Senin,28 Nov 2016 06:55 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Ride Kawasaki W800, Nyaman Sejak Di Putaran Bawah

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Spidometernya sederhana kan? Cuma ada tambahan panel digital mungil berisi odometer, tripmeter dan jam

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Panel saklarnya klasik ya?

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Knalpotnya 2-2, suaranya senyap banget! Digeber juga tetap nyaris tak terdengar

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Suspensinya punya karakter empuk, pastinya bikin nyaman

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Eh di balik jok ada kawat untuk cantolan helm atau bawaan nih

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Mesinnya tetap klasik, uniknya pemutar kem pakai bevel gear cam drive

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

  • Foto: Salim

    Test Ride Kawasaki W800

Jakarta - Penjualan Kawasaki W800 di Indonesia dilakukan sejak Agustus silam, namun unit tes baru tersedia di November ini. Terus terang OTOMOTIF penasaran sejak ketemu sosoknya secara langsung, bagaimana sih impresi mengendarai motor klasik yang dibalut teknologi modern ini?

Penasaran juga? Kalau iya langsung simak hasil Test Ride Kawasaki W800 yang dijual Rp 249 juta untuk tipe biasa (Metallic Ocean Blue), dan Rp 251 juta yang Special Edition seperti yang dites ini. Yuk! (Tim otomotifnet.com)

Test Ride Kawasaki W800
 

Desain
Khas motor klasik, didominasi dengan bentuk serba membulat. Lihat saja dari lampu, tangki dan cover samping. Makin klasik dengan sentuhan krom di sepatbor, ring lampu, spion dan emblem tangki.

Cuma itu? Eits lihat juga penggunaan karet di as sokbreker depan, selain agar sil lebih awet juga menguatkan kesan klasik. Mesin 2 silinder segarisnya, kalau dilihat detailnya juga serba klasik, apalagi dibalut cat hitam doff.

Yang bikin jelek dan mengganggu tentu dudukan plat nomor di atas lampu depan. Ah seandainya seperti di luar negeri, tanpa plat nomor depan pasti lebih cakep!

Test Ride Kawasaki W800
 

Fitur & Teknologi
Sebagai motor klasik harap maklum kalau fiturnya sangat minim. Lihat saja spidometer dan takometernya masih analog. Memang sih ada sentuhan modern dengan panel digital kecil, isinya hanya odometer, tripmeter dan jam. Oiya saat bensin mau habis, akan muncul tulisan “FUEL” sebagai pengingat.

Di bawah takometer ada deretan lampu-lampu, termasuk juga penanda bensin akan habis. Yap jadi enggak ada fuelmeter, untuk memastikan bensin masih banyak atau tidak harus buka tutup tangki lalu digoyang, klasik banget ya, hehee...

Fitur unik justru ditemukan di spionnya, ternyata bisa goyang-goyang, karena di pangkalnya ada peredam karet. Mungkin untuk meredam getaran. Lalu jika jok dibuka ada kawat untuk cantolan helm atau barang bawaan. Di sisi kiri dekat bukaan jok juga ada cantolan helm.

Fitur agak modern terlihat di handel rem dan kopling, ada setelannya! Rem 4 setelan sedang kopling 5 setelan. Eh master remnya tetap klasik tuh, tabung minyaknya bulat.

Nah bicara teknologi, mesin 2 silindernya telah dibekali dengan sistem injeksi dengan throttle body 34 mm x 2. Yang unik justru dari sistem pemutar kemnya, menggunakan bevel gear cam drive menggantikan keteng, makanya di sisi kanan mesin ada as yang dibalut krom, itulah pemutar kem dari poros kruk as. Sistem ini salah satu penguat kesan klasik mesin.

Jika melihat internal mesin, ternyata seperti mesin paralel generasi lama, kedua piston bergerak bersamaan termasuk urutan kerjanya. Makanya suara yang dihasilkan sekilas seperti mesin 1 silinder.

Test Ride Kawasaki W800
 

Riding Position & Handling
Pertama pegang setang, yang terasa beda adalah handgrip yang polos namun ketika digenggam empuk dan kesat. Joknya juga empuk banget, karena busanya tebal. Makanya berkendara berjam-jam juga betah karena nyaman.

Posisi duduk tergolong santai, badan tergolong tegak kendati setangnya cukup rendah dan pendek. Seandainya dikasih setang yang lebih tinggi, pasti makin nyaman!

Dengan bobot mencapai 217 kg, ketika dikendarai terasa cukup berbobot. Namun istimewanya tetap ringan dan mudah diajak meliak-liuk kanan kiri. Cuma di kemacetan memang enggak terlalu lincah, karena dimensinya lumayan panjang. Panjang mencapai 2.190 mm dengan jarak sumbu roda 1.465 mm.

Dengan bobot lumayan berat, berimplikasi positif karakter suspensi yang jadi sangat empuk. Redaman suspensi depan dengan as 39 mm dan belakang sokbreker ganda lembut banget, membuat berkendara jadi sangat nyaman kendati melewati jalan tak rata. Istimewanya walaupun empuk tapi diajak menikung tetap stabil.

Test Ride Kawasaki W800
 

Performa
Karakter mesin berlangkah piston panjang (bore x stroke 77 x 83 mm) sangat terasa, torsinya besar di putaran bawah dan punya redline rendah. Torsi maksimal sebesar 60 Nm sudah diperoleh di 2.500 rpm!

Pantas saja untuk berkendara harian cukup main di kisaran 1.500 sampai 3.000 rpm. Sampai angka segitu saja dorongan torsinya nikmat banget! Mesin rileks tapi sudah ngacir. Oiya getarannya di putaran 3000 rpm ke atas cukup terasa di setang.

Istimewanya penyaluran tenaganya terasa halus alias enggak mengentak, sehingga menambah rasa nyaman, terutama buat yang suka berkendara santai. Tapi kalau mau ngacir geber saja sampai redline di sekitar 7.400 rpm. Dorongan sampai kena limiter tetap kuat walaupun enggak terlalu cepat.

Catatan waktunya untuk motor 800 cc memang tak terlalu istimewa, misal 0-201 meter 9,3 detik. Sedang 0-100 km/jam 5,9 detik. Maklum namanya juga motor klasik, bukan buat kebut-kebutan. Lengkapnya silakan simak tabel.

Oiya, transmisinya hanya 5 speed. Kendati gigi 5 sangat overdrive (23/27), tapi dengan torsi besar jadi tetap sering terpakai kendati di dalam kota yang padat. Sebagai gambaran 100 km/jam diraih hanya di 3.500 rpm!

Sayangnya karakter engine brake-nya sangat minim. Saat tutup gas ditutup tetap ngeloyor. Efeknya kerja rem jadi cukup berat, tak heran odometer baru 1.300 km disc brake sudah terlihat gosong.

Herannya kendati rasio kompresi hanya 8,4:1, tapi pakai bensin beroktan 92 sering ngelitik, mungkin timing pengapiannya dekat banget TMA. Oiya panas mesinnya cukup tinggi, sangat terasa di area tulang kering, apalagi saat macet-macetan!

Test Ride Kawasaki W800
 

Konsumsi Bensin
Dipakai berkendara di Jakarta dan sekitarnya, jarang main putaran tinggi karena sampai 3.000 rpm pun telah lebih dari cukup. Konsumsi bensinnya lewat pengukuran full to full, didapat rata-rata 18,6 km/liter.

Data Tes:
0-60 km/j: 2,8 detik
0-80 km/j: 4,2 detik
0-100 km/j: 5,9 detik
0-100 m: 6,1 detik (102,4 km/j)
0-201 m: 9,3 detik (127,3 km/j)
0-402 m: 14,4 detik (150,9 km/j)
Konsumsi bensin: 18,6 km/lt

Data Spesifikasi:
Tipe mesin: 4-stroke Vertical Twin berpendingin udara
Rasio kompresi: 8,4:1
Sistem klep: SOHC, 8 klep
Bore x stroke: 77,0 x 83,0 mm
Kapasitas: 773 cc
Sistem bahan bakar: Fuel injection Ø 34 mm x 2 with sub-throttles
Sistem starter: Electric
Pelumasan: Forced lubrication, wet sump
Rem depan: Single 300 mm disc. Caliper: Twinpiston
Rem belakang: Drum, 160 mm
Suspensi depan: 39 mm telescopic fork
Suspensi belakang: Twin shocks. Spring preload: 5-way
Torsi maksimal: 60 Nm/2.500 rpm
Tenaga maksimal: 47,5 dk/6.500 rpm
Transmisi: 5-speed
Kopling: Wet multi-disc, manual
Tipe sasis: Double-cradle, high-tensile steel
Trail: 108 mm
Ban depan: 100/90-19M/C 57H
Ban belakang: 130/80-18M/C 66H
Steering angle L/R: 37° / 37°
P x L x T: 2.190 x 790 x 1.075 mm
Jarak sumbu roda: 1.465 mm
Jarak terendah: 125 mm
Kapasitas tangki: 14 liter
Tinggi jok: 790 mm
Bobot basah: 217 kg

EDITOR

Pilot

Top