Sabtu,14 Nov 2015 12:00 WIB

Penulis: pewete pewete

Test Ride Honda CBR1000RR SP, Suspensi Spesial Dari Ohlins

Foto: OTO-SALIM

Test Ride Honda CBR1000RR SP, Suspensi Spesial Dari Ohlins


Tanpa traction control ngeri-ngeri sedap buka gasnya, ban sedikit slide saat throttle diputar terlalu dalam


Jakarta - Buat menebus Honda CBR1000RR SP di Indonesia, sediakan duit Rp 575 juta on the road. Bila dibandingkan moge 1.000 cc sejenis tentunya tergolong mahal. Tapi jangan buru-buru mengerutkan dahi, Honda telah membayarnya dengan memberikan suspensi spesial dari Ohlins dan layanan aftersales ring satu.

Buat yang penasaran, baca terus karena OTOMOTIF sudah menjajalnya buat jalan-jalan keliling Jakarta plus dipakai ngebut di Sentul! • (otomotifnet.com)



DESAIN

Tampilan CBR1000RR SP ini sudah tak asing lagi, desainnya mirip model terdahulu. Perbedaan dengan versi reguler jelas warna suspensi depan-belakang, kuning khas Ohlins dan kelir pelek gold menguatkan kesan kencang. Keren ya!
 
FITUR dan TEKNOLOGI

Di area mesin setara dengan moge sejenis, 999,8 cc 4 silinder segaris, punya Programmed Dual Sequential Fuel Injection, Exhaust Gas Control Actuator (EGCA) yang diatur ECM. Di bagian dalam ada juga Exhaust Gas Bypass Valve (EGBV) dan sudah pakai Assist Slipper Clutch.


Setel sendiri suspensi, ubah preload atau rebound tinggal putar pakai tangan


Spidometer full digital, layarnya lega dan menampilkan semua informasi dengan jelas


Swicth setang kiri spi banget, tidak ada power mode atau tombol traction control


Kaliper Brembo tipe radialnya pakem banget, tapi tetap aman berkat eC-ABS

Tapi sayangnya, belum punya power mode dan traction control, nah khusus bagian ini sedikit ketinggalan dari kompetitornya. Fitur lainnya, ada Honda Ignition Security System (HISS) sistem keamanan di rumah kuncinya.
 
Spidometer digitalnya lebar dan mudah dibaca, semuanya full digital. Petunjuk kecepatan ditampilkan lewat angka besar, takometernya bentuk bar, lalu ada indikator oli, fuel average, odometer, lap timer, thermometer, tripmeter A/B, gear indicator. Tapi belum ada fuelmeter, cuma lampu yang menyala saat bensin tinggal sedikit. 

Harga selangit terbayar dengan sok depan upside down buatan Ohlins yang bisa diatur preload, compression dan reboundnya. Setingnya mudah cukup menggunakan kunci ring 17 mm dan kunci L3. Setali tiga uang, sok belakang juga menggunakan Ohlins tipe TTX yang bisa diatur reboundnya sebanyak 22 klik dan kompresi 24 klik, untuk penyetingan sok belakang ini lebih gampang, cukup putar dengan tangan saja.

Dilengkapi juga dengan Honda Electronic Steering Damper (HESD) yang pengaruh besar pada kemudahan berkendara, saat pelan otomatis setang jadi ringan, pas kencang jadi kaku sehingga lebih stabil. Remnya, Honda membekali dengan kaliper brembo 4 piston tipe radial. Teknologi eC-ABS, electronic Combined-ABS juga dipasang






Meskipun tampang knalpotnya standar, bunyinya bisa berubah di 4.000 rpm berkat EGBV


Bannya sudah pakai Pirelli Diablo Supercorsa, asyik untuk di sirkuit tapi boros di jalan raya

RIDING POSITION & HANDLING

Layaknya superbike, pasti nunduk abeees! Tester 180 cm masih nyaman memijakkan kaki ke aspal, kurang dari 170 cm agak jinjit. Dengan posisi riding seperti ini sebaiknya menjauhi jalan macet, lancar pun kalau terlalu jauh lumayan pegal.  

Hawa panas mesin terasa hangat di kaki kanan. Jika suhunya sudah mencapai 110 derajat, fan kecil akan bekerja yang efeknya pada kaki kiri langsung terasa embusan angin panasnya. Menggunakan suspensi dengan setingan bawaan pabrik di jalanan Jakarta yang bergelombang, benar-benar diajak ‘dugem’ alias duduk gemeter.
 
Wheelbase 1.410 mm tak menghalangi selap-selip di kemacetan dengan mudah, terasa enteng dan nurut. Panic brake-nya mantap, pakem dan suspensinya tetap stabil. Lanjut ke sirkuit Sentul, Bogor. Di trek kering, sok Ohlins dan paduan ban Pirelli Diablo Supercorsa-nya lengket banget.

Melibas R1 kala spidometer menunjukan angka 120 km/jam masih anteng, saat gas dibuka pun bokong tetap tenang, rebound-nya pas. Begitu juga dengan S kecil, pindah posisi badan dari kiri ke kanan ringan dan bisa dilakukan dengan cepat, racing line tetap terjaga di sudut dalam.

Daerah Bogor yang sudah mulai hujan memberikan cerita menarik, kami sampai hujan-hujanan! Tanpa traction control ngeri-ngeri sedap buka gasnya, ban sedikit licin, sedikit slide saat throttle gas diputar terlalu dalam.





PERFORMA

Jangan berharap langsung ‘ngejambak’ saat buka gas, tenaga bawahnya smooth baru galak di atas 5.000 rpm. Buat dipakai di jalanan yang stop and go, enggak mengagetkan, asik nih. Pindah gigi di 4.000 rpm cukup santai dan tidak menguras tenaga.

Tapi kalau iseng coba saja pindah gigi di 10.000 rpm, torsinya terasa menghentak dan suara knalpot berubah jadi lebih ngebass berkat EGBV yang membuka di 4.000 rpm. Tapi hati-hati ya, power 178 dk dan punya torsi 114 Nm tanpa traction control, jangan terlalu bernafsu.

Di Sirkuit Sentul, trek lurus depan paddock enggak habis pakai gigi 6. Baru pindah ke gigi tertinggi ini sudah harus ngerem, sesaat sebelumnya spidometer menunjukkan angka 250 km/jam. Dites juga pakai Racelogic, dari diam sampai 100 km/jam hanya butuh waktu 4 detik saja, sedangkan untuk mencapai 402 meter dilibas dalam 11,5 detik. Data lengkapnya lihat tabel.



KONSUMSI BENSIN
Kompresi 12,3 : 1 wajib minum bensin RON 95 seperti Pertamax Plus. Fuel average yang ada di spidometer menunjukan angka 14 km/liter.

DATA TEST
0-60 km/j : 2,5 detik
0-80 km/j : 3,3 detik
0-100 km/j : 4 detik
0-100 m : 5,4 detik (@135,3 km/j)
0-201 m : 7,8 detik (@178,7 km/j)
0-402 m : 11,5 detik (@219,5 km/j)
Konsumsi Bensin : 14 km/liter


DATA SPESIFIKASI:
P x L x T: 2.080 x 720 x 1.141 mm Wheelbase: 1.410 mm Ground clearance: 130 mm Tinggi jok: 820 mm Bobot basah: 210 kg Caster angle/trail: 23°3/96 mm Kapasitas tangki: 17,5 liter Tipe mesin: 4 langkah 16 klep DOHC 4 silinder segaris berpendingin cairan Kapasitas mesin: 999,8 cc Fuel System : PGM-DSFI (Dual Sequential Fuel Injection System ) Bore x stroke: 76 x 55,1 mm Transmisi: 6 speed Kopling : Tipe Basah Rasio kompresi: 12,3:1 Tenaga maksimal: 178,3 dk/12.250 rpm Torsi maksimal: 114 Nm/10.500 rpm Tipe Rangka : Diamond type, Alumunium Alloy Steering Damper : HESD (Honda Electronic Steering Damper) Suspensi depan: Upside down Ohlins NIX30 Suspensi belakang: Unit Pro-Link Ohlins TTX36 Rem depan: 320 x 4,5 mm Brembo monoblok 4 piston Rem belakang: 220 x 5 mm single piston Ban depan: 120/70-ZR17M/C Pirelli Diablo Supercorsa SC Premium Ban belakang: 190/50-ZR12M/C Pirelli Diablo Supercorsa SC Premium

EDITOR

Otomotifnet

Top