuh limiter diikuti suara dari knalpot yang sangat gahar, karena silincer memang cukup plong. Oh ya, sayangnya pada unit tes ini limiter diset di 9.000 rpm, jadi tak bisa merasakan peak powernya.
 
Salah satu fitur yang wajib dicoba adalah power mode. Saat diposisikan pada rain, sangat terasa respon mesin smooth dan di rpm rendah cenderung telat. Pantaslah karena untuk melintas saat hujan. Mau lebih responsif tentu pindah ke mode road, nah ini jadi responsif. Kalau belum puas ke dynamic.
 
Mode ini lebih repsonsif lagi, gas sedikit langsung ngacir dan intervensi traction control terasa lebih sedikit, ban belakang masih bisa sedikit slide. Kendati unit tes putaran mesin dilimit di 9.000 rpm, akselerasi masih tergolong bagus. Seperti pencapaian kecepatan 100 km/jam hanya butuh waktu 3,8 detik. Sedang jarak 0-402 meter ditempuh dalam waktu 11,7 detik. Kalau enggak dilimit pasti lebih cepat tuh.






Mesin powerful, tapi panas banget


Knalpotnya cukup plong, suara gahar banget saat digeber

RIDING POSITION & HANDLING

Posisi duduk khas naked bike, dengan setang cukup lebar dan sedikit rendah, dikombinasi footstep agak ke belakang menghadirkan posisi yang sigap dan gagah. Dengan tinggi jok 814 mm, saat berhenti rider dengan postur 170 cm masih bisa menapak sempurna. Yang enggak biasa adalah diameter handgrip, kecil! Bahkan lebih kecil dari Yamaha Mio.

Rancangan sasis perimeter aluminium dan berbagai kelengkapan yang juga berbahan ringan, membuat S 1000 R ini terasa mudah dikendalikan. Terbilang sangat nurut untuk ukuran moge 1.000 cc, enggak ada gejala susah diajak belok atau nyelonong. Tentu juga berkat adanya teknologi ASC dan DTC.

Peranannya sangat terasa kala menikung kencang dan buka gas, gerakan tetap stabil sehingga mudah dikontrol. Teknologi DDC sangat berperan dalam hal kenyamanan. Ketika diset normal, maka redaman suspensi terasa sedang namun cenderung masih keras. Biar nyaman, kalau untuk jalan harian lebih pas pakai soft.

Sementara hard lebih cocok kalau jalan yang dilewati beraspal mulus dan dalam kecepatan tinggi, karena akan stabil. Handel kopling yang cukup enteng turut memberikan kenyamanan, kendati di kemacetan. Dan adanya slipper clutch (anti-hopping) membuat turun gigi jadi lebih nyaman, karena roda belakang enggak mudah mengunci saat engine brake.

Kenyamanan juga berkat vibrasi mesin yang sangat minim, alus banget! Namun ada enggak enaknya, suhu mesin panas banget terutama saat berhenti atau kena macet! Eh iya, hati-hati saat melintas polisi tidur, tabung knalpot yang besar dan rendah rawan tersangkut.




KONSUMSI BENSIN
Pengguna motor ini pasti enggak lagi mementingkan konsumsi bensin, tapi berapa sih jarak yang bisa ditempuh tiap liternya? Tertera di spidometer rata-rata 7,7 liter/100 km, atau 12,98 km/lt.

HARGA
Dengan desain yang keren dan garang, juga adanya beragam fitur dan teknologi yang dijejalkan, serta performa kencang, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menebusnya? “Harganya Rp 600 juta off the road, untuk jadi on the road ditambah sekitar 10-15%,” terang Dalie. Wuih mahal ya!

DATA TEST:
0-60 km/j: 2 detik
0-100 km/j: 3,8 detik
0-100 m: 5,2 detik (@122,4 km/j)
0-201 m: 7,7 detik (@163,5 km/j)
0-402 m: 11,7 detik (181,7 km/j)
Konsumsi bensin: 12,98 km/lt

DATA SPESIFIKASI:
Engine type Water/oil-cooled 4-cylinder 4-stroke in-line engine, 16 valves DOHC Bore x stroke 80 mm x 49,7 mm Capacity 999 ccm Power output 160 dk @11.000 rpm Max. Torque 112 Nm @9.250 rpm Compression ratio 12:1 Engine management Electronic injection Emission control 2 closed-loop 3-way catalytic converters, EU-3 norm with interference pipe and acoustic valves Clutch Multiplate clutch in oil bath, anti-hopping clutch, mechanically controlled Gearbox Constant-mesh 6-speed gearbox, straight-toothed Frame Aluminium composite bridge frame, partially self-supporting engine Front wheel Upside-down telescopic fork Ø 46 mm, compression and rebound stage adjustable Rear wheel Aluminium 2-sided swing arm, rebound damping adjustable Wheelbase 1.439 mm Steering head angle 65.4° Front rim 3.50 x 17" Rear rim 6.00 x 17" Front tyre 120/70 ZR 17 Rear tyre 190/55 ZR 17 Front brake Twin disc brake, floating brake calipers, radial 4-piston fixed caliper, diameter 320 mm, 5 mm thick Rear brake Single disc brake, single piston floating caliper, diameter 220 mm, 5 mm thick P x L x T 2.057 x 845 x 1.228 mm Seat height 814 mm Payload 200 kg Usable tank volume 17,5










KOMPETITOR
Kawasaki Z1000



Harga: Rp 313-316 juta (on the road)
Tipe mesin: Liquid-cooled, 4-stroke In-Line Four
Tenaga maksimum: 140,6 dk @10,000 rpm
Torsi maksimum: 111 Nm @7.300 rpm
Diameter x langkah: 77 x 56 mm
Volume silinder: 1.043 cc
Valve system: DOHC, 16 katup
Ban Depan: 120/70ZR17M/C (58W)
Ban Belakang: 190/50ZR17M/C (73W)
P x L x T: 2.045 x 790 x 1.055 mm
Berat: 220 kg







EDITOR

Otomotifnet

Top