Rabu,20 Juli 2016 11:30 WIB

Penulis: otomotifnet

Test Ride Royal Enfield Classic 500, Ungkap Data Lengkap Varian Paling Laris

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Per di jok bikin lebih empuk, makin nyaman deh

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Sokbreker belakang bertabung, redamannya pas

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Rem depan cakram, pakem namun mengurangi nuansa klasik

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Lampu dengan topi, makinn klasik kendati beda dengan Bullet 1951

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Suara klaksonnya stereo, kendati tak terlalu keras namun berwibawa banget

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Spidometernya sederhana ya? dan khas motor zaman baheula, kunci setangnya saja di segitiga bawah

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Kotak segitiga kiri jadi rumah ECU, sekring dan tool kits, sedang kanan untuk filter udara

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Gir dan tutup teromol menyatu di sisi kanan, bagian kiri jadi bersih

  • Foto: Salim/otomotifnet

    RE Classic 500 ini dibekali mesin 1 silinder 499 cc. Konfigurasinya khas mesin zaman baheula, overstroke dengan langkah piston sangat panjang

  • Foto: Salim/otomotifnet

    Desainnya dibikin semirip mungkin Royal Enfield Bullet 350 1951

  • Foto: Salim

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

  • Foto: Salim

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

  • Foto: Salim

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

  • Foto: Salim

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

  • Foto: Salim

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

  • Foto: Salim

    Test Ride Royal Enfield Classic 500

Jakarta - Menurut Didi Fauzi, Marketing and Network Development PT Distributor Motor Indonesia, selaku Royal Enfield (RE) Authorized Dealer, Royal Enfield Classic 500 merupakan varian terlaris. Makanya ketika unit tes tersedia, pertama yang kita culik, model yang ini.

Sesuai namanya, tampangnya memang klasik banget. Bahkan mesin yang diusung pun klasik. “Makanya rasa menaikinya akan sangat khas motor zaman dulu,” terang Didi. Ah jadi penasaran seperti apa sih? Biar enggak penasaran, mari kita kupas secara lengkap! • (otomotifnet.com)

Test Ride Royal Enfield Classic 500
 

Desain
Royal Enfield Classic 500 ternyata reinkarnasi dari RE Bullet 350 1951. Produksi di pabrik RE di Madras, India sejak 2009. Desainnya dibikin semirip mungkin, jelas terlihat dari tangki membulat ala teardrop dengan ornamen di sampingnya, dipadu jok tunggal dengan 2 per sebagai penopang sisi belakang. Motor egois nih, enggak bisa boncengan!

Sasis juga mirip Bullet 1951, dengan tulang utama dari pipa bulat, subframe melengkung dan terpasang dudukan dua sokbreker sebagai penopang lengan ayun. Termasuk juga sepatbor yang membulat dan panjang.

Kesamaan juga terlihat adanya boks segitiga di pojok sasis belakang sekat sokbreker. Sisi kiri sebagai tempat ECU, sekring dan tool kits. Sementara yang kanan ternyata jadi rumah filter udara.

Test Ride Royal Enfield Classic 500
 

Persamaan dengan Bullet 1951 juga terlihat adanya kotak di bawah jok. Sisi kiri sebagai rumah aki, sedang kanan kosong, bisa untuk menyimpan barang kecil. Klasik banget!

Lampu utama pakai topi justru membedakan dengan Bullet, karena ornamen yang bikin makin klasik ini tak dijumpai di versi aslinya. Oh ya, lampunya pakai bohlam H4, yang sayangnya kaca dan reflektornya agak menguning, sinarnya jadi redup.

Fitur & Teknologi
Sebagai motor klasik, wajar jika fitur yang disuguhkan biasa saja. Misal spidometernya masih analog, lalu tak ada takometer dan fuelmeter.

Oh ya info lampu-lampu sangat redup, ketika siang hari enggak terlihat, makanya kadang lupa mematikan sein karena tak terlihat. Kalau malam sih masih terpantau. Oh ya panel saklarnya mirip punya Honda Tiger, kurang terlihat tua pada bagian ini.

Fitur penunjang kenyamanan salah satunya per di jok tunggalnya. Sokbreker belakang pakai buatan Endurance bertabung gas, jadi ingat Bajaj Pulsar ya? Untuk depan pakai teleskopik yang dikasih kondom, sehingga terlihat klasik.

Royal Enfield Classic 500
Spidometernya sederhana ya? dan khas motor zaman baheula, kunci setangnya saja di segitiga bawah

Jika diperhatikan lagi, ternyata ada fitur modern. Apalagi kalau bukan rem depan cakram. Mmmm... mengurangi kesan klasiknya ya? Mungkin demi safety, biar pakem!

Sayangnya tuasnya dari handgrip jauh banget, cuma ujung jari yang bisa menjangkau. Mungkin orang India jarinya panjang-panjang ya?

Dari sisi teknologi mesin, tergolong lawas banget, seperti mekanisme klep masih pakai pushrod. Kendati begitu, demi efisiensi dan menekan emisi gas buang, sudah dibekali sistem injeksi dari Keihin.

Uniknya masih ada tuas cuk di setang kiri, jadi injeksinya belum dibekali auto idle up. Saat pagi hari biar mudah menyala, pilihannya aktifkan cuk atau buka gas sedikit, kalau cuma pencet tombol starter mesin susah hidup.

Riding Position & Handling
Naik RE Classic 500 ini posisi duduknya tergolong sangat santai. Pertama berkat setang yang dijepit di belakang as komstir, sehingga posisinya lebih mendekat ke pengendara kendati sebenarnya tak terlalu tinggi.

Kombinasinya dengan footstep yang posisinya sedang tak terlalu maju atau mundur, hasilnya paha cukup rata dan betis lurus. Santai banget!

Oh ya tinggi joknya yang sayangnya tak tercantum di data spesifikasi, cukup nyaman bagi rider yang punya tinggi sekitar 170 cm, lihat saja Tester OTOMOTIF saat berhenti kaki bisa menapak dengan sempurna.

Bicara handling, kombinasi sasis dengan suspensi depan 35 mm dan sokbreker belakang dengan 5 tingkat setelan preload ternyata sangat nyaman. Stabil banget dan nurut ketika diajak belak-belok, namun tetap empuk ketika melindas jalan rusak atau speed trap, guncangan yang terasa di setang, jok dan footstep terasa minim, racikannya pas! Oh ya per di jok juga menunjang kenyamanan, karena jadi makin empuk.

Test Ride Royal Enfield Classic 500
 

Performa
Konfigurasinya khas mesin zaman baheula, overstroke dengan langkah piston sangat panjang. Lihat saja diameter x stroke 84 x 90 mm. Dengan spek demikian, langsung deh terbaca karakternya, punya torsi badak di putaran bawah dan rpm maksimal enggak bisa tinggi.

Satu lagi yang pasti getaran yang ditimbulkan tergolong besar. Torsinya mencapai 41,3 Nm di 4.000 rpm, sedang tenaga maksimal hanya 27,2 dk di 5.250 rpm. Dikombinasi dengan bobot yang mencapai 187 kg, tak heran jika akselerasinya tergolong lambat, misal mencapai kecepatan 100 km/jam butuh waktu 12,9 detik. Sedang jarak 201 meter 11,7 detik.

Saat berkendara pada gigi 1, 2 dan 3 yang mana punya rasio gigi ringan, kenaikan putaran cukup cepat namun diiringi getaran yang begitu terasa, dan jika gas digeber lebih dalam gampang kena limiter. Sayang enggak ada takometer, jadi tak diketahui mentok di berapa rpm.

Beda kondisi saat masuk gigi 4 apalagi 5, putaran mesin jadi rendah sehingga getaran minim, mesin terasa rileks namun laju tetap kencang. Pada kondisi ini berkendara jadi sangat nikmat. Kalau dilihat di spidometer, paling enak di gigi 5 di kecepatan sekitar 80 km/jam.

Dengan karakter demikian, naik motor ini asyiknya dipakai jalan santai di kondisi lalu lintas lancar. Kalau diajak ngebut kurang cocok. Lagi pula jika dipaksa berkitir di putaran tinggi getaran di tangan sangat terasa, bikin kesemutan. Mungkin bandul setang bisa diperberat.

Oh ya mesin ini berasio kompresi rendah, cuma 8,5:1, pantas panas yang dihasilkan minim, enggak terasa di kaki walaupun sedang macet-macetan.

Konsumsi Bensin
Dengan rasio kompresi 8,5:1, dikasih Pertalite beroktan 90 sudah lebih dari cukup. Dipakai harian di Jakarta dan sekitarnya, konsumsi bensinnya ternyata tergolong cukup irit untuk motor 500 cc, dari hasil pengukuran diperoleh angka rata-rata 24 km per liter.

Harga
RE Classic 500 tersedia dalam 4 pilihan warna, yang dites ini Classic 500 Desert Strom yang dibanderol Rp 90,9 juta. Lalu ada Classic 500 Rp 89,6 juta, Classic 500 Battle Green Rp 90,9 juta dan Classic Chrome Rp 96,8 juta. Semua OTR Jakarta. 

Data Test:
0-60 km/j: 4,6 detik
0-80 km/j: 7,8 detik
0-100 km/j: 12,9 detik
0-100 m: 7,5 detik (@78,3 km/j)
0-201 m: 11,7 detik (@92,7 km/j)
0-402 m: 18,7 detik (@111,5 km/j)
Top speed spidometer: 132 km/j
Top speed Racelogic: 125 km/j
Konsumsi bensin: 24 km/lt

Data Spesifikasi:
Mesin
Tipe: Satu silinder, 4 langkah
Kapasitas: 499 cc
Bore x stroke: 84 x 90 mm
Rasio Kompresi: 8,5:1
Daya Maksimal: 27,2 bhp @5.250 rpm
Torsi Maksimal: 41,3 Nm @4.000 rpm
Sistem Pengapian: Pengapian Digital Elektronik
Kopling: Basah, lebih dari satu pelat
Persneling: 5 percepatan
Pelumasan: Basah
Oli: 15W-50 API SL, JASO MA
Pasokan Bahan Bakar: Injeksi Bahan Bakar Keihin
Filter udara: Elemen Kertas
Starter: Elektrik/Engkol
Sasis
Tipe: downtube tunggal
Suspensi depan: Teleskopis 35 mm, jarak main 130 mm
Suspensi belakang: Dua sokbreker berisi udara, 5 tingkat preload, jarak main 80 mm
Dimensi
Jarak sumbu roda: 1.370 mm
Jarak terendah: 135 mm
P x L x T: 2.160 x 800 x 1.050 mm
Berat kosong: 187 kg (dengan 90% bensin & oli)
Kapasitas Bahan Bakar: 14,5 liter
Rem & ban
Ban depan: 90/90–19 52V
Ban belakang: 110/80–18 58V
Rem depan: Cakram 280 mm, kaliper 2 piston
Rem belakang: Teromol 153 mm
Kelistrikan
Sistem Listrik: 12 volt - DC
Baterai: 12 volt, 14 Ah
Lampu Depan: 60 W/55 W, HALOGEN
Lampu Belakang: 21 W/5 W

PT Distributor Motor Indonesia: 021-71795082

EDITOR

Dimas Pradopo

Top