Selasa,10 Nov 2015 17:00 WIB

Penulis: pewete pewete

Test Ride Zero DS & Zero SR, Akselerasinya Beda Tipis Dari Moge 1.000 cc

Foto: OTO-RIAN

Test Ride Zero DS & Zero SR, Akselerasinya Beda Tipis Dari Moge 1.000 cc


 


Dari diam sampai 60 km/jam mampu dicapai dalam 2,4 detik. Hasil ini hanya terpaut tipis dari moge 1.000 cc!


Jakarta
- Sesi test ride kali ini membuat OTOMOTIF lebih banyak terkejut. Di luar dugaan, dua varian Zero Motorcycle ini bikin tak berhenti berdecak kagum. Makin lengkap, rute tes bukan cuma di dalam kota, tapi juga jalan-jalan sampai ke Puncak, Bogor.

Dari Jakarta menempuh perjalanan pulang-pergi plus berhenti foto-foto, totalnya sekitar 210 km. Penasaran dengan motor yang dipasarkan oleh PT Garansindo Technologies (GT) ini? Yuk ikuti kekaguman kami! • (otomotifnet.com)


DESAIN

Dua tipe yang dites bersamaan ini punya karakter yang berbeda. Zero SR punya tampang streetfighter, makin lengkap kode ‘R’ di belakang S. “Bedanya ada pada spek motor listriknya, ini lebih kencang dan power besar,” buka Firmansyah Siregar, Sales Consultant PT GT.

Bentuknya tak jauh beda dari motor sport naked kebanyakan, tapi desain yang simpel dan tanpa knalpot bikin mata melirik. Berikutnya adalah tipe DS atau Dual Sport, sesuai namanya bisa diajak off road ringan. Modalnya, sudah pakai ban dengan pattern semi tahu dan diameter roda depan lebih besar yaitu 19 inci. Secara desain hanya beda di shroud tangki dan sepatbor depan khas supermoto.



FITUR DAN TEKNOLOGI

Keduanya menggunakan motor listrik tipe brushless dengan kode Z-Force® 75-7R, memiliki radial flux dan magnet permanen di dalamnya. Speknya hi-temp magnet namun hanya berpendingin udara, tenang sistem pendinginannya cepat karena dilengkapi dengan sirip-sirip aluminium untuk melepas panas.

Bedanya, tipe SR punya output power lebih besar, tenaganya diklaim tembus 67 dk di 4.000 rpm dan torsi hingga 144 Nm berkat controller 3-phase 660 amp, sedang DS hanya 54 dk di 4.300 rpm dan torsi 92 Nm karena pakai spek controller 420 amp.  

Sebagai info tambahan, pada motor bensin konvensional, controller ini mirip ECU fungsinya mengatur seberapa banyak daya yang disalurkan ke motor listrik. Canggihnya, controller ini juga mengatur fungsi regenerative system yang menjadikan motor listrik sebagai generator untuk mengisi ulang baterai saat deselerasi atau ketika melakukan pengereman.

Lewat controller ini pula tiga mode berkendara diatur, ada Eco untuk performa biasa saja namun hemat baterai dan memiliki fungsi regenerative system cukup besar. Terasa saat tutup gas, seperti tertahan engine brake dan indikator di spidometer menunjukan bar ‘reg’ meningkat cukup tinggi.

Lalu ada mode Sport dimana tenaga, torsi dan speed yang dikeluarkan paling tinggi tapi regenerative system hampir tidak ada. Yang terakhir adalah mode Custom, semua bisa diatur, mulai dari kekuatan torsi, top speed hingga regenerative saat deselerasi maupun pengereman.

Hebatnya, semua bisa diseting lewat aplikasi di smartphone yang bisa didownload di Play Store atau App Store! Koneksinya via bluetooth. Beralih ke panel indikatornya, full digital tanpa indikator rpm, yang paling besar di tengah adalah spidometer, lalu di samping kiri ada kapasitas baterai. Sebelah kanan ada pilihan mode berkendara. Di bawahnya, torsi, power dan regenerative system ditampilkan secara real time. Tengah bawah isinya odometer dan tripmeter.


Fitur lengkap, bahkan kinerja motor listrik bisa dipantau secara real time


Pilih mode berkendara lewat tombol ini, ada eco, sport dan custom


Seting custom bisa dilakukan lewat aplikasi di smartphone, fiturnya lengkap




Di tangki ada tas untuk bagasi, unik ya



PERFORMA

Saat hendak menyalakan mesinnya, cukup putar kunci kontak ke posisi on, maka lampu merah tanda stand by menyala, posisinya ada di bawah spidometer. Untuk mengaktifkan, tekan engine cut off di panel setang kanan ke bawah. Ya, seperti tidak ada yang berubah, tapi lampu merah tadi akan mati diganti lampu hijau yang artinya saat gas diputar langsung jalan! 

“Harus hati-hati, takutnya enggak sadar sudah ready asal main gas bisa lompat. Dan yang harus diperhatikan, karena tanpa suara banyakin klakson aja, takut ada yang enggak sadar ada Zero melaju kencang dari belakang,” wanti Firman dari kantornya di Jl Kemang Utara, Jaksel.
 
Melaju kencang, masa sih? Awalnya sedikit underestimate, tapi langsung hilang ketika badan ketarik ke belakang saat buka gas mendadak. Wow, di kondisi mode berkendara Eco saja sudah terasa galak, apalagi Sport! Pindah mode dan rasakan sensasinya. “Baru gas sedikit saja sudah 100 km/jam, lari 100 meter saja sudah 150 km/jam nih,” seru tester OTOMOTIF.

Menariknya lagi, akselerasi yang sangat cepat ini bisa dirasakan tanpa perpindahan gigi, karena transmisinya clutchless direct drive dengan final drive pakai belt dari carbon. Mengentak tanpa suara dan tidak ada jeda layaknya transmisi automatic CVT.


Motor listrik ada di kolong, punya banyak sirip aluminium untuk pendinginan

OTOMOTIF juga mencoba melakukan pengetesan akselerasi dengan Racelogic, Zero SR yang odometernya sudah 3.196 km dan dalam kondisi baterai 80% diperoleh akselerasi cukup cepat. Dari diam sampai 60 km/jam, tester dengan bobot 63 kg mampu mencapainya dalam 2,4 detik sedang mencapai 100 km/jam hanya dalam waktu 4,4 detik.

Untuk Zero DS, sedikit lebih lambat sesuai spesifikasi motor listrik dan controller-nya. Hasil ini hanya terpaut tipis dari moge 1.000 cc. Ambil contoh Kawasaki ZX-10R yang pernah dites OTOMOTIF , 0-60 km/jam diraih dalam 2,1 detik, sedang 0-100 km/j hanya 3,7 detik. Wuih, bejaban nih!

RIDING POSITION & HANDLING

Posisi duduknya persis motor sport biasa, cuma agak kagok karena setang sebelah kiri tanpa kopling dan footstep kiri juga kosong enggak ada tuas persneling. Awal pakai, saat deselerasi kaki kiri berasa ingin pindah gigi, mau injak tuas eh gak ada hehe..

Jika Zero SR sedikit menunduk, Zero DS tentunya punya posisi duduk lebih tegak khas motor penjelajah dua alam. Pembeda lainnya adalah, Zero DS punya jok lebih tinggi. Tester dengan tubuh 170 cm saja harus jinjit, bisa sih menapakkan kaki ke tanah, tapi hanya satu saja, yang lain menggantung di footstep.

Handling nyaman dan suspensinya lumayan canggih. Upside down Showa ini diameternya 41 mm dan punya setingan adjustable spring preload, compression dan rebound damping. Yang belakang monoshock dari Showa dengan piggy-back reservoir dan punya fitur setingan sama.

Impresinya, dalam kondisi standar cukup stabil saat menikung, cuma terasa sedikit keras saat bertemu jalan rusak. Sedang Zero DS justru terasa sangat empuk, jalan rusak gak terasa. Satu-satunya yang mengganjal adalah radius putarnya yang lebar, meski bodinya ramping, selap-selip di kemacetan jadi ribet. Khusus Indonesia harus sedikit direvisi nih.


ZERO DS pakai ban pacul, main tanah ringan ayuk aja!

KONSUMSI LISTRIK

Baterai pada kedua motor ini sudah pakai Z-Force® Li-Ion intelligent, kapasitas maksimalnya 12,5 kWh yang memakan waktu 8 jam untuk charging dari kosong sampai 100%. Ambil contoh Zero SR, dari full sampai ke Puncak, Bogor via Sentul dengan jarak 110 km masih tersisa 50%.

Karena takut tekor, charging ulang sampai penuh dan tersisa 45% untuk jarak 100 km dari Puncak kembali ke Jakarta. Kok pulangnya lebih boros? Karena selama perjalanan lebih sering berada di mode Sport, sedang saat berangkat lebih banyak pakai mode Eco.

“Kalau pemakaian normal di mode Eco, baterai 12,5 kWh kondisi full bisa tembus 240 km,” beber Firman sambil mewanti untuk charging cukup colok listrik rumah, syaratnya, daya harus lebih dari 1.300 watt. Charging-nya pun mudah tinggal ambil kabel yang tersimpan di dalam tas di tangki, lalu colokan ke konektor di rangka deltabox-nya.

Berapa biaya yang dikeluarkan? Jika tarif listrik Rp 1.523,43 per kWh berarti biaya yang dibutuhkan sampai baterai penuh hanya Rp 19 ribuan saja untuk menempuh jarak 240 km. Murah ya!


Tidur bareng motor, bukan karena terlalu sayang tapi colokan listrik di penginapan saat turing ke Puncak, Bogor cuma ada di kamar hehe..

DATA TES:
ZERO SR

0-60 km/jam : 2,4 detik
0-80 km/jam : 3,2 detik
0-100 km/jam : 4,4 detik
0-100 m : 5,6 detik
0-201 m : 8,4 detik
0-402 m : 14,9 detik

ZERO DS
0-60 km/jam : 3,3 detik
0-80 km/jam : 4,9 detik
0-100 km/jam : 6,3 detik
0-100 m : 6,4 detik
0-201 m : 9,4 detik
0-402 m : 16,1 detik

DATA SPESIFIKASI:
ZERO SR ZF 12.5
Max torque : 144 Nm Max power : 67 dk Top speed : 164 km/jam (klaim PT GT) Power pack max capacity : 12,5 kWh Est. pack life to 80% : 8,1 jam Charging time 95 % : 1,9 jam Weight : 188 kg Seat height : 80,7 mm Power pack warranty : 5 year / 161.000 km Price : Rp 299 juta (off the road)

ZERO DS ZF 12.5

Max torque : 92 Nm Max power : 54 dk Top speed : 158 km/jam (klaim PT GT) Power pack max capacity : 12,5 kWh Est. pack life to 80% : 8,1 jam Charging time 95 % : 1,9 jam Weight : 187 kg Seat height : 84,3 mm Power pack warranty : 5 year / 161.000 km Price : Rp 279 juta (off the road)









EDITOR

Otomotifnet

Top