Kamis,11 Agust 2016 12:11 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Ride BMW S 1000 XR, Tampang Adventure Sensasi Superbike

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Cukup dorong ke atas dan bawah, ketinggian windshield langsung berubah

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Steering dumper ada di bawah segitiga, posisinya ngumpet tapi berperan banyak pada stabilitas

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Tampilan spidometer mudah dilihat, panel digitalnya terlihat jelas meski di siang bolong

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Lampu sein dan remnya sudah LED seluruhnya

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Tombol di setang sebanyak ini, maklum fiturnya juga banyak bro!

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Tutup pentilnya unik, ada di palang pelek

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride BMW S1000 XR

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride BMW S1000 XR

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride BMW S1000 XR

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride BMW S1000 XR

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride BMW S1000 XR

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Jok depan dan belakang seakan terpisah, tapi ternyata ketika dibuka merupakan satu kesatuan

  • Foto: Rian

    Test Ride BMW S 1000 XR

  • Foto: Rian

    Test Ride BMW S 1000 XR

  • Foto: Rian

    Test Ride BMW S 1000 XR

  • Foto: Rian

    Test Ride BMW S 1000 XR

  • Foto: Rian

    Test Ride BMW S 1000 XR

  • Foto: Rian

    Test Ride BMW S 1000 XR

Meskipun berpenampilan adventure, BMW S1000 XR punya karakter beringas! Ini karena mesinnya merupakan turunan dari superbike BMW S 1000 RR

Jakarta - Dalam line up produknya, BMW Motorrad punya GS series yang terbukti paling oke urusan adventure. Tapi menyasar bikers yang doyan performa superbike untuk jalan jauh, ada juga pilihannya. Yup, jawabannya BMW S 1000 XR.

Enggak usah ditebak, karena motor ini memang masih satu platform dengan superbike BMW S 1000 RR dan naked bike, S 1000 R. Rangka sama, mesin juga pakai 4 silinder inline, makanya mirip ya? Sampai Indonesia harganya Rp 626 juta off the road, seperti apa rasanya? Berikut ulasannya. • (otomotifnet.com)

Test Ride BMW S 1000 XR
 

Desain
Desainnya bukan sekadar S 1000 RR yang dilepas fairingnya lalu sokbraker dibuat lebih tinggi. Tapi gayanya memang dibuat khas motor adventure. Headlamp yang dipisahkan oleh DRL dan moncong kecilnya menguatkan kesan motor penjelajah.

Windshield tinggi menjulang bisa disetel secara manual, dorong ke atas jika mau lebih tinggi, dan tekan ke bawah jika ingin posisi sebaliknya. Menariknya, bentuk silincer knalpotnya justru landai. Memang terlihat kurang sporti, tapi saat side box terpasang, desain ini bikin silincer aman, enggak akan mentok box.

Fitur & Teknologi
Panel indikatornya sederhana dengan visibilitas sangat baik, font-nya jelas, panel digitalnya juga mudah dilihat meski di siang hari bolong. Tampilannya ada takometer analog, spidometer, odometer, trip A & B, dilengkapi juga dengan shift light.

Jika tombol info dipencet maka akan tampil indikator lap timer, suhu mesin, dan suhu udara. Moge canggih seperti ini pasti sudah pakai throttle by wire, namun sayangnya koplingnya belum hidrolis, masih pakai kabel konvensional, agak keras saat menekannya.

Masih di area setang, ada grip heater dengan dua step panas yang bisa dipilih. Di Indonesia, mungkin akan terpakai saat turing ke pegunungan atau ketika berkendara saat hujan.

Power mode ada tiga pilihan yaitu rain, road dan dynamic. Di area setang sebelah kiri ada tombol cruise control untuk menahan laju tetap pada kecepatan tertentu. Fitur lainnya, sudah dilengkapi ASC (Automatic Stability Control), DTC (Dynamic Traction Control) dan ABS (Antilock Brake System).

Suspensinya keren nih, teknologinya DDC (Dynamic Damping Control) dengan pusat kontrol ada di panel setang. Ada tiga piihan yaitu road dengan karakter lembut untuk jalan tidak rata dan dynamic dengan karakter yang lebih rigid.

Jika tombol DDC ditekan lama akan muncul simbol 1 helm untuk kondisi solo riding, 1 helm dan box dan 2 helm khusus untuk berboncengan.

Kondisi berkendara ini bisa dikombinasikan dengan setingan sebelumnya, misalkan setingan 2 helm dikombinasi dengan dynamic atau road, karakternya langsung berubah. Canggih!

Suspensinya sendiri, baik depan dan belakang lebih panjang 30 mm ketimbang versi superbike S 1000 RR. Pantesan jangkung! Yang depan upside down 46 mm sedang yang belakang monoshock dengan setingan rebound damping.

Test Ride BMW S 1000 XR
 

Riding Position & Handling
Harus diakui joknya memang tinggi hehe.. 840 mm tanpa pilihan setingan jok membuat tester dengan spesifikasi 168 cm harus jinjit maksimal. Setangnya lebar dan tinggi dikombinasi dengan pijakan kaki yang agak sedikit mundur layaknya sport bike bikin posisi berkendara terasa lebih sigap. Asyiknya lagi, diameter handgrip-nya kecil sehingga lebih mantap digenggam oleh rider Asia berpostur tangan sedang.

Meskipun terlihat bongsor, ternyata sangat nyaman dan nurut tanpa ‘ngebuang’ ketika diajak menikung. Melakukan pengereman berbarengan dengan engine brake ketika akan memasuki tikungan juga sangat menyenangkan, halus dan tidak takut roda belakang mengunci.

Tentunya berkat auto blipping throttle dan perpindahan gigi yang halus dari slipper clutch. Kerja ABS yang begitu lembut membuat rider bisa lebih fokus memasuki tikungan dengan angle kemiringan yang diinginkan.

Ketika suspensi elektroniknya diseting pada mode road redamannya empuk dan nyaman pas banget melibas jalan tak rata. Buat harian atau turing di Indonesia rasanya lebih pas pakai mode ini. Saat menikung kencang posisikan ke mode dynamic, stabil banget! Tapi jangan lewat jalan rusak pakai mode ini, badan terasa terkoyak.

Test Ride BMW S 1000 XR
 

Performa
Karena untuk keperluan adventure, tenaga mesin 999 cc 4 silinder segaris turunan dari superbike S 1000 RR sudah diturunkan. Klaim pabrikan menyebut power maksimalnya 160 dk pada 11.000 rpm dengan torsi maksimal 112 Nm di 9.250 rpm.

Kalau untuk jalan santai cukup bermain di 3.000–4.000 rpm saja, lebih dari itu akan ada suara khas ‘ngorok’ dari throttle body berbarengan dengan torsi serta raungan gahar knalpotnya yang membuat ban depan melayang sampai limiter yang hanya diseting pada 9.000 rpm. Wuih, powerful banget!

Tersedia 3 pilihan power mode, yang pertama mode rain ini membuat respon mesin terhadap hentakan gas lebih halus untuk meminimalisir spinning pada permukaan licin. Berikutnya mode road punya karakter yang lebih responsif dengan power lebih merata, masih kurang?

Ada mode dynamic kok. Yang ini mode tertinggi punya respon sangat cepat, buka gas sedikit dijamin motor akan ngacir apalagi jika traction control dalam keadaan off, siap–siap ban depan sering meninggalkan aspal wuusshhh!

Pada mode ini akan sering terdengar backfiring atau letupan dari knalpot saat engine brake berbarengan dengan auto blipping throttle, gahar deh. Transmisi 6 percepatannya dibantu quick shifter yang merupakan perangkat optional. Paling enak pakai di gigi 3 sampai 6 karena jarak perpidahannya rapat dan tidak menghentak.

Diajak macet–macetan, extra fan yang menyala di suhu 100ºC, membuang hawa panas ke arah paha sebelah kanan. Lumayan panas juga nih paha, tapi tenang gak sampai matang kok hahaa..

Test Ride BMW S 1000 XR
 

Konsumsi Bensin
Ketika motor sport adventure ini diajak melewati beragam kondisi jalan mulai macet sampai lancar. Karakter bawanya juga dibuat beragam, dari cruising sambil menikmati pemandangan sampai agresif. Tercatat angka di spidometer 7,5 liter/100 km atau 13,3 km/lt.

Data Test:
0-60 km/j: 2,2 detik
0-100 km/j: 3,8 detik
0-100 m: 5,5 detik (122,1 km/j)
0-201 m: 7,9 detik (160,2 km/j)
0-402 m: 12 detik (179,8 km/j)
Konsumsi bensin: 13,3 km/lt

Data Spesifikasi:
Tipe mesin: Water/oil-cooled 4-cylinder 4-stroke in-line engine, four valves per cylinder, two overhead camshafts
Kapasitas mesin: 999 cc
Sistem Pendingin: Cairan (Liquid Cooled)
Bore X Stroke: 80 mm x 49,7 mm
Perbandingan Kompresi : 12,0 : 1
Max power: 160 dk @11.000 rpm
Max Torsi: 112Nm @9.250 rpm
Sistem transmisi: Constant-mesh 6-speed
Tipe kopling:Multiplate clutch in oil bath, antihopping clutch, mechanically controlled
Engine management: Electronic injections with ride-by-wire throttle system and knock sensor
Emisi: closed-loop 3-way catalytic converters, EU-3 norm with interference pipe
P x L x T: 2.183 mm x 940 mm x 1.408 mm
Jarak sumbu roda: 1.894 mm
Tinggi tempat duduk: 840 mm
Berat kosong: 206kg
Kapasitas bahan bakar: 20 liter, tangki cadangan 4 liter
Tipe Frame: Aluminium composite bridge frame, partially self-supporting engine
Suspensi depan: Upside-down telescopic fork Ø 46 mm, compression and rebound stage adjustable
Suspensi belakang: Aluminium 2-sided swing arm, rebound damping adjustable
Rem depan: Twin disc brake, floating brake calipers, 4-piston fixed caliper, diameter 320 mm
Rem belakang: Single disc brake, 2-piston floating caliper, diameter 265 mm
Velg depan: 3.50 x 17″
Velg belakang: 6.00 x 17″
Ban depan: Pirelli Diablo Rosso II 120/70 ZR 17
Ban belakang: Pirelli Diablo Rosso II 190/55 ZR 17
Battery: 12 V 8 Ah

EDITOR

Dimas Pradopo

Top