Jumat,25 Sept 2015 13:00 WIB

Penulis: pewete pewete

Test Ride Vespa S 125 3V ie, Responsif 0-60 km/jam

Foto: OTO-Rian

Test Ride Vespa S 125 3V ie, Responsif 0-60 km/jam


Bedanya, kali ini teknologi mesinnya sudah fuel injection dan 3 valve di kepala silindernya


Jakarta - Hadirnya Primavera 150 3V ie dan Sprint 150 3V ie dipasar Tanah Air membuat model sebelumnya Vespa LX dan Vespa S baik yang mesin 150 cc maupun 125 cc discontinue. Tapi mendadak, bulan Mei lalu, PT Piaggio Indonesia (PI) menghidupkan kembali Vespa S dengan mesin 125 cc.  Bedanya, kali ini teknologi mesinnya sudah fuel injection dan 3 valve di kepala silindernya.

“Piaggio Indonesia ingin memberikan pilihan lain pada masyarakat. Karena mayoritas motor yang dijual kini berkapasitas 150 cc,” ungkap Marco Noto La Diega, Managing Director PT PI. Lalu apa bedanya dengan Vespa 125 versi karburator sebelumnya? Yuk simak jalan-jalan tim OTOMOTIF bersama varian entry level yang dijual Rp 28,5 juta OTR Jakarta!. • (otomotifnet.com)


Desain spidometer sedikit berbeda dari model terdahulu, kini bernuansa krom

DESAIN
Pernah lihat, punya atau bahkan sudah sering berkendara naik Vespa S 150? Jika iya pasti tak akan asing lagi dengan desainnya yang sama persis. Perbedaan hanya pada emblem di bodi sebelah kanan.

Selebihnya hanya pilihan warna, ada dua yaitu celeste procida alias mate blue dan giallo ponza atau mate yellow. “Perbedaan lain ada di spidometer, kalau yang lama dominan hitam sedang yang baru ini dominan krom, selebihnya sama saja,” beber Robby Gozal, PR and Communication Specialist PT PI.

RIDING POSITION DAN HANDLING
Posisi jok tinggi khas Vespa tetap sama saja seperti model terdahulu. Dengan tinggi jok mencapai 785 mm dan permukaan jok yang lebar, rider 170 cm saja masih harus sedikit jinjit. Beda dengan Vespa Sprint, meski tinggi joknya 790 mm, tapi ujung joknya mengecil jadi paha tidak harus terbuka lebar.

Posisi setangnya masih sama, nyaman karena cukup tinggi. Namun sayangnya, untuk pembonceng belum ada penyempurnaan apapun pada pijakan kakinya. Kurang asyik dan pegal untuk jalan jauh karena telapak kaki dipaksa menekuk ke dalam.


Rem depan cakram tapi gak sepakem belakang yang masih teromol

Handlingnya, cukup nyaman di aspal halus dengan kontur rata. Namun ketika menemui jalan rusak, suspensi terasa keras. Menikung di kecepatan tinggi, ban belakang goyang bahkan ketika melewati garis kejut, gejala yang sama juga terjadi. Untuk rem, impresinya lumayan pakem, anehnya yang belakang justru lebih mengigit dari yang depan.

Ups, wajar jika sedang hard braking roda belakang malah kerap terkunci. Kesimpulannya, urusan handling memang lebih enak jalan santai sambil menikmati gaya hidup ala Italian scooter rider, siap-siap menerima banyak pandangan mata!


FITUR DAN TEKNOLOGI

Bagasi lega di bawah jok tetap jadi andalan, lalu ada dua konsol mungil di bawah setang tanpa penutup, bisa untuk menyimpan sarung tangan atau botol minum. Di panel spidometernya, sederhana dengan dua bulatan besar sebagai penunjuk kecepatan dan fuelmeter.

Selain fuelmeter dalam bentuk jarum ada juga lampu yang berkedip saat bensin makin tipis. Ada jam digital, engine check dan indikator oli mesin dalam bentuk lampu. Perubahan paling signifikan bila dibandingkan dengan Vespa S terdahulu adalah mesinnya yang meski hanya 124,5 cc tapi secara performa diklaim tak jauh berbeda.

Tentunya berkat teknologi fuel injection dan konstruksi 3 klep di kepala silindernya. Dua klep masuk dan satu klep buang. Kaki-kakinya tetap mempertahankan single arm di roda depan. Sokbrakernya menggunakan satu buah double-acting hydraulic. Yang belakang mengandalkan sokbraker dengan fitur empat setelan posisi preload. Remnya, depan disc brake sedang yang belakang masih teromol.


Perubahan paling drastis, ada pada mesin yang sudah injeksi dan 3V

PERFORMA
Mesin anyarnya diklaim memiliki tenaga 9,66 dk di 7.750 rpm, torsinya 9.5 Nm pada 6000 rpm. Saat awal gas dibejek, getaran sangat terasa. Maklum, tak seperti Primavera dan Sprint yang sudah minim getaran berkat dual-bracket suspension link. Dari awal, putaran mesin cepat berteriak membawa skutik ini cukup cepat mencapai 60 km/jam, namun langsung lambat menuju ke 80 km/jam.

Jika dilihat data dari Racelogic, gap untuk mencapai 0-60 km/jam ke 0-80 km/jam cukup jauh, 8,2 detik ke 18,2 detik, 10 detik! Data lainnya lihat tabel ya. Karakternya memang cocok buat harian yang macet dan banyak stop and go. Gas dikit langsung ngacir, tapi jangan berharap bisa berlari kencang ya.

KONSUMSI BENSIN
Digunakan sehari-hari, dengan metode pengetesan fuel to fuel dan diambil rata-rata setelah melakukan 3 kali pengetesan. Tester 70 kg mampu mencatatkan 36 km untuk satu liter bahan bakar Pertamax oktan 92.


Riding position nyaman tapi terlalu tinggi untuk rider kurang dari 170 cm

DATA TEST
0-60 km/jam : 8,2 detik
0-80 km/jam : 18,2 detik
0-100 km/jam : -
0-100 meter : 9,1 detik (62,6 km/jam)
0-201 meter : 14,4 detik (75,1 km/jam)
0-402 meter : 23,3 detik (82,9 km/jam)
Top speed spidometer : 110 km/jam
Top speed racelogic : 98,5 km/jam
Konsumsi BBM : 36 km/liter

DATA SPESIFIKASI:

Engine : LEm 3 Valves Single cylinder, 4-Stroke Ignition : Injection Capacity : 124.5 cc Maximum Power : 7.2 kW / 7750 rpm Maximum Torque : 9.5 Nm / 6000 rpm Cooling System : Forced Air Transmission : CVT (Continuous Variable Transmission) Front Suspention : Single arm with helical spring and single double-acting hydraulic shock absorber Rear Suspention : Double-acting shock absorber, adjustable to four position at preloading Front Brake : 200 mm disc brake Rear Brake : 110 mm drum brake Front Tire : Tubeless 110/70-11 Rear Tire : Tubeless 120/70-10 Dimensions (L / W) : 1770 mm / 705 mm Wheel Base : 1.280 mm Seat Height : 785 mm Fuel Capacity : 7 L +/- 0.5 L Emission : Euro 3




EDITOR

Otomotifnet

Top