Sabtu,30 April 2016 17:30 WIB

Penulis: Otomotifnet

Turing Ride Triumph Thruxton, Smooth Racer

  • Foto: Salim

    Turing Ride Triumph Thruxton

  • Foto: Salim

    Turing Ride Triumph Thruxton

  • Foto: Salim

    Suspensi depan Triumph Thruxton bisa diseting, sesuaikan dengan kondisi jalan aja

  • Foto: Salim

    Setang merunduk, tapi bukan model jepit. Keren ya..

  • Foto: Salim

    Sekilas mirip single seat, padahal covernya masih bisa dilepas untuk boncengan

  • Foto: Salim

    Turing Ride Triumph Thruxton

 

Turing Ride Triumph Thruxton
Turing Ride Triumph Thruxton

Jakarta - Triumph Thruxton Dibangun dari basis yang sama dengan Bonneville, Thruxton menganut beberapa perubahan agar sesuai dengan tema cafe racer. Paling kental desain bodinya, dipasangi cover headlamp, spion bar end dan buntut tawon ala motor balap jadul.

Meski terkesan single seater, Triumph masih memberi kesempatan untuk berboncengan, makanya masih ada footstep belakang. Sedang cover joknya tinggal bongkar pakai kunci L untuk melepas baut di kanan-kiri, setelah terbuka akan terlihat jok tebal yang siap dinaiki.

Riding position juga berubah total meski tinggi jok tetap sama dengan Bonneville, rider 167 cm tidak kesulitan menapakan kaki. Setang pipa besi dipasang terbalik, selain lebih artistik juga agar merunduk.

Turing Ride Triumph Thruxton
 

Posisi footstep-nya juga lebih mundur jika dibandingkan dengan Bonneville. Meski merunduk, karena setang tidak terlalu rendah jadi tidak terlalu pegal untuk jalan jauh. Karakter suspensinya pun tak ubahnya Bonneville.

Cuma bedanya, pada motor yang dijual Rp 365 juta off the road Jakarta ini suspensi depan-belakang sudah dilengkapi dengan adjustable preload. Diajak meliuk dan melewati kemacetan selama perjalanan menuju Pelabuhan Ratu bisa dibilang sangat friendly to use.

Meski mempunyai berat isi 230 kg handling tetap lincah. Namun untuk melewati kemacetan dan belok patah harus bersabar karena radius putar setangnya lebar. Sedang spesifikasi mesinnya tak ubahnya Bonneville.

Karena bentuk knalpot lebih pendek, suaranya sedikit lebih ngebas meski masih halus. Tenaganya tetap smooth dengan power maksimal sedikit lebih besar, Thruxton diklaim punya power satu dk lebih besar ketimbang Bonneville, power maksimal 69 dk di 7400 rpm sedang torsinya Nm 69 pada 5800 rpm. Konsumsi bensinnya 18 km/lt. (otomotifnet.com)

Specification :
Type : Air-cooled, DOHC, parallel-twin, 360º firing interval
Capacity : 865cc
Bore : 90mm
Stroke : 68mm
System : Multipoint sequential electronic fuel injection with SAI
Exhaust : Stainless steel headers, twin chromed silencers.
Final drive : X ring chain
ClutchWet : multi-plate
Gearbox : 5-speed
Oil capacity : 4.5L
Frame : Tubular steel cradle
Swingarm : Twin-sided, tubular steel
Front Wheels : 36-spoke 19 x 2.5in
Rear Wheels : 40-spoke 17 x 3.5in
Front Tyres : 100/90-19
Rear Tyres : 130/80 R17
Front Suspension : Kayaba 41mm forks, 120mm travel
Rear Suspension : Kayaba twin shocks with adjustable preload, 106mm travel
Brakes front : Single 310mm disc, Nissin 2-piston floating caliper
Brakes rear : Single 255mm disc, Nissin 2-piston floating caliper
Length : 2230mm
Width handlebars : 740
Height without mirror : 1100mm
Seat height : 775mm
Wheelbase : 1500mm
Rake : 28º
Trail : 110mm
Tank capacity : 16l
Wet weight : 230 kg

 

EDITOR

Dimas Pradopo

Top